Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Setelah mengantarkan ku kembali pulang ke rumah. Radit juga memilih langsung pulang ke apartemen setelah membeli beberapa kebutuhan di Alfamart.


Pria itu turun dari mobil dengan wajah kebingungan. Melihat sepeda motor yang juga terparkir di bagasi, setelah mengambil kresek belanjaan Radit langsung bergegas masuk.


"Mengapa dia kembali lagi ke sini?"


Gumamnya,


Clek,


Radit membuka pintu apartemen dan mendapati ka Ell tengah tertidur di sofa. Ingin sekali rasanya dia mengusir ka Ell dan memukulnya dengan keras. Tapi, ketika melihat wajahnya yang begitu terlihat kelelahan, Radit tiba-tiba saja merasa iba dan meredam emosinya.


Setelah menyimpan belanjaan ke dalam kulkas, Radit segera memasuki kamar ka Ell dan mengambil sebuah selimut. Ia lalu menyelimuti ka Ell dengan perlahan, takut kalau ka Ell terbangun.


.


20.02


"Jadi, untuk uzian praktek kamu akan pergi kemana?"


Tanya Mamah, Ketika kita sedang makan malam.


"Alena belum tahu, lagi pula kita harus pergi perkelompok."


Jawabku, melahap telur rebus.


"Ingat, jangan yang terlalu jauh. Dan Papah sarankan kalian harus sudah pernah mengunjungi tempatnya."


Sahut Papah, membuat ku mengangguk.


Tak lama, handphone Papah berdering membuatnya pergi dari meja makan.


Karena aku juga sudah merasa kenyang, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar setelah minum.


Muah,


Aku mencium pipi mamah dan memeluknya.


"Good night mah,"


Tuturku, mamah mengelus kepalaku dan tersenyum.


"Night too sayang,"


Jawabnya, dan aku langsung pergi ke kamar dengan perlahan.


.


Naya, perempuan itu sedang berdiri di sebuah jembatan. Ia menatap hamparan air dari atas saja, dan tak menghiraukan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.


"Mah, mengapa harus seperti ini?"


Gumamnya, dengan wajah datar.


"Mengapa semua ini harus terjadi pada Naya? Mengapa mamah harus ninggalin Naya setelah papah yang pergi dari kehidupan kita? Mengapa mamah membiarkan Naya hidup bersama ka Dika? Naya tidak mau mah, hik."


Lirihnya, berusaha tegar. Namun, air mata tak mampu membohongi dirinya sendiri. Sekeras apapun dia hidup dengan berpura-pura tegar, dalam gelap dan sepi ia tetap akan kalah.


21.21

__ADS_1


Naya telah kembali ke rumah tempat kakak tirinya tinggal. Meski sebenarnya ia tidak mau bersama dengannya, tapi apa yang bisa ia lakukan? tabungannya kini telah habis untuk biaya hidup dia sedari lebih dari tiga tahun, di tambah biaya pengobatannya saat sakit.


"Naya, makanlah dulu."


Ujar ka Dika, yang saat itu sedang makan sendirian. Membuat langkah Naya terhenti, namun bukannya menjawab Naya malah memilih pergi ke kamarnya.


Ka Dika hanya terdiam, menelan salipahnya dengan berat dan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ada rasa sakit yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya dan berhasil membuat dadanya sesak.


Di kamar, Naya menyimpan buku yang telah ia beli dan memilih membaringkan tubuhnya di kasur.


"Sebaiknya aku tidur,"


Gumamnya, menarik selimut dan memejamkan mata. Naya benar, malam ini ia harus beristirahat karena besok ia akan langsung mulai sekolah di sekolah milik Ayah tirinya.


.


Tak lama setelah Naya kembali ke kamar, seorang pria paruh baya juga datang ke dalam rumah dan membuat ka Dika tersenyum.


"Dimana Naya?"


Tanya pria itu, menghampiri ka Dika.


"Sudah tidur,"


Jawab ka Dika, memberikan piring berisi nasi pada sang Ayah. Ya dia pak Yuda, ayah tiri Naya.


"Baguslah,"


Acuh pak Yuda mulai makan.


"Yah, apa tidak sebaiknya Naya mulai sekolah lusa saja? kasian dia,"


"Ayah sudah mengurusnya, dan besok dia mulai sekolah."


