
Giandra tengah membereskan beberapa barang bawaan di kresek putih yang hendak di bawanya ke ladang.
Aku yang baru saja mengambil kamera di kamar bergegas pergi ke halaman.
"Kamu mau ikut Al?"
Tanya Giandra menatap ku.
"Kemana?"
Jawab ku menuruni tangga rumah untuk menuju halaman.
"Ke ladang. Si mbok juga pergi, kalau kamu tidak ikut di rumah sendirian."
Jelas Giandra.
"Luwih becik teka."
Tutur si mbok yang muncul dari belakang rumah membawa topi caping.
"Hah?"
Tanya ku, menghampiri Giandra.
"Kata si mbok, lebih baik kamu ikut."
Jelasnya membuat si mbok terkekeh.
Ya memang aku tidak terlalu mengerti dengan perkataan-perkataan yang ku dengar di sini. Hanya beberapa kata saja yang dapat ku tahu. Lagi pula sudah lama aku tidak lagi berkunjung ke Yogyakarta dan memang sangat sulit ku pelajari.
"Emm. Alena ikut deh, lagian bosan juga kalau harus sendirian di rumah."
Yakin ku.
Kemudian kita bergegas untuk segera pergi. Takut matahari keburu naik dan membuat perjalanan kita melelahkan.
Disepanjang perjalanan, aku tak henti mengambil foto karena permandangan nya yang begitu indah. Apalagi mengambil foto Giandra, aku tak pernah bosan. Foto si mbok juga jelas ada di sini.
................
"Radit."
Panggil Naya, di koridor sekolah.
Radit yang saat itu hendak pergi ke kantin bersama teman-temannya memilih untuk menghampiri perempuan yang kini hanya mematung di tempat.
"Kalian duluan saja."
Ujar Radit sebelum pergi. ketiga temannya hanya mengangguk dan berlalu.
"Ada apa?"
Tanya Radit setelah tepat berada di hadapan Naya.
"Emm. Ke kantin bareng yah,"
Malu-malu Naya, membuat Radit menahan tawa. Tidak biasanya perempuan ini bertingkah seperti barusan.
"Hah. Yasudah yuk."
"Kenapa? kamu tidak mau?"
Tanya Naya, merasa bahwa Radit malas untuk pergi makan bersamanya.
"Naya sayang. Kenapa juga aku harus tidak mau pergi makan bersama orang yang ku cintai."
Goda Radit, mendekatkan wajahnya pada Naya.
"Ish."
Tersipu Naya, buru-buru merangkul Radit dan pergi ke kantin.
.....................
"Bagus banget An."
Puji ku, melihat hamparan kota Yogyakarta dari atas bukit ladang si mbok.
Giandra hanya tersenyum simpul dan menghampiri ku.
Sementara si mbok entah kemana, mungkin sudah mulai bekerja. Lalu, aku meraih kamera yang digantungkan di leher ku untuk mengabadikan keindahan kota Yogyakarta ini.
"Apa kamu merindukannya?"
Tanya Giandra, membuat senyum ku tiba-tiba buyar. Perlahan ku biarkan kembali kamera itu tergantung.
Kita saling bertemu tatap, angin ikut berontak, awan berarak, dan semesta bersorak.
"Suasana ini?"
Lanjut Giandra.
Aku tersenyum simpul dan kembali menatap luasnya kota ini.
"Itu alasannya mengapa aku kembali ke sini,"
Tutur ku lembut.
__ADS_1
"Aku merindukan semuanya. Terutama kamu An."
Lanjut ku, menatap lekat bola mata coklat pria di samping ku.
Giandra tersenyum. Ikut menikmati suasana hening ini.
"Oh iya. Apa pria yang semalam pacar kamu?"
Tanya Giandra.
"Ah itu, dia emm. Dia bu-bukan pacar aku An."
"Lalu?"
"Haha, dia senior ku."
"Ohhh. Sedekat itu ya?"
"Kenapa?"
"Hanya bertanya. Apa kamu keberatan?"
"Ti-tidak kok."
kikuk ku, di angguki Giandra.
Pria yang memakai baju batik bercorak coklat, dengan sarung senada dan blangko di kepalanya. Kemudian bergegas untuk segera bekerja.
Dan aku, lebih memilih duduk dan tetap menatapi pemandangan ini.
.............
"Radit."
Panggil Naya ketika ke duanya tengah menikmati makan siangnya.
"Emm."
Jawab Radit menatapnya.
"Kapan kamu akan membatalkan pertunangannya?"
Tanya Naya, membuat Radit tersendak.
"Uhuk-uhuk. Kenapa?"
"Aku hanya memastikan bahwa kamu benar-benar mencintai aku."
"Na. Aku harus menunggu waktu yang tepat. Tidak mudah untuk melakukannya, aku tidak mau membuat mamah dan papah terlalu kecewa."
