
Sesampainya di kelas. Aku membanting tas ku di atas meja, entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa marah karena kejadian tadi. Padahal apa urusannya toh aku saja tidak perduli tentang apapun yang bersangkutan dengan Radit. Sebelumnya, tapi untuk belakang ini aku malah sedikit masuk dan ahhhh tahu lah.
Nara dan Boby saling pandang melihat aku yang duduk dan menyandarkan tubuh pada kursi dengan wajah tak sedap di pandang.
"Kamu kenapa Al?."
Tanya Nara mendekat.
Tak ku hiraukan, aku masih diam dengan tatapan lurus ke depan.
"Lo sehat?."
Tanya Boby, ikut mendekat. Aku masih tak berdecak.
"Aaaaall."
Panggil Nara menggunjing tubuh ku.
"Al Lo tidak kemasukan setan kan?"
"Bedebah. Kamu pikir aku rumah setan hah?"
Ujar ku semakin emosi.
"Habis di tanya malah diem mulu Lo, kayak orang bisu."
Ledek nya.
Buk
Aku memukul pundak Boby dengan keras.
"Berisik. Pergi kamu, pergi."
Usir ku sambil terus memukulinya. Boby berlari ke luar kelas dan hampir bertabrakan dengan Radit.
"Kenapa Lo?."
Tanya Radit pada Boby yang saat ini sedang bersembunyi di balik tubuhnya.
"Hahah, Tuh si Alena marah-marah tidak jelas. Kayak orang kemasukan setan."
Blug
Aku melemparkan sepatu ke arahnya, namun Radit dengan santai menangkapnya. Membuat ku semakin ingin marah saja.
"Al tenang. Kamu kenapa? Jangan marah-marah."
Tutur Nara menenangkan. Sambil mengelus-elus pundak ku.
.............
Jam istirahat tengah berlangsung, aku dan Nara sedang makan bakso di bangku dekat pagar kantin.
Karena dari sini, aku bisa melihat para siswa laki-laki yang sedang bermain voli.
"Siang Al."
Sapa ka Dava, duduk di sampingku dengan membawa nampan berisi makanan yang sudah ia pesan.
"Emm."
Jawab ku, mengalihkan pandangan padanya.
Nara hanya diam dan melirik ku sesaat lalu kembali makan.
Saat sedang memakan bakso yang sudah hampir dingin. Tiba-tiba ka Dava menyodorkan omelette pada ku.
Aku menatapnya dengan penuh tanya, tapi ka Dava hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.
"Terimakasih."
Tutur ku, canggung. Ka Dava kembali tersenyum dan mengacak rambut ku.
Brak.
Radit memukul meja kantin dengan keras. Ia duduk di pojok dekat kulkas bersama teman-temannya.
"Lo kenapa dit?"
Tanya Padil, merasa kaget dengan gebrakan yang dilakukan Radit. Boby dan farel hanya menatap wajah Radit yang kini tengah memperhatikan ku.
Lalu, Padil melirik kearah mata Radit menuju.
"Wah-wah. Senior itu memang kurang ajar, berani-beraninya deketin gebetan gue mulu."
Tutur Padil, kemudian beranjak. Membuat ke tiga temannya menatap kepergian dia dengan melongo.
__ADS_1
"Permisi ka."
Ujar Padil setelah sampai di meja ku. Aku meliriknya sambil terus makan.
Ka Dava dan Nara pun melakukan hal yang serupa.
"Emm kalau boleh tahu, kakak ini pamannya Alena atau kakak tirinya ya? Soalnya dari kemarin saya lihat-lihat kakak terus saja ngintilin gebetan saya."
Tambah Padil.
"Uhuk-uhuk."
Aku tersendat.
Dan Nara dia hanya melongo, memperhatikan ke tiga manusia disekelilingnya.
"Apa pentingnya status saya dengan Alena untuk anda? Ingat ya, Lo masih belum resmi menjadi pacarnya. Jadi gue masih berhak untuk dekat dengan Alena. Paham."
Jawab ka Dava sambil berdiri menatap Padil dengan tajam, membuat tubuh Padil menjauh karena ketakutan. Ya wajahnya memperlihatkan kekhawatiran yang sangat jelas.
Dari jauh. Radit dan ke dua temannya sudah bersiap untuk Menghampiri meja ku. Takut akan terjadi perkelahian.
"Kakak pergi."
Pamitnya, Mengacak rambut ku. ka Dava menatap Padil sesaat lalu berlalu meninggalkan area kantin.
Bug
Radit menendang kaki meja, yang sontak membuat Boby dan farel menatapnya keheranan.
Lalu, Radit memilih untuk pergi meninggalkan kantin. Tapi, Boby dan farel lebih tertarik mendatangi ku.
