Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Malam yang cerah pun, rasanya mendung. berkabut dan berembun.


Ya Tuhan. Apa rencana mu?


mengapa harus dengan Radit?


"Tidak. Tidak mungkin."


Gumam ku tak percaya. Beranjak dari kasur menuju balkon kamar.


"Ahhhhhhhhh. Mamaaaaaah Alena tidak mau."


Rengek ku berteriak. sambil mengacak-acak rambut sebahu ku.


.


Radit.


"Mah. Apa-apaan si, kenapa juga harus pake acara jodoh-jodohin Radit segala."


Ketusnya setelah sang ibu menjelaskan padanya mengenai perjodohannya dengan Alena di ruang tengah.


"Radit. Ini demi perusahaan Papah kamu. Lagian, Alena anak baik kok. Cantik lagi."


Jawab sang ibu tak kalah kesal.


"Ohok-oho."


Ell yang berada di di sana tersendat ketika sedang minum dan mendengar nama Alena.


"Alena, Tante?."


Tegasnya tak percaya.


Yang segera di angguki tantenya itu.


"Hah. Tidak mau, Radit tidak mau titik."


"Sayang. Kamu harus mau. Ini keharusan. Kalau kamu nolak, belarti kamu anak durhaka."


"Maaaah."


"Maman tidak mau tahu."


Tak perduli sang ibu beranjak meninggalkan ke dua pemuda itu.


"Ahhhhh."

__ADS_1


Kesal Radit mengacak rambutnya.


"Kenapa harus tu cewe si? Maaaaah."


Frustasi Radit. Sementara Ell hanya diam tak percaya dengan semuanya.


Ada sedikit gores, ketika Ell mendengar kenyataan ini. Tapi ia juga bahagia, karena dengan begitu ia bisa kembali mendapatkan Naya.


Hah, siapa yang menyangka ini akan terjadi, tidak ada. Aku jelas tidak mau. Tapi Radit, aku yakin dia juga tidak mau.


.


21.00.


Aku sedang menikmati makanan ringan di balkon kamar, sambil mendengarkan sebuah lagu. Memandang Kerlip bintang dan membiarkan tubuh ku kedinginan.


Tuttttt


Tuttttt


Tuttttt


Handphone ku berbunyi. Segera aku meraihnya.


'ka dava.'


Gumam ku malas, dan kembali menyimpan handphone itu di atas meja.


Tuttttt


Tuttttt


Ya, handphone ku kembali berdering. Namun ku biarkan saja.


Tutttt


Tutttt


Tuttttt


Dengan kesal ku angkot telpon itu.


"Kenapa si ka nelpon Alena malam-malam begini?."


"Kakak ganggu ya?."


Jawab seseorang dari sebrang sana.

__ADS_1


Apah, tidak mungkin. Ini bukan suara ka Dava.


Batin ku cemas.


"Ya sudah, maaf ganggu waktu kamu. Kalau gitu kakak matikan telponnya."


Tambah pria itu sedikit lesu.


Aku menelan salipah ku dengan kasar.


"Ah, hahaha. Tidak kok ka. Maaf, Alena kira tadi siapa?."


kikuk ku. Membuatnya juga ikut tersenyum tenang.


"Memangnya, pria mana lagi yang kamu sebut kakak?."


Tanyanya lagi, membuat ku berpikir keras. Apa yang mesti aku katakan, tidak mungkin jika harus membahas ka Dava. Ah aku tidak mau.


"Emm. Sudah deh tidak penting. Oh iya, kakak kok tumben telpon aku. Terus dari siapa kakak punya nomor handphone Alena?."


Jawab ku, mengalihkan pembicaraan.


"Kakak dapat nomor kamu dari Nara. Diakan rumahnya bersebelahan dengan kakak."


"Emmm."


"Sebenarnya, ada yang ingin kakak tanyakan. Tapi, kakak takut ini terlalu berlebihan."


"Kenapa memangnya kak? Selagi Alena tidak keberatan pasti akan Alena jawab."


Mendengar perkataan ku. Pria itu hanya terdiam.


"Kak."


"Ka Ell."


Panggil ku memastikan telpon masih menghubungkan.


"Apa benar. Kamu dan Radit di jodohkan?."


Deg, tiba-tiba saja aku terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkannya. Padahal itu hanya pertanyaan biasa.


"Alena."


"I-iya ka. Kenapa kakak bisa tahu?."


"Haha. Radit itu keponakan kakak, dan kami tinggal satu rumah. Jelas kakak pasti tahu."

__ADS_1


Aku terdiam. Ku kira, ka Ell akan sedih mendengar kabar ini. Tapi ternyata dia baik-baik saja.


Alena, Alena. Kamu terlalu berasumsi Ell mencintai mu seperti kamu mencintai dia. Padahal nyatanya tidak. hadeuh menyedihkan deh jadinya.


__ADS_2