Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
Semuanya butuh perjuangan dan kejujuran


__ADS_3

Radit lalu membawa ku ke sofa dan mengobati luka itu.


Meski dia menyebalkan, tapi terkadang dia juga menjelma menjadi sosok yang perduli dan perhatian.


"Biar aku saja yang masak, kamu tunggu di sini."


Ujar Radit, setelah selesai mengobati luka di tangan ku.


"Emm,"


Jawab ku masih ketus.


Dia terkekeh dan beranjak, namun sebelum pergi dia mendekatkan wajahnya pada wajahku membuat aku terkejut bukan main.


"Apa?"


Tanya ku, gugup. Membuatnya terkekeh dan mengacak rambut ku lalu pergi untuk memasak.


"Hah,"


Aku menghembuskan napas lega.


"Manusia datar."


Kesal ku, mengganti channel TV dan menonton di saat Radit sibuk memasak.


.


Di saat Padil dan yang lain memutuskan untuk makan di luar, mereka tiba-tiba membatalkan rencana itu dan lebih memilih berdiam diri di kamar sambil bermain sebuah permainan.


"ck, kalah lagi kan Lo."


Ledek Padil pada Boby.


Buk


Padil memukul lengan Boby dengan botol kosong. Membuatnya meringis kesakitan dan tawa langsung terdengar diantara mereka.


"Satu, dua, tiga."


"Hahah, Lo lagi. Mampus."


Ujar Farel, senang melihat Boby menderita.


Buk

__ADS_1


"Au, dah lah gue nyerah. Sakit anjir, Lo pada enak si dari tadi memang terus. Lah gue kalah mulu."


Pasrah Boby di tertawai yang lain.


"Memang payah dia, kita saja lah yang main."


Tutur Nara, di angguki Padil dan Farel.


"Bukannya payah Lo Na, kamu kan tahu sendiri pacar kamu sedari awal kalah terus."


Jawabnya.


Buk


"Diem deh, berisik."


Ketua Nara melempar Boby dengan botol kosong itu. Membuatnya hanya bisa memasang wajah lesu. Sementara ke dua temannya tertawa lepas dan kembali bermain.


Di saat yang lain bermain, Namara sibuk dengan beberapa kertas di pojok sana sendirian.


Ia lalu melipat satu lembar kertas itu dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop kecil berwarna coklat pekat.


"Lapar bro,"


"Gue juga."


Jawab Boby. Di angguki Nara.


"Hehe, baunya enak nih."


Tutur Padil mencium bau masakan yang di masak Radit. Membuat mereka saling menatap dan tersenyum senang.


"Pas."


Ucap Boby, beranjak menuju keluar. Di susul Padil dan Farel, laku Nara. Namun, ketika mereka berempat telah keluar mereka baru sadar kalau Namara tidak ada diantara mereka.


Jadi, mereka semua kembali lagi ke kamar dan memanggil Namara.


"Ra."


Teriak mereka, membuat Namara terkejut bukan main.


"Ayo,"


Ujar Padil, di angguki yang lain.

__ADS_1


"Kemana?"


Tanyanya polos.


"Makan, ceper deh Ra."


Ketua Nara, membuatnya buru-buru membereskan kertas-kertas itu ke dalam tasnya.


"Heheh iya."


Jawab Namara langsung berlari ke arah mereka.


.


Radit baru saja selesai menghidangkan makanan yang ia masak. Mencium bau enak masakan itu, aku segera duduk di antara hidangan itu dan mencium baunya.


"Emmm."


Gumamku tak henti mencium baunya.


Radit tersenyum dan menghampiri aku sambil membawa semangkuk sup sapi.


"Baunya enakkan."


Ujar Radit, membuatku buru-buru memasang wajah datar.


"Biasa aja kok,"


Jawab ku. Semakin membuat Radit terkekeh.


"Nah."


Tuturnya menyodorkan satu piring yang sudah di isi nasi pada ku.


Saat aku hendak mengambil piring itu, tiba-tiba pintu kamar inap kita terbuka.


Clek


"Heheh,"


Ketujuh temanku berada didepan pintu sambil terkekeh. Aku dan Radit bengong dan menghela napas.


"Yeeee,"


Senang mereka, menyerbu masakan Radit.

__ADS_1


__ADS_2