
Radit, Radit. Kau memang pria tak berhati. Sungguh, mengapa Tuhan menciptakan mu, apa paedahnya? Hanya membuat masalah dalam hidup ku saja.
"Apa kamu baik-baik saja?."
Tanya Nara menyusul ku. Aku mengangguk dan memalingkan wajah dari Radit.
"Ayo pulang."
Ajak Radit pada wanita cantik dan lembut itu.
Radit lalu beranjak, gadis itu pun tersenyum pada ku dan Nara. Lalu mengekor pada Radit.
"Siapa gadis itu?."
Tanya ku pada Nara.
"Dia Naya, gadis cantik teman sedari kecil Radit."
Jawabnya sambil memberikan tas ku yang tadi tertinggal.
"Hah? Kenapa dia mau berteman sama Radit? Menyeramkan."
Ledek ku padanya dan mulai berjalan menyusuri koridor. Dan Nara, dia hanya mengekor.
"Sudahlah itu urusan mereka."
Datar Nara membuat ku semakin kesal.
.
Parkiran
"Alena."
Teriak seseorang ketika aku berjalan melewati area parkiran sekolah.
"Duh ka Dava. Ngapain si?."
Malas ku memalingkan pandangan ketika pria itu berlari kearah aku dan Nara.
"Jadikan pulang bareng?."
Tanyanya, membuat Nara menatap ku dengan mengangkat ke dua alisnya.
"Hehe. Sepertinya hari ini Alena pulang bareng Nara ka."
Kikuk ku.
"Tapi Al, aku pulang ke rumah nenek. Jadi tidak satu arah."
Bedebah, Napa juga kau bilang kek gitu lah Nara. Tak tahu kentut bau saja.
Aku menyikunya, membuat ka Dava memandang ku dengan heran.
"Jadikan?."
__ADS_1
Tanyanya lagi yang dengan pasrah aku angguki.
"Yasudah aku duluan. Dadah."
Pamit Nara pada kita. Ka Dava lalu menarik lengan ku menuju mobil miliknya.
Aku menurut tidak menolak, apa lagi yang bisa ku jadikan alsan, hah Nara, Nara.
Saat hendak masuk, netra ku sesaat melihat mobil Radit melaju di depan mobil ka Dava yang masih terparkir rapi.
'Semoga dia tidak lihat.'
Batin ku penuh harap.
"Alena ayo."
Ujar ka Dava menyadarkan ku, dengan cengengesan aku segera masuk dan memasangkan sabuk pengaman.
Dengan segera, ka Dava melajukan mobil silver nya meninggalkan area sekolah.
"Mau mampir kemana dulu Al?."
Tanyanya ketika kita sudah hampir setengah jalan.
"Langsung pulang saja ka, mamah suka marah kalau Alena pulang telat."
Jawab ku, diangguki pria itu.
"Duh ka Ell pulang bareng siapa ya?."
"Kenapa Al?."
"Hehe, tidak ka."
"Emmm."
Membosankan, harusnya aku pulang bareng pangeran kodok. Ahhhhh ka Ell bantu Alena.
"Kamu cantik Al."
"Mamah juga sering bilang gitu ka."
"Tapi kakak ngomongnya beneran loh."
"Emangnya mamah Alena bohong ka?."
"Ya tidak juga Al."
Kikuk ka Ell sedikit mengernyit.
'Udah cantik, pinter. Sayangnya polos banget.'
Batin ka Dava menggelengkan kepalanya.
"Kakak kenapa?."
__ADS_1
"Tidak papa, Oh iya rumah kamu belok kanan apa kiri?."
"Kiri ka."
"Baiklah."
.
Sementara, Nara yang saat itu tidak dijemput oleh supirnya segera pergi menuju halte. Namun, ketika sedang menyusuri trotoar, tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat disampingnya.
"Mau pulang bareng?"
Tanyanya, membuat Nara mengernyitkan dahi.
Lalu, pria itu membuka kaca helmnya dan tersenyum. Membuat Nara menghembuskan napasnya karena merasa sedikit kesal. Dia kira siapa.
"Tidak usah, lagu pula aku akan mampir dulu ke suatu tempat."
Jawab Nara.
"Baiklah, gue duluan."
Pamit Boby pada Nara.
"Emmm."
Jawab Nara cepat, mengangguki perkataan Boby.
.
Ka Ell
Pria itu baru saja memarkirkan motornya di halaman rumah tantenya. Setelah melepaskan helm, netranya mengamati seseorang yang sedang berada di dalam rumah karena pintu terbuka lebar.
"Naya."
Gumamnya, cepat masuk ke dalam.
Ketika ka Ell masuk, tiba-tiba keadaan menjadi hening. Padahal tadi terlihat asyik. Radit lalu menutup laptopnya. Dan Naya gadis itu tertunduk.
"Sedang apa kalian?."
Tanya ka Ell pada keduanya.
Bukannya menjawab Radit malah mengupas jeruk.
"Kita sedang melihat-lihat foto pas masih kecil ka."
Jawab Naya lembut, karena merasa kasihan di acuhkan sepupunya.
"Emm. Duduklah dengan jarak yang lebih jauh, Jangan terlalu rapat seperti itu."
Ketus ka Ell pergi ke lantai atas.
Dengan kesal Radit membuang biji jeruk itu langsung dari mulutnya ke sembarang tempat.
__ADS_1
Sementara Naya bergeser mengingat apa yang ka Ell bilang.