
Ka Ell membawa Naya pergi dari pemakaman Dika menuju sebuah tempat yang begitu indah. Sebuah kebun ilalang yang mempu memperlihatkan keindahan kota Bandung.
Wajah Naya berseri, tersenyum dengan genangan air mata. Ia tahu, bahwa yang pergi Takan mungkin kembali dengan wujud yang sama. Maka Tuhan akan menggantikannya dalam wujud yang berbeda.
"Makasih kak,"
Lirihnya,
Ka Ell yang berdiri tepat dibelakang Naya hanya bisa terdiam. Suara parau perempuan di hadapannya tak mampu membuatnya menjadi pria tegar lagi.
"Hik-hik-hik."
Isak Naya kembali pecah. Maka dengan perlahan, ka Ell memeluk tubuhnya. Ia tahu bahwa luka tidak akan mampu di sembuhkan dengan begitu cepat.
"Na, kamu tahu. Tuhan mungkin mengambil orang yang kamu sayang, tapi kamu harus paham, bahwa tidak semua yang pergi benar-benar menghilang."
Ujar ka Ell, membuat tangis Naya perlahan mereda. Mereka saling menatap.
Perlahan, ka Ell meraih tangan kanan Naya dan meletakkannya di dada kiri perempuan itu.
"Ia akan tetap hidup di sini Na. Meski kamu tidak melihat wujudnya secara nyata, tapi dengan cinta semua yang mati akan terasa hidup."
Tambahnya, membuat Naya semakin paham. Ia mengangguk, tersenyum dan kembali memeluk ka Ell.
.
Aku yang sedang menikmati roti bakar di balkon tiba-tiba mendengar suara Radit yang terus-menerus memanggil namaku.
"Hist, apa si Dit? ganggu ketenangan aku aja."
Malas ku, menghampirinya.
__ADS_1
"Apa?"
Teriak ku lagi, berdiri di dekat pintu WC.
"Aku lupa bawa handuk, tolong ambilin dong."
Jawabnya. Aku berjalan malas mengambil handuk.
"Nah,"
Tuturku menjulurkan handuk ke arah pintu WC sambil membuang wajah.
"Makasih,"
Jawabnya, meraih handuk itu. Aku langsung bergegas duduk di sofa dan menyalakan TV. Tiba-tiba Radit keluar dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi bawah pusar hingga atas dengkulnya. Membuatku melongo.
"Woy, gila kali."
"Kenapa?"
Tanya Radit dengan wajah polos.
"Kamu lupa satu kamar dengan seorang perempuan hah? please deh badan kamu keliatan."
Kesal ku.
"Ck, lebay banget si. Orang ketutup juga."
Ujar Radit tak menghiraukan aku. Mendengarnya berkata seperti itu, perlahan aku melepaskan tangan ku dari wajah dan membuka mata.
Melihat Radit yang sedang mengenakan kaos creamnya membuatku gagal fokus dengan lipatan di perutnya.
__ADS_1
"Waw,"
Pujiku yang masih dapat di dengar Radit.
Ia tersenyum, dan hendak memakai celana di sana. Dengan cepat aku melemparkan bantal sofa padanya.
"Ngapain pake celana di sana? Hah? Gila emang, sana pake di WC. Curut banget si."
Teriak ku, membuat Radit terkekeh dan buru-buru pergi ke WC. Sementara aku masih mendumel kesal menyumpahi dirinya.
.
Nara, dan yang lain sedang bermain pasir. Sebenarnya mereka juga sempat mengajak ku, tapi melihat cuaca yang begitu panas aku mengurungkan niat untuk keluar. Dan Radit, dia juga malah ikut-ikutan tetap berada di sini. Benar-benar menyebalkan.
"Ra, buat Lo,"
Ujar Padil memberikan sebotol minuman dingin pada Namara. Melihat itu, Nara dan yang lain hanya bisa memasang wajah malas.
"Ck, cuma Namara yang Lo beli'in hah? Lupa sih kalau sama temen sendiri."
Teriak Boby yang sedang duduk dengan Farel dan Nara.
"Hah, beruntung banget si kamu Ra. Punya cowo yang perhatian."
Sahut Nara dengan wajahnya yang memelas.
"Tenang Na, gue bakalan lebih pengertian dari Padil kok."
Jawab Boby, Membuat Farel menggidik ngeri.
"Najis,"
__ADS_1
Tutur Nara, membuat Boby menarik napas. Sementara Padil dan Namara hanya cengengesan sambil duduk menikmati air laut yang di bawa ombak menyentuh kaki mereka.