Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Radit pulang dengan hati dan pikiran yang kacau. Ia begitu kecewa pada apa yang terjadi padanya hari ini. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Naya, perempuan yang ia percaya dan ia cintai tega membohonginya.


"Ahhhh."


Teriaknya, memukul setir dengan keras. Ia tidak bisa fokus menyetir karena kepalanya di penuhi kerumitan.


.


Aku, baru saja sampai di rumah sakit. Setelah bertanya pada pihak administrasi tentang Pasien yang bernama Giandra, aku di suruh menuju sebuah ruangan.


Dengan berat hati, Aku berjalan dengan gontai. Setelah sampai di depan ruangan yang kini membuat jantungku kembali berdegup dengan kencang. Rasa sesak di dadaku kian bertambah.


"Giandra."


Lirihku, mengintip tubuhnya dari kaca pintu. Ia terbaring, tak berdaya. Tak ada siapapun selain keheningan dan suara ketegangan.


"Alena."


Ujar seseorang, yang berdiri di belakang tubuhku.


Ku balikkan badan, dan ku tatap lekat wajahnya.


"Kakak."


Isak ku, tak mampu menahan genangan air mata.


"Tidak papa, semuanya akan baik-baik saja."


Jawabnya, memeluk tubuhku dengan lembut. Ada ketenangan yang tiba-tiba datang. Ada rasa hangat yang menyapa setelah ketakutan melanda.


Namun, debar jantung kian mengencang. Aku begitu tak sanggup melihat kenyataan yang baru ku dapatkan.


.


Setelah merasa tenang, aku dan ka Dava masuk ke dalam untuk melihat Giandra dari dekat.

__ADS_1


Wajah tampannya kini terlihat begitu pucat. Tubuh gagahnya kini hanya bisa terbaring tak bertenaga. Sikapnya yang begitu lembut dan riang tidak lagi ku lihat. Suara nyaring nan candunya tidak lagi ku dengar.


"Giandra,"


Lirihku menggenggam tangan kanannya.


"Mengapa harus seperti ini hik. Mengapa harus kamu sembunyikan? Hik-hik."


Isak ku tak tahan lagi.


"Apa ini alasan kamu datang ke sini, berkunjung ke kota ini tanpa bertegur sapa denganku. Apa ini alasan kamu datang ke sini, tanpa memberi kabar dan membiarkan luka datang? An, harusnya kamu memberitahu aku sedari dulu, hik-hik."


Tuturku, melihat ku seperti itu ka Dava merangkul tubuhku dan membiarkan tangis ini kembali pecah.


"Al. Dia tidak pernah menginginkan hal ini terjadi. Sekalipun dia datang hanya untuk ke tempat ini, kamu harus tahu. Bahwa Giandra sedang berjuang untuk kamu. Untuk kehidupannya, untuk kita semua."


Tegas ka Ell, menenangkan ku.


Sungguh, aku tidak tahu apa yang membuatku begitu membenci hari ini. Giandra, bangunlah, aku ingin melihat kamu seperti sediakala.


.


"Ma-"


Belum juga Nara menyelesaikan perkataannya. Ia sudah di buat emosi karena melihat seseorang yang ditabraknya.


"hist, aku kira siapa."


Lanjutnya, menatap wajah Boby.


"Hehe, sorry."


Jawab Boby, cengengesan.


"Emm."

__ADS_1


"Banyak banget belanjaan Lo. Mau ada acara apa memangnya?"


Tanya Boby, melihat belanjaan yang begitu banyak.


"Tidak ada acara apa-apa."


"Lalu, belanjaan sebanyak ini?"


"Ibu aku jualan kue, jadi aku membeli perlengkapannya."


Membuat Boby mengangguk paham.


"Kalau gitu, biar gue bawakan belanjaan Lo ke halte."


"Memangnya tidak papa?"


"Yaelah, santai saja kali."


Ujar Boby, membuat Nara tersenyum. Ke duanya pun segera pergi menuju halte.


.


Radit memasuki apartemen dengan wajah pucat. Netranya nanar, ia membantingkan tasnya di sembarang tempat dan memasuki kamarnya untuk langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.


Ia lalu kembali duduk dan mengusap wajahnya dengan perlahan dan kasar.


"Aaaaah."


Teriaknya prestasi. Membantingkan bantal dan guling, membuat kamarnya begitu berantakan.


"Benar-benar brengsek."


"Harusnya sedari awal gue sadar. Lo tidak pernah menginginkan gue untuk ada dalam hidup Lo Nay. hik."


Lesunya, tersungkur di dekat ranjang. Duduk memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2