Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

yups. Satu hari telah usang. Hari ini, aku baru saja pulang dari sekolah. Tapi aku sedikit terkejut mendapati Mamah sudah membereskan semua pakaian ku ke dalam koper.


"Mah. Kenapa baju Alena di masukkan ke dalam koper?."


Tanya ku heran.


"Kamu akan tinggal di apartemen dengan Radit. Supaya hubungan kalian lebih baik."


Jelasnya, duduk di sofa dan langsung dalam dekapan Papah.


"Hah. Tidak-tidak, Alena tidak mau."


Jawab ku duduk di sofa pinggir Papah.


"Hey, tidak boleh bantah orang tua loh."


ketus mamah pada ku.


"Maaaah."


kesal ku.


"Alena. Lagian kamu tidak tinggal berdua kok. Ell juga ikut tinggal di apartemen kalian. Sebagai pengawas."


Jelas Papah."


"Ka Ell?."


Tegas ku, sedikit bahagia.


"Emm."


"Oke deh Alena mau."


Jawab ku senang. Membuat mamah dan Papah terbelalak.


.


Radit.


"Mah. Kok makin kesini makin ngelantur si?."


Kesal Radit pada ibunya.


"Eh, dosa kamu bilang mamah sendiri ngelantur."


"Ya lagian, ada-ada saja pake harus tinggal bareng segala."


"Ya biar kalian saling kenal dan semakin dekat."


"Lagian Radit tidak mau mah."


" Mau bikin mamah kecewa sama kamu hah?."


"Tapi mah."


"Sudah, ayo berangkat."

__ADS_1


"Mahhh."


Rengek Radit tak di perduli kan.


"Ell, cepat."


"Ell ikut mah?."


"Iya, dia akan tinggal dengan kalian. Biar ada yang mengawasi."


"Hah. Untunglah."


Tenang Radit, menyandarkan tubuhnya pada sofa.


Setelah mandi dan berganti pakaian, aku kembali turun ke lantai bawah. Untuk menemui Mamah dan papah.


"Sudah siap?."


Tanya mamah antusias.


"Sudah."


Jawab ku.


"Al. Bisakan tidak usah pakai kaos oblong kayak gitu."


Cibir Papah pada ku.


"Memangnya kenapa? orang Alena nyaman kok."


"Ganti pakai kamu."


Titah Papah.


"Tidak mau."


"Alena."


"Sudahlah pah, lagian tidak masalah kok. Dia justru terlihat imut."


Lerai Mamah membuat aku tersenyum sementara Papah mendelik kesal.


Berangkat aku bersama Mamah dan Papah. Sama dengan Radit, pria itu juga berangkat dari rumahnya bersama kedua orang tuanya serta ka El.


Aku dan Radit sampai bersamaan.


"Eh, kebetulan sekali kita sampai di sini barengan."


Tutur Bu Melly ibunya Radit.


"Haha, iya Bu."


Jawab Bu Cinta Mamah ku.


Lalu, Papah dan papahnya Radit, serta ke dua perempuan bawel itu sama-sama mengemasi barang ke apartemen.


"Hai Sya."

__ADS_1


Sapa ka Ell.


"Hai ka."


Jawab ku antusias, sementara Radit mendelik pada ku dan masuk mengikuti para orang tua itu.


Setelah aku, Radit, dan ka Ell membereskan pakaian kami ke kamar yang sudah tersedia. Kami di panggil ke ruang tengah untuk berkumpul.


"Kalian harus betah dan akur di sini "


Ujar Papah pada kami.


Yang hanya di jawab muka malas dari aku dan Radit.


"Yasudah. Kita sebaiknya pulang."


"Benar."


"Baik-baik Sayang."


Ujar mamah. kemudian para orang tua itu berlalu dan benar-benar menghilang dari pandangan kami.


Aku menghela napas dan menyandarkan tubuh pada sofa.


"Kenapa harus Lo si?."


Ketus Radit beranjak, namun sebelum kakinya melangkah ia sengaja menginjak kaki ku.


"Au."


Rengek ku membuat Radit tersenyum dan pergi, ka Ell hanya menatap kami saling bergantian.


"Sya."


Panggilannya.


"Iya ka."


"kamu bisa masak?."


Duh pertanyaannya Membuat ku menggigit bibir bawah.


"Hehehe. Mungkin ka."


Kikuk ku, di balas muka malas ka Ell.


"Kalau kamu tidak bisa memasak, kita makan apa malam ini?."


Tanyanya lagi, membuat ku berpikir.


"Kita beli saja."


"Kamu yang tetaktir?."


"Hah? tidak-tidak."


Tolak ku, mencoba menemukan jawaban lain.

__ADS_1


__ADS_2