Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Merasa kesal dengan perlakuan Radit pada ku. Nara langsung bergegas pergi.


"Na Lo mau kemana?."


Teriak Farel.


"Memastikan keadaan Alena, apa dia baik-baik saja atau tidak."


Jawab Nara dengan keras ketika ia berada tepat di samping meja Radit dan Naya.


Nara memandang sinis ke dua manusia itu, tapi ke duanya malah terlihat biasa saja.


Kemudian teman-teman Radit menghampirinya dan ikut gabung dengan Mereka berdua setelah Nara pergi dari area kantin.


Padil, Farel, dan Boby memberikan senyum terlebih dahulu pada Naya lalu duduk di antara mereka.


"Dit, gebetan gue bagaimana nasibnya?."


Tanya Padil berbisik, tapi dapat terdengar semua orang.


"Dia baik-baik saja. Wanita itu terlalu manja."


Jawab Radit malas.


"What manja? Apa bedanya dengan wanita di hadapan Lo?."


Ketus Padil merasa bahwa perkataan Radit telah menghina ku.


"Maksud Lo apa hah?."


"Sudah-sudah."


Lerai Farel. Sementara Naya hanya diam menyantap nasi goreng yang telah ia pesan.

__ADS_1


Karena aku telah selesai menanam bunga, dan bel juga telah berbunyi lebih dari lima belas menit yang lalu. Jadi aku memutuskan untuk segera pergi ke kelas.


"Sebaiknya aku ke toilet terlebih dahulu."


Ujar ku di koridor dan memilih jalan menuju toilet.


Saat sedang mencuci tangan ku di wastafel, tiba-tiba seseorang yang baru saja ke luar dari dalam toilet itu langsung berdiri tepat di sebelah ku.


"Al."


Panggilnya, membuat kami saling bertemu tatap dalam pantulan cermin.


"Apa kamu bisa memberikan Radit untuk ku? Aku sangat mencintai dia."


Tambahnya, sedikit mengejutkan ku.


"A-."


"Aku mohon Al, Aku ingin membuktikan bahwa untuk kali ini, aku benar-benar mencintai dia."


Ah Tuhan bagaimana ini? Ia meminta ku untuk memberikan pria yang tengah ingin aku buang. Tapi, meskipun ia seperti sampah. Di sisi lain ia juga calon brilian ku. Apa yang harus aku lakukan?.


"Al."


"Ambil lah. Dia milik mu."


Jawab ku, membuatnya tersenyum.


"Terimakasih."


Senangnya. Naya lalu pergi lebih dulu meninggalkan ku.


Ku tatap wajah ku pada cermin, semakin ku tatap semakin aku tidak mengenali siapa aku sebenarnya.

__ADS_1


"Mengapa itu sangat sulit?."


Ujar ku.


"Sudahlah."


Pasrah ku mencoba untuk tidak perduli.


Aku segera pergi dari toilet, namun ketika aku hendak pergi ke arah koridor kelas ku. Seseorang menarik lengan ku dan menyeret tubuh ini ke belakang lorong kosong.


"Au."


Rengek ku, memegangi pergelangan lengan yang terasa sakit dan memerah.


"Hah."


Pria itu menarik napas dengan kasar, dapat ku dengar.


"Kenapa kakak membawa Alena ke sini?."


Tanya ku sembari meniupi lengan ku.


"Apa maksud kamu, memberikan Radit pada Naya? Dia itu tunangan kamu Al, dia calon masa depan kamu."


Jawabnya emosi.


"Tapi Alena tidak mencintai Radit ka. Lagian Alena terpaksa menerima perjodohan ini. Dan Radit, dia sama. Hanya terpaksa kak. Kita berdua mencintai orang yang berbeda, bukankah itu kenyataannya?."


"Al. Mungkin iya untuk sekarang kamu belum mencintai Radit, tapi entah di kemudian hari. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi suatu saat nanti. Kenapa kamu gegabah seperti itu dalam mengambil keputusan hah?."


"Alena tidak perduli dengan waktu yang akan datang. Alena hanya perduli pada hari yang sedang Alena jalani hari ini."


"Ahhh. Kamu itu terlalu kekanak-kanakan Al, kenapa pikiran kamu bisa sesempit itu?."

__ADS_1


Geram ka Ell pada ku. Tapi aku hanya memasang wajah datar. Aku tidak perduli tentang apapun yang bersangkutan dengan Radit, toh pria yang aku suka kan kakak.


__ADS_2