Jawab sang Ayah kembali melahap nasi. Mendengar itu ka Dika hanya bisa diam. Apa yang bisa ia lakukan jika ayahnya sudah seperti itu? terlalu merepotkan.


"Bagaimana dengan kuliah mu?"


Tanya pak Yuda mencairkan suasana.


"Baik Yah, Dika masuk perwakilan panjat tebing untuk perlombaan nasional."


Jawabnya antusias.


"Bagus kalau gitu, ingat jangan buat papah malu."


Ujarnya, membuat wajah ka Dika kembali datar. Lalu, pak Yuda beranjak setelah minum dan pergi meninggalkan ka Dika yang masih duduk.


"Selalu seperti itu,"


Gumam ka Dika, laku pergi ke kamarnya.


.


Pagi telah tiba, aku yang saat ini sedang mendengarkan musik di dalam bus sambil memperhatikan jalanan yang begitu padat kendaraan.


Sedang Radit, pria itu baru selesai memasak dan menunggu ka Ell keluar dari kamarnya.


Clek

__ADS_1


Dengan rasa gengsi yang tinggi, Radit mencoba mengatur mimik wajahnya.


Ketika Ka Ell melihat Radit di meja makan, ia tertegun saling bertemu tatap dengan keponakannya. Dan memilih langsung pergi karena ka Ell tahu kalau Radit masih marah padanya.


"Ell."


Panggil Radit, membuat langkah ka Ell kembali terhenti.


"Lo, Lo tidak mau sarapan dulu?"


Gugup Radit malu, membuang wajahnya pada hidangan di hadapannya. Takut ka Ell melihat wajahnya yang kini mati kutu.


Ka Ell masih berdiri memandangi Radit dengan penuh rasa heran. Bagaimana tidak, tumben sekali dia sebaik ini. Padahal yang ka Ell tahu ketika Radit membenci seseorang ia akan sangat lama untuk bisa memaafkannya.


"Kalau tidak mau juga tidak papah,"


Tambah Radit, karena ka Ell hanya diam dan mematung. Dengan cepat ka Ell menghampiri Radit dan tersenyum bahagia.


"Pasti maulah, ini moments yang sangat jarang."


Jawab ka Ell, membuat wajah Radit kembali ketus.


"Ck, benar juga kenapa gue ajak dia makan?"


Gumam Radit, tak di dengar ka Ell. Mereka pun mulai makan dengan sesekali saling curi pandang.


.


Aku sudah sampai di koridor, dan masih mendengarkan musik. Tiba-tiba, seseorang melepaskan satu earphone ku dan memasangkannya pada telinga miliknya sendiri.


"Namara,"


Tutur ku melihat wajahnya yang kini sedang tersenyum manis pada ku. Senyum yang sudah lama aku tak melihatnya, ya senyum seseorang yang begitu aku rindukan.


"Apa sekarang kamu sudah merasa lebih baik?"


Tanyanya, masih tersenyum. Dan aku, masih memandanginya dengan kaget.


"Aku dengar teman lama kamu meninggal, jadi aku pikir itu akan membuat kamu sangat terluka."


Tambahnya, beranjak meninggalkan ku.


"Lalu, bagaimana dengan kamu?"


Jawab ku, kembali bertanya. Membuat langkah Namara terhenti. Dan kini raut wajahnya berubah menjadi kusut dan sedih.


"Maksud aku, bagaimana perasaan kamu jika ada dalam posisi aku saat ini?"


Tambah ku, kembali meyakinkan bahwa dia benar-benar bukan Namara yang ku kenal dulu.


Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan menatapku. Sangat lekat, dan dalam.


"Itu akan sangat sulit Al, terlalu menyakitkan. Sampai-sampai entah kesedihan seperti apa yang harus diperlihatkan."


Jawab Namara, membuat ku mengangguk semakin yakin kalau itu memang Namara baru yang ku kenal.


"Sebaiknya kita segera pergi ke kelas."


Tuturnya, merangkul tubuhku. Aku hanya menurut, memandang wajahnya yang kini mampu membuat ku tersenyum. Meski dia bukan Namara yang dulu, namun aku bahagia karena aku kembali dipertemukan dengan seorang Namara baru yang begitu persis seperti dirinya. Terimakasih. Meski awalnya itu sangat sulit bagiku.

__ADS_1


__ADS_2