
"Al, Lo bisa cepat tidak si? Bukan siput tapi lelet banget."
Teriak Radit dengan wajah penuh amarah. Sementara aku hanya menghampirinya dengan wajah tanpa bersalah.
"Duduk di depan !."
Titahnya, ketika aku hendak membuka pintu mobil belakang. Membuat ku menatapnya dengan heran.
"El tidak ada, jadi apa salahnya lo duduk di depan."
Ujarnya lagi mencoba menjelaskan. Aku hanya mengangguk menahan tawa melihat tingkahnya hari ini.
"Al, Lo mau sekolah tidak si. Bukannya segera naik malah senyum-senyum tidak jelas,"
Ujarnya sudah siap menyetir.
"Iya-iya, bawel banget si punya mulut."
Jawab ku, angkuh.
Radit hanya melirik ku sesaat dan mulai menyetir. Di setiap perjalanan, kita hanya saling diam. Entah tidak ada yang berani memulai pembicaraan atau memang kita sama-sama tidak punya topik pembicaraan. Entahlah.
"Lah. Kok aku gak diturunin di tempat biasa si?"
Tanya ku sedikit heran, menatap wajah Radit yang datar dan sepertinya dia tidak berniat membalas perkataan ku. Aku mendengus kesal, sementara tanpa aku sadari Radit terkekeh melihat tingkah ku.
Setelah sampai di parkiran sekolah, aku memperhatikan sekeliling area parkiran dari dalam mobil.
"Lo kenapa si? mau nyolong motor hah?"
Ujar Radit. Yang langsung ku balas dengan sorot mata tajam.
"Eh, bukannya kamu tidak mau ada yang kuat kita barengan hah? So jadi pelupa banget si."
Balas ku, membuka pintu dan meninggalkan Radit yang masih melongo memperhatikan ku.
"Al."
Teriak ka Dava, ketika aku hendak menaiki tangga.
__ADS_1
"Kakak,"
Jawab ku setelah tahu bahwa ka Dava datang dari arah yang sama.
"Pagi Al,"
Sapanya, membuat ku tersenyum.
"Pagi ka."
"Kami sudah makan?"
Tanya ka Dava membenarkan tasnya yang hanya ia Gending dengan satu tangan.
"Belum, kalau kakak?"
"Kebetulan, kita langsung ke kantin saja untuk sarapan."
"Boleh ka."
Jawab ku setuju.
"Kenapa semakin dekat?"
Heran Radit tak di hiraukan. Ia lebih memilih meraih handphone di saku celananya.
"Kenapa handphone Naya tidak aktif dari kemarin."
Tanya Radit, memalingkan wajahnya ke luar kaca mobil dan segera memutuskan untuk pergi.
.
Lima menit lagi jam istirahat tengah datang. Aku yang masih sibuk mengerjakan tugas matematika karena guru yang bersangkutan tidak dapat ke sekolah. Dan Nara, dia masih saja sibuk baca sedari pagi tadi. Ah, membosankan.
"Dit, Lo mau kemana?"
Tanya Padil sedikit berteriak, melihat temannya beranjak dari bangkunya.
"Mencari Naya."
__ADS_1
Jawabnya angkuh. Membuat ku melirik kearahnya.
"Al, cari makan yuk!"
Ajak Nara membuyarkan lamunan ku.
"Hah?"
Kikuk ku, mendapat lorotan mata sahabat ku.
"Cari makan. Aku lapar Na."
Manjanya, menarik lengan ku.
"Iya-iya. Sabar dong."
"Habis kamu lelet deh,"
"Hist."
Dengus ku, menoyor kepalanya dan meninggalkan Nara.
.
"Tidak sekolah? Kemana dia? Kenapa tidak memberiku kabar?"
Ujar Radit keheranan karena tidak bisa menemukan pacarnya di kelas.
"Dit,"
Panggil Farel yang sedang berjalan kearahnya bersama dua temannya.
"Kenapa lo? Tumben banget wajah lo kusut gini,"
Tanya boby, ketika ketiganya sudah berada tepat di hadapan radit.
"Naya. Dia tidak sekolah, bahkan tidak memberi gue pesan."
Jawabnya cemas. Membuat ke tiga temannya merasa kasihan.
__ADS_1
Ya. Radit memberitahukan hubungannya dengan Naya pada teman-temannya, karena mereka selalu memaksa Radit memberitahu mereka.