"Aku mengerti. Tapi mau sampai kapan aku harus bersama orang yang statusnya saja tunangan orang lain."
Radit menatapnya dengan sendu. Ia kemudian menggenggam tangan Naya.
"Na. Apa kamu mau menjadi pacar aku?"
Tiba-tiba saja Radit mengucapkan kalimat itu.
............
"Au."
Rengek ku, memegangi jari telunjuk lengan kanan ku yang mengeluarkan banyak darah segar.
"Alena."
Cemas Giandra menghampiri ku.
"Sttt, Au."
"Ya ampun Al. Aku kan sudah bilang untuk tidak melakukannya."
"Lagi pula aku ingin membantu."
"Ini alasan aku melarang kamu. Ceroboh."
"Iya-iya Maaf."
Lesu ku, Giandra lalu membersihkan luka ku. Namun, darahnya terus saja keluar.
Giandra lalu merobek bajunya dan membungkus luka ku dengan robekan kain bajunya.
"Giandra."
Kaget ku.
"Lagi pula baju aku masih banyak Al, dari pada aku kehilangan kamu, lebih baik kehilangan satu baju ku."
Membuat ku, mematung menatap wajah tampannya.
"Hahaha. Baru segitu saja, kamu sudah hilang kendali."
Ledeknya, meninggalkan ku.
Aku tersenyum, tiba-tiba saja aku merasakan kehangatan yang belum pernah aku dapatkan dari siapapun. Termasuk ka Ell sekali pun.
..................
__ADS_1
14.15.
Sekolah sudah sangat sepi. Hanya beberapa siswa saja yang masih berkeliaran di sana. Termasuk kelas TMM satu.
"Win Alena tidak sekolah. Jadi, gue baca teks dengan siapa?"
Tanya Radit, ketika yang lain sibuk berlatih teks.
"Yasudah, Lo latihan sendiri saja. Lagi pula kalau Alena ada juga Lo tidak pernah bener latihannya."
Jawab Wina berlalu.
"Cek. Pedes benar kata-kata tu cewe."
Sinisnya, memilih membaca teks miliknya.
"Nara. Lo baca teks drama atau baca koran si?"
Kesal Farel, karena Nara tidak menghayati teks miliknya.
"Sedang aku usahakan. Lagian susah tahu."
"Ya-ya-ya. Serah Lo deh."
Pasrah farel menyandarkan tubuhnya pada tembok.
Sementara Nara masih mencoba membaca teksnya dengan hati.
...........
"Jauhi Radit. kamu harus tahu diri Na."
Ujar ka Ell pada Naya.
Ke duanya sedang berada di trotoar, depan toko buku yang baru saja Naya kunjungi.
"Apa hak kakak mengatur-atur Naya?"
"Na. Dia sudah bertunangan, kamu tahu itukan?"
"Tapi Radit tidak mencintai Alena. Mereka tidak saling menginginkan."
"Itu karena kamu Na. Karena kamu ada diantara mereka."
Membuat Naya terdiam.
"Terlambat ka. Aku dan Radit sudah jadian."
Ujar Naya dengan nada kemenangan. Dengan emosi ka Ell mencengkeram tangan kanan Naya dengan keras.
"Sakit Ka"
"Na. Apa tidak ada kesempatan lagi untuk hubungan kita? Apa kamu tidak menginginkannya lagi?"
Kecewanya. Tak perduli dengan rengekan Naya yang kesakitan.
"Sakit Ka. Lepasin tangan Naya."
"Lo terlalu egois Na. Lo perempuan tak tahu diri."
Bugh
Tiba-tiba Radit datang dan memukul wajah ka Ell.
"Lo apain pacar gue hah?"
Emosi Radit meluap, menarik Naya pada dekapannya.
"Hah. Brengsek"
Cibirnya pergi meninggalkan ka Ell yang masih mengatur napasnya yang memburu.
..............
"Apa masih sakit?"
Tanya Radit di dalam mobil. Dengan cepat Naya mengangguk
"Radit."
Panggilnya lembut.
Radit yang sedang meniupi lengan Naya yang memerah menatap bola mata pacar tersayangnya.
"Kamu tidak akan ninggalin aku kan?"
Radit tersenyum, dan mengelus rambut Naya.
"Tidak akan. Percayalah."
..............
Aku dan Giandra memiliki pulang lebih dulu. Cuacanya terlalu panas, membuat aku ingin segera mandi dan berdiam diri di dalam kulkas. Hahaha engga deh canda.
Pak De dan si mbok masih berada di ladang. Mereka masih saja bekerja meski mentari begitu membakar kulit.
Salut deh pada ke duanya yang selalu bekerja keras.
__ADS_1
Mereka rela kepanasan demi kebutuhan sehari-hari. Tidak seperti ke dua orang tua ku yang bekerja di dalam ruangan berAC dan gaji besar.