Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Gue tunggu diparkiran."


Ujar Radit, ketika jam pulang sudah datang.


"Pulanglah, aku akan mampir kesatu tempat dulu."


Jawab ku masih membereskan buku.


Radit, menatapku dengan serius. Menelan salipahnya dengan kasar.


"Lo harus pulang dan berganti pakaian terlebih dahulu, baru pergi kemana pun yang Lo mau."


Tuturnya, menarik lenganku dengan paksa.


"Radit, aku tidak ingin pulang dulu."


"Berisik."


Tuturnya marah. Untung saja, Nara dan yang lain sudah pulang lebih dulu. Jadi, mereka tidak akan banyak bertanya perihal aku dan Radit.


"Au. Sakit Radit."


Rengek ku. Membuat Radit berhenti berjalan dan menatapku. Ia seperti hendak marah karena matanya yang sudah melorot. Namun, ketika aku melepaskan lenganku, tiba-tiba netranya menjadi sayu dan meraih lenganku dengan perlahan.


"Kenapa dengan tangan Lo?"


Tanyanya, khawatir. Membuat kita bertemu tatap, namun kemudian ku palingkan wajah dengan kasar.


"Tidak papa."


Jawabku malas.


"Lalu, kenapa penuh dengan balutan kasa?"


"Pengen saja."


"Jawab yang benar, gue sedang bertanya."

__ADS_1


"Bawel banget si jadi orang. Lebih baik sana pulang."


Teriak ku, pergi meninggalkan Radit. Pria yang masih saja tertegun memperhatikan kepergian ku.


Dan dari sudut sana, seseorang tengah menyaksikan perdebatan antara aku dan Radit.


"Punya hubungan apa keduanya?"


Tanyanya, pergi dengan senyum devilnya.


Aku duduk di bangku halte dengan penuh rasa bimbang. Entah kenapa jantungku berdegup dengan cepat, aku begitu khawatir dengan keadaan seseorang.


Setelah bus datang, aku langsung bergegas naik dan pergi menuju tempat yang ingin ku datangi.


.


Di tempat lain, Radit baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuh Alfamart. Ia kemudian membeli beberapa makanan dan minuman. Setelah itu, ia kembali memasuki roda empatnya.


Namu, setelah memarkirkan mobilnya. Ia melihat ka Ell dengan motornya. Karena merasa penasaran, akhir-akhir ini pamannya itu jarang pulang. Akhirnya Radit memusatkan untuk mengikuti ka Ell.


Sampailah ka Ell di sebuah puskesmas. Sebenarnya, Radit sempat bertanya-tanya mengapa ka Ell datang ke tempat seperti ini. Padahal setahu dia ka Ell sama sekali tidak sakit.


"Naya."


Gumamnya tercengang.


Melihat wanita pujaannya berbaju hijau pucat duduk di ranjang, dan menjamu kedatangan ka Ell dengan begitu senang. Radit merasa begitu marah dan benci.


Clek.


Merasa tak tahan melihat keduanya, Radit memutuskan segera masuk dan menghampiri keduanya.


"Jadi. Ini yang kamu sebut berlibur ke Bandung?hah?"


Tutur Radit, merasa di bohongi Naya.


Ya, perempuan sempat mengirim pesan bahwa ia pergi ke rumah neneknya untuk sementara waktu.

__ADS_1


Sontak, itu membuat Naya dan ka Ell terkejut bukan kepalang.


"Radit."


Ucap Naya tak percaya dengan kehadirannya.


"Mengapa harus menyembunyikan semua ini dari gue hah? Mengapa harus berbohong? Dan mengapa harus Ell?"


Tanya Radit, tak tahan.


"Dit, sebaiknya Lo pulang. Keadaan Naya sekarang belum sepenuhnya baik."


Jawab ka Ell, sementara Naya hanya bisa diam tertunduk.


"Gue tidak bicara dengan Lo Ell, jadi lebih baik Lo diam saja."


Emosi Radit semakin meluap. Membuat ka Ell hanya bisa menarik napas.


"Hah. Berbohong hanya untuk mendapatkan kembali cinta yang kamu bilang telah hilang? Memang benar-benar perempuan brengsek."


"Dit."


Bentak ka Ell, menatap keponakannya dengan tajam.


"Radit, bukan seperti itu."


Lirih Naya.


"Hah, gue tidak ingin lagi dibohongi. Percuma saja."


"Radit, ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


Elak Naya, mencoba menjelaskan. Namun Radit sudah tidak lagi perduli.


"Sudahlah, gue tidak lagi perduli. Dan Lo, selamat. Lo kembali mendapatkan perempuan yang Lo cintai bukan? Hah."


Ujar Radit, membuat keduanya saling diam.

__ADS_1


"Sama saja berengseknnya."


Pamit Radit, meninggalkan ruangan itu. Ketika Ka Ell hendak meluapkan amarahnya. Naya segera menahannya.


__ADS_2