
"Sebaiknya kita pulang sekarang."
Ujar Radit beranjak, di ikuti Naya yang masih berbunga-bunga. Namun ia sembunyikan itu semua Radit.
.
Aku.
Sampai ke apartemen dengan waktu lebih cepat.
"Kakak. Sudah pulang?."
Tanya ku, mendapati ka Ell yang sudah berada di dapur tengah memasak mie instan.
"Emm. Kelas dua belas pulang lebih awal."
Jawabnya, menuangkan mie pada mangkuk.
"Pantas saja."
"Memangnya kenapa?."
"Tidak ada."
"Oh iya, dimana Radit?."
Tanya ka Ell sambil duduk di samping ku dan menyimpan mangkuk mienya di meja.
"Kemana lagi?."
Malas ku. Membuat ka Ell mengerti tanpa harus ku jelaskan.
"Sudahlah terserah dia saja."
"Haha. Memang seharusnya kita tidak perlu repot-repot memikirkan dia."
"Benar juga."
Jawabnya sambil menyeruput mienya.
"Ka."
"Emm."
"Apa mie itu masih ada?."
__ADS_1
Tanyaku ku dengan malu-malu.
"Yah, kakak hanya beli satu."
membuat ku memasang wajah lesu.
"Nah."
Ujarnya, menyodorkan mie itu pada ku.
Aku dengan sigap menyantap suapan yang di berikan ka Ell.
"Ehem-ehem."
Tiba-tiba Radit mendehem dengan keras ketika melihat ka Ell yang sedang menyuapi ku.
Namun aku dan ka Ell mengacuhkan pria itu. Mengapa juga harus dipikirkan toh seharusnya kita memang tidak perlu memikirkan apa-apa yang tak berguna.
Merasa di acuhkan, Radit langsung pergi ke kamarnya. Ujung netra ku sempat memperhatikan geriknya, tapi dengan cepat aku mendelik. Mengingat betapa banyak perbuatan buruk yang telah dia lakukan pada ku.
"Masih mau?."
Tanya ka Ell.
"Emm. Sudah ka, Alena mau mandi. Gerah."
"Benar juga. Badan kamu bau busuk."
"Sembarangan."
"Hahaha. Iya-iya bercanda."
"Kakak jangan lupa minum."
Ujar ku membuatnya keheranan.
"Takut saja kalau kakak lupa minum."
"Tidak akan."
Sanggahnya, membuat ku cengengesan dan pergi meninggalkan ka Ell sendirian.
Radit yang sedang duduk di kasur sambil memandangi kertas dramanya. Memilih langsung membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.
"Hah."
__ADS_1
Ia menarik napas dengan keras
"Mengapa dia?."
"Sebaiknya jauhkan aku dari dia, ini semua tidak semestinya terjadi."
Keluhnya menutup mata.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku memutuskan untuk segera pergi belanja. Ya untuk makan malam.
"Ka."
Panggil ku, ketika ka Ell sedang mengutak-atik laptopnya di ruang tengah.
Ia menoleh dan memandang ku dengan tatapan yang seolah memberikan jawaban dengan kembali bertanya 'Kenapa?'.
"Alena mau membeli bahan-bahan untuk makan malam."
"Emm."
"Apa kakak mau mengantar Alena? Soalnya Alena juga tidak tahu harus beli apa saja."
Tutur ku dengan muka melas, ka Ell tidak menjawab ia hanya tersenyum simpul melihat ku yang masih mematung di tempat.
Di waktu yang sama Radit berjalan ke hadapan ku dan sengaja menabrak tubuh ini.
Ingin sekali marah dan meninju muka datarnya. Tapi ah Alena tahan dulu, tunggu waktu yang tepat oke.
"Kemana Lo?."
Tanya ka Ell pada Radit.
"Beli minuman soda."
Jawabnya sambil mengenakan sepatu.
"Biar gue saja. Sekalian antar Alena beli bahan untuk makan malam."
Ujarnya sambil beranjak. Ah ka Ell, membuat Alena senang saja.
Radit memandang ka Ell dan beralih pada ku. Lalu ia kembali mencopot sepatunya dan menghampiri ka Ell.
Radit memandang lekat ka Ell dengan tatapan yang sangat serius.
"lima botol minuman bersoda."
__ADS_1
Tuturnya sambil memberikan kunci mobil.
Ka Ell hanya diam dan meraih kunci itu, lalu menarik lengan ku untuk segera pergi.