Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Al. kamu kemana? kamu bolos sekolah ya?."


Pesan itu baru saja aku terima dari Nara.


"Ada Na. Di halaman belakang."


Balas ku.


"Lah, ngapain kamu di sana?."


"Makan rumput Nara 😒."


"Aku serius loh Al, kamu malah bercanda. Tidak seru."


"Lagi nanam bunga, aku kesiangan jadi di hukum pak Munajat."


"🤣 Mampus, hukuman pertama di sekolah."


Nara terkekeh-kekeh.


"Nara, kenapa kamu ketawa? ada yang lucu?."


Teriak pak Wid, membuat yang lain memandang ke arahnya.


"Hehe, tidak pak. Maaf."


Cengengesnya merasa malu.


Lalu pak Wid kembali menulis di bor. Dan kelas kembali hening.


"Hist, teguran pertama di sekolah."


Gumamnya kesal, dan kembali menulis.


.


10.00


Kring-kring-kring. Bel istirahat telah berbunyi, para siswa berhamburan ke luar untuk pergi ke kantin, mengisi perut mereka yang terus saja berbunyi meminta jatah makan siang.


Nara pergi ke kantin seorang diri, ia lalu memesan beberapa roti dan satu mangkuk bakso.


Setelah duduk di kursi, Nara langsung melahap bakso yang ia bawa dengan sangat semangat.


Tring

__ADS_1


Handphone Nara berbunyi, dengan cepat ia meraih gawainya.


"Nara aku lapar. Bisa tolong belikan aku sesuatu."


Ya, aku mengirimnya pesan. Maklumlah, orang aku belum makan juga, malah di suruh bekerja seperti ini.


"Oke-oke, aku ke sana sekarang."


Balas Nara, menghabiskan baksonya dengan cepat. Ia lalu segera bergegas pergi dari kantin.


Namun, saat di bibir kantin, Radit menghalangi jalan Nara.


"Minggir deh."


Malas Nara pada Radit dan teman-temannya.


"Dimana Alena?."


Jawab Padil.


"Woy, gue nanya."


Tambahnya, karena Nara hanya diam dan memalingkan wajah.


"Di halaman belakang."


"Ngapain dia di sana?."


Tanya Radit, di angguki teman-temannya.


"Dia di hukum karena ke siangan. Dan sekarang dia minta aku belikan makanan karena dia kelaparan. Jadi lebih baik kalian minggir, atau kalian mau Alena mati ke kelaparan di halaman belakang? Hah?."


Jelas Nara dengan sedikit emosi.


Mendengar itu, Padil dan yang lainnya melongo tak percaya, sedang Radit, dia hanya cengengesan.


"Biar gue saja yang antarkan makanannya."


Ujar Radit, merebut kantung roti di tangan Nara.


"Eh-eh."


"Dit."


Teriak Nara.

__ADS_1


"Sudahlah biarkan saja."


Ujar Boby.


"Mending kita ke kantin lagi Na."


Membuatnya memincingkan matanya.


"Harusnya juga gue yang antarkan makanan itu, kenapa harus Radit."


Ketus Padil.


"Sudah-sudah, mending sekarang kita ke kantin."


Lerai Farel pada semuanya. Kemudian mereka pergi ke kantin bersama-sama.


.


Taman belakang


"Nara. Kenapa kamu lama sekali? Hik-hik-hik."


Lesu ku mulai kelelahan, apalagi perutku terus saja bersuara meminta jatah makan siangnya.


"Mamah. Alena lapar."


Teriak ku, sambil menghentak-hentakkan kaki.


"Manja. Nah makanan Lo."


Tiba-tiba saja, aku mendengar seseorang dari arah belakang. Ia menyodorkan sebuah keresek pada ku.


Ketika netra ku melihat siapa manusia yang berada di sana. Oh betapa terkejutnya aku.


"Dimana Nara? Mengapa malah kamu yang datang."


Emosi ku, tanpa meraih keresek yang ia sodorkan.


"Nara sedang makan. Tidak usah banyak tanya."


Bentak Radit, membuat ku hanya memonyongkan bibir.


"Mau di ambil apa tidak? Kalau tidak mau, gue yang makan."


Tutur Radit, melihat aku yang hanya diam dan memandangnya dengan tatapan benci, Radit memilih menghampiri bangku di di bawah pohon itu. Ya bangku yang di sana terdapat tas ku.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan ku, Radit langsung melahap roti yang ada di dalam keresek itu. Memang benar-benar manusia tanpa hati dia. Kayak pohon pisang huuu.


__ADS_2