Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Aku dan Radit telah sampai di apartemen, mobil itu terparkir di garasi dengan baik. Aku turun lebih dulu, lalu di susul Radit.


"Biar Gue saja,"


Ujar Radit, ketika aku hendak membawa tas di bagasi. Aku hanya menatapnya dengan heran. Namun Radit langsung mengambil tas ku dan segera masuk ke dalam. Dengan cepat aku menyusulnya meski masih kebingungan dengan sikap baiknya.


Clek


Radit membuka pintu, ka Ell yang sedang menikmati mie di sofa menoleh dan tersenyum.


"Kakak,"


Teriak ku menghampirinya, memeluk tubuhnya dengan erat. Membuat ka Ell tersendat. Sementara Radit dia melongo tak percaya dengan dipenuhi amarah dan cemburu.


"Eh eh eh, ngapain pake peluk peluk segala? Hah?"


Tuturnya melepaskan aku dari ka Ell.


"Hist, lagi temu rindu tahu,"


Jawab ku ketus, sementara ka Ell hanya cengengesan kembali melahap mie nya.


"Lihat, tunangan kamu lagi cemburu tahu,"


Goda ka Ell, ketika Radit hendak menaiki tangga.


"Ck,"


Dengus Radit dengan wajah murkanya.


"Kakak, kemana saja kemarin? Kenapa kakak menghilang? Padahal Alena saat itu lagi berduka."


Tanya ku, ka Ell melahap mie terakhirnya dan menatapku.


"Kakak minta maaf, kemarin ada sedikit masalah. Jadi, kakak tidak bisa tinggal disini."


"Hah, sudah Alena duga. Kakak seharusnya fokus dengan sekolah kakak, bukannya sebentar lagi ada ujian?"


"Iya, kakak tahu."


"Emmm"

__ADS_1


"Sekarang kamu harus tidur, jangan sampai besok kamu kesiangan. Mau kena marah Radit hah?"


"Em, Alena tidur. Kakak juga sebaiknya segera tidur, ini sudah sangat larut."


Nurut beranjak.


"Emm,"


Jawab ka Ell tersenyum. Aku kemudian pergi ke kamar untuk segera merebahkan tubuh mengobati kantuk ku yang sudah mulai datang.


.


Tok tok tok


"Alena,"


"Al,"


"Aaaaaalll,"


Teriak Radit, mengetuki pintu kamar ku dengan begitu keras.


"Anak ini, padahal sudah diperingatkan agar bangun lebih awal."


Clek


Aku membuka pintu dan mendapati Radit yang masih berdiri di depan kamar ku. Ia melongo melihat penampilan ku saat ini. Kaos oblong berwarna hijau, celana jeans kulot, dan sedikit riasan wajah.


Aku nyelonong hendak turun ke lantai bawah, namun melihat Radit yang masih saja diam. Aku kembali berdiri di hadapannya.


"Woy, kenapa si? Tidak mau turun hah?"


Teriak ku melambaikan tangan di depan matanya.


"Ah, i-iya. Gue juga mau turun kok."


Kikuknya, pergi begitu saja. Membuat ku mengekor sambil mengutuki dirinya.


"Sarapan sudah siap,"


Tutur ka Ell, ketika aku dan Radit baru saja menghampiri meja makan.

__ADS_1


"Emmmm, kayaknya enak ni,"


Jawab ku mencium bau masakan ini.


"Pasti dong, yuk makan."


Ajaknya, setelah kita semua duduk.


"Nah,"


Ujar ka Ell menyodorkan piring berisi nasi pada ku. Namun ketika hendak ku raih, Radit dengan cepat meraihnya.


"Heh, itu buat aku tahu bukan buat kamu,"


"Terus?"


Jawab Radit ketus, membuat ka Ell tersenyum. Melihat wajah ku yang berubah jadi kusut, Radit mengambil piring dan mengisinya dengan nasi lalu memberikannya pada ku.


"Nah, buat Lo."


Tuturnya melorotkan mata pada ku.


"Memang bener cumi, ngeselin banget si,"


Ketusku mulai makan.


Di tengah-tengah di saat kita sedang asyik makan. Tiba-tiba ka Ell mendapat telpon dan pergi dari meja makan. Hanya jawaban ka Ell yang samar kita dengar, entah siapa yang meneleponnya sepagi ini.


Tak lama, ka Ell kembali ke meja makan dengan wajahnya yang berseri.


"Siapa?"


Tanya ku penasaran.


"Naya,"


Jawab ka Ell santai. Membuat Radit terdiam.


"Oh iya, kenapa Alena sangat jarang melihat dia di sekolah? Apa dia masih sakit?"


Tanya ku, semakin penasaran. Ka Ell terdiam, melirik Radit sesaat lalu menarik napas.

__ADS_1


"Naya. Dia sudah pindah ke Bandung bersama kakaknya."


Jawab ka Ell membuat Radit menatapnya tak percaya, dan mereka bertatapan dengan raut wajah yang sepertinya......Ah jangan sampai mereka kembali berkelahi


__ADS_2