Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Pagi telah tiba. Aku dan yang lain memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke kota Yogyakarta. Ya semacam tempat makan dan wisata. Tidak untuk tugas, karena guru kami hanya menyusuruh untuk mengambil foto di tempat yang masih jarang di ketahui orang mengenai keindahannya. Jadi, ya jelas kami pergi hanya untuk bersenang-senang. Mengingat tiga hari lagi kita berada disini dan tugas telah selesai.


Sesampainya di tempat makan. Mereka semua langsung bergegas berbaris untuk memesan, begitupun aku.


"Boby, mundur sana. Kamu kan cowo, harusnya biarin kita dulu para cewe yang mengantri. Benar gak Ra?"


Ujar Nara, karena kesal melihat Boby, dan Padil yang mengantri lebih dulu.


"Emm, bener kamu Na."


Jawab Namara setuju.


"Ck, salah sendiri lemot. Ya terima saja nasib. Wle."


Tutur Boby, memberikan wajah meledek pada Nara yang berada tepat dibelakangnya.


"Hist, rese banget si jadi cowo. bedebah loh."


Ketus Nara.


"Namara, Lo boleh tuker tempat sama gue. Biar gak pegel."


Ujar Padil bergeser. Membuat aku dan yang lain melongo, begitupun Namara dia mematung tak berdecak.


'Benar-benar persis seperti Namara yang ku kenal.'


Batin ku, saat ia dan Padil bertukar tempat. Membuat farel dan Boby menyurakinya dengan keras.


Aku mengantri paling belakang, setelah mereka semua duduk tinggal aku yang mengambil makanan.

__ADS_1



Kemudian aku segera bergegas untuk duduk bersama yang lain.


Saat aku hendak duduk di samping Nara, Radit segera menarik lengan ku agar duduk di sampingnya, ya mau tidak mau aku menurut saja.


.


Naya sudah berada di sebuah ruangan yang di jadikan sebagai ruang tes untuk sebuah beasiswa.


Tak lama, seorang perempuan juga masuk ke dalam ruangan itu. Membuat keduanya saling bertatapan.


"Naya,"


Ujar Nabil, merasa tak percaya teman barunya berada disini.


"Kamu ikut tes ini?"


"Emm,"


Jawab Naya dengan wajah gelisah. Dan Nabil, dia hanya tersenyum paksa dan duduk tepat di samping Naya. Membuat keduanya saling diam dan canggung.


.


Setelah makan, kami langsung bergegas pergi ke sebuah tempat untuk kembali melanjutkan liburan kami. Tempat yang kami tuju adalah Bukit Paralayang Watugupit, di sini kita bisa menginap untuk menyaksikan keindahan sunset dengan ombak laut yang begitu indah.


kami berangkat menggunakan bis, dan seperti yang tidak kalian sangka. Aku kembali duduk bersama Radit. Padil dan Namara, Boby dan Nara. sementara Farel, dia seperti biasa dengan barang bawaan. Menyedihkan bukan? hahaha


Di perjalanan, trik mentari membuat kami banjir keringat. Tak tahan rasanya berada di dalam sini, namun demi sebuah tempat impian apalah daya ku tetap menatap panasnya di dalam bis.

__ADS_1


"Lo berkeringat Ra."


Ujar Padil yang dapat kami dengar. Dengan tatapannya yang sayu, dia melap keringat Namara dengan begitu lembut. Membuat perempuan itu tersipu.


"Yeee, berasa naik bis berdua kali. Pake mesra-mesraan segala."


Sahut Nara merasa iri.


"Ck, bilang saja irikan Lo. Mangkanya punya gebetan dong, biar diperhaiin."


Ledek Padil, membuat kita semua terkekeh. Aku tertawa sambil mengusap keringat yang ada di dahiku.


"Sini, biar gue lap juga kering Lo."


Ujar Boby, dengan cepat melap keringat Nara dengan tissue.


"Ist apaan si, diem deh."


Malas Nara merajuk. Membuat yang lain hanya terkekeh dan kembali hening.


.


14.00


Saat sedang fokus mengerjakan ujian dan hanya tinggal 5 soal lagi Naya kerjakan. Tiba-tiba seorang guru masuk dan meminta Naya untuk segera ikut bersamanya dan menyudahi tes. Membuat gemuruh di dada Naya begitu hebat. Namun, meski masih diselimuti kebingungan, Naya tetap menurut dan segera membereskan ballpoint dan tasnya. Sebelum keluar ia menyimpan kertas ujian dan lembar jawaban pada pengawas. Dari bangkunya Nabil ikut merasa cemas dan kebingungan, ia menatap kepergian Naya dengan keheranan.


.


17.15

__ADS_1


Kami masih berada di perjalanan dengan bis yang sama. Karena sudah hampir beberapa jam berada di dalam sini membuat aku mengantuk. Dengan perlahan aku tertidur, melihat itu Radit buru-buru meraih kepalaku dan menyimpannya pada pundaknya.


Ia perlahan membenarkan rambut yang tergerai menutupi wajah ku. Senyum manisnya terlihat indah di wajah tampan Radit. Tapi sayang, tidak ada yang melihat itu karena yang lain juga telah tertidur.


__ADS_2