Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Woy."


Teriak Boby di telinga Padil yang masih menggerutu.


Yang sontak membuat Padil menatap Boby dengan tatapan benci sekaligus penuh amarah.


"Lagian gue tanya gak nyangut-nyangut Lo."


Kesal Boby. yang hanya mendapatkan respon datar dari Padil


"Dik gue tidak setuju jika pemeran Bram di perankan Radit."


Tuturnya, Radit melirik Padil dan mereka bertemu tatap.


"Seharusnya yang menjadi pemeran Bram itu gue, bukan dia."


Ketusnya menunjuk Radit.


"Nah. Gue sutuju."


Sahut Radit membuat Padil melemparkan sersenyum padanya.


"Kalian sudah kebagian peran. Jadi tidak usah ingin berganti peran. Kita sudah memikirkan ini dengan sangat matang. Terima saja."


Jawab Dika sambil berlalu meninggalkan ruang tempat kita praktik pemotretan.


"Haaa."


Lesu Padil menyandarkan tubuhnya pada kursi. Boby dan farel terkekeh-kekeh melihat kelakuan temannya sambil menepuk pundak Padil. Dan Radit dia hanya menggelengkan kepalanya sambil beranjak.


Aku dan Nara langsung bergegas pergi setelah membereskan tas.


"Lo pulang naik bis. Gue mau pulang bareng Naya."


Ujar Radit tepat ketika ia hendak melewati aku yang masih sibuk membereskan tas.


Aku hanya menanggapi perkataannya dengan mendelikkan mata.


"Al. Kok Radit bilang gitu? Kenapa harus mengatur-atur kamu?."


Tanya Nara ketika kita sedang menyusuri koridor.


"A-."


"Alena."

__ADS_1


Panggil Padil memotong perkataan ku.


'Ah untunglah.'


Lega ku dalam hati.


"Mau pulang bareng?."


Tanyanya setelah ia berada di hadapan kita.


"Emm, sepertinya tidak."


Jawab ku. Lagi-lagi farel dan Boby yang menyusul di belakang menepuk pundak Padil.


"Duluan ya."


Pamitnya menarik lengan Nara dengan cepat dan pergi.


"Hahaha. Sabar bro. Cinta itu butuh perjuangan."


Ujar Boby di angguki farel.


"Diem Lo."


Ketusnya.


Ejek Fadil pada Boby.


"Lo juga."


Bentak Padil membuat farel tersentak dan terdiam.


Padil lalu meninggalkan ke dua temannya yang masih tertegun dan hanya saling pandang.


"Ternyata efek jatuh cinta separah ini."


Tutur Farel menyimpan tangan kanannya di pundak Boby.


"Emmmm."


Sahut Boby, sambil ke duanya memandangi Padil yang menaiki mobilnya dan pergi meninggalkan area sekolah.


Sontak farel dan Boby saling pandang.


"Padil."

__ADS_1


"Woy. Tunggu."


Teriak ke duanya berlari.


.


Radit.


Pria itu tengah duduk berdua dengan Naya di sebuah kursi depan toko Boba.


"Kamu kenapa?."


Tanya Naya sambil menyeruput Boba yang telah di belinya.


"Hah."


Radit menarik napas dan menyodorkan kertas drama yang sedari tadi di pegang nya.


"Emm. Hanya tugas drama bukan?."


"Kamu sebagai siapa?."


Tanyanya sambil membuka lembar demi lembar kertas itu. Dan, Naya melirik Radit dengan tatapan kaget serta kecewa dan entah apa. Ya dia membaca beberapa nama dan pemeran yang di dapatkan.


"Malas aku na."


Jawab Radit, karena ia yakin bahwa Naya sudah mengetahui jawaban dari pertanyaannya yang ia tadi ajukan.


"Jadi kamu satu pasangan dengan Alena?."


Tanyanya gugup.


"Emmm."


"Hah. Tidak masalah dong Dit, lagian ini hanya tugas drama bukan?."


Ujar Naya mencoba terlihat biasa saja. Namun nyatanya ia hanya sedang menenangkan dirinya sendiri.


Ada rasa sakit memang. Yang menjalar dari hati sampai puncuk kepala bahkan ujung jemari kakinya pun merasakan kesakitan.


Entah cemburu atau apa. Yang jelas hatinya tidak bisa menerima orang yang di sayanginya bermesraan dengan perempuan lain meski itu hanya dalam drama sekali pun.


"Apa kamu tidak mempermasalahkannya?."


Tanya Radit pada Naya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?."


Ujar Naya berbalik tanya. Yang hanya di jawab gelengan kepala dari Radit.


__ADS_2