"Hah "
Hembusan napas Padil, duduk di samping Nara.
"Yaelah so laki banget si kamu, tahunya mental tempe."
Ledek Nara membuat ku terkekeh.
"Tahu sendirilah, dia senior kita. Mana tubuhnya suspek banget lagi, berotot."
Belanya.
"Jadi, bagaimana Alena. Lo mau tidak jadi pacar teman kita ini?."
Tutur Boby yang baru datang dan merangkul Padil dengan satu lengannya.
Tambah farel.
Aku berhenti makan dan menatap mereka bergantian.
"Kamu serius Dil?"
Tegas ku menatapnya.
"Emmm."
Jawab Padil mengangguk dengan yakin.
Sesaat aku menatap Nara, berusaha bertanya untuk jawaban yang layak aku katakan. Tapi, Nara hanya mengangkat kedua bahunya.
" kamu beneran serius dan benar-benar mencintai aku?"
"Iya Al, sejak lama."
"Sudahlah Lo terima saja."
ucap Boby.
"Benar. Lagi pula Padil tidak terlalu buruk kok. Benar kan bro?."
Yakin farel di angguki Boby.
Padil hanya menatap ku dengan tatapan serius.
Dari jauh, Radit memperhatikan kita. ke dua lengan yang di lipat di depan dada, dan jemari-jemari nya yang menari di atas lengan nya sendiri.
"Terima Al."
"Lo hanya perlu berkata iya."
"Ayo Al terima."
"Terima."
"Terima."
__ADS_1
"Terima."
"Berisik deh kalian. Ganggu orang makan saja."
Ketus Nara. Membuat ke tiga pria itu mendelik.
"Kalau Lo terganggu sana pergi."
Usir Farel, di balas bibir monyong Nara.
"Alena tidak akan menerima cinta siapa pun. Dia sudah memiliki seseorang."
Tiba-tiba saja Radit muncul di belakang ku. Aku meliriknya lalu memasang wajah malas.
"Kamu serius Al?."
Tanya Padil kecewa.
"Ahhh. Em-emm. A-aku."
"Maaf Dil."
Jawab ku. Membuatnya menunduk lesu.
"Sabar sob, cinta memang butuh pengorbanan."
Ujar Boby. menenangkan temannya.
...................
Sepulang sekolah, aku dan Nara tidak langsung ke rumah. Kita memutuskan untuk pergi ke suatu tempat dan menghabiskan waktu berdua.
"Na."
Panggil ku. Ketika kita sedang duduk beristirahat setelah lama bermain di taman.
"Emm."
Jawabnya melahap eskrim di lengannya.
"Lusa aku mungkin tidak akan sekolah."
Ujar ku, membuat kita bertemu tatap.
"Kenapa?"
"Apa karena kamu merasa bersalah pada Padil?."
"Hah, tidak. Bukan karena itu kok."
Elak ku, karena memang begitu kebenarannya.
"Lalu?"
"Aku mau ke Yogyakarta untuk berlibur."
"What, jadi gak mau ajak aku ni?"
Manjanya pada ku.
"Bukannya tidak mau. Tapi, aku juga hanya pergi untuk dua tiga hari. Lagi pula sebentar lagi akan ada uzian, ibu kamu pasti tidak akan mengizinkan kamu ikut."
"Benar juag. Yasudahlah, tapi awas ya jangan lupa oleh-oleh buat aku."
Celotehnya membuat ku menarik napas dan melahap eskrim milik Nara.
"Alena."
Teriaknya, dengan cepat aku berlari meninggalkan Nara yang kemudian menyusul ku dengan penuh amarah.
...........
19.35
Aku sudah sampai di apartemen. setelah membuka sepatu, aku langsung pergi ke arah kamar.
"Mampir kemana Lo jam segini baru pulang?"
Tiba-tiba saja, Radit mencegat ku. Ia berdiri didepan ku dengan ke dua lengan di dalam saku celana.
Merasa tidak ada yang perlu aku katakan, jadi aku lebih memilih untuk pergi. Namun jalan terhalang tubuhnya yang tinggi dan besar.
"Gue nanya, tidak sopan kalau Lo malah pergi."
Tambahnya, membuat ku menarik napas dan mendoak untuk menatapnya.
"Mau aku pulang jam berapa dan kemana dulu, itu bukan urusan kamu. Paham."
__ADS_1
Jawab ku ketus. Mendorong tubuh Radit agar jalan terbuka untuk ku.
Radit hanya diam memperhatikan ku. Sementara ka Ell yang sejak tadi sedang memasak menyaksikan semua itu dan tidak mengucapkan satu kata pun. Ia hanya sibuk sebagai penonton.