Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Sudah pagi saja. Padahal ku rasa baru juga netra ini terpejam.


Namun mamah sudah mengetuai pintu kamar ku dengan sangat keras.


"Mah. Papah sudah siap?."


Tanya ku, duduk di meja makan. Mamah menatap ku lalu netranya beralih pada kamar yang terbuka.


"Ya ampun. Jam segini masih tidur. Kepala keluarga macam apa dia?."


Ketus ku sedikit berteriak.


"Hus. Tidak boleh bilang gitu. Papah mu semalam pulang telat. Jadi wajar saja, lagian hari ini dia libur."


Tutur mamah, membuat ku hanya terkekeh.


"Bagus deh. "


"Oh iya. Mamah hari ini mau pergi."


"Dengan papah?."


"Iya. Mungkin kita pulangnya agak telat."


"Kemana memangnya?."


"Ini urusan orang tua. Jadi nanti beli makan di luar saja."


"Yayayaya."


Jawab ku melahap nasi goreng yang sudah mamah hidangkan.


"Alena. kamu itu sudah dewasa, masih saja seperti bocah."


"Baru juga beranjak tujuh belas tahun."


"Kalau di bilangin tidak usah ngelawan."


Titahnya, menyimpan segelas susu dengan keras. Membuat ku sedikit kaget.

__ADS_1


"Iya maaf."


Lesu ku, kembali melahap nasi.


.


Sekolah


Aku sedang menyusuri tepi lapang, entah pengen aja gitu jalan lewat sini.


"Alena."


Teriak Nara dari kolidor. Membuat ku menghadapnya. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum.


Dengan sigap, aku membalas lambaiannya.


"Alena Awas."


Tegang Nara. Dan brak. Aku terjatuh, karena sebuah bola mengenai kepala ku.


Dengan cepat Nara berlari ke arah ku. Namun, sebelum lengannya meraih ku. Tiba-tiba seseorang membopong ku.


"Beri dia obat wangi-wangian dekat hidungnya!."


"Mungkin akan sadar."


Titah seseorang, berharap aku segera bangun.


"Jangan, setahu aku Alena tidak suka obat seperti itu."


Tolak Nara, membuat gadis yang sedang berjaga di UKS kebingungan.


"Sudah, tidak perlu dengarkan dia."


Sahut pria yang membawa ku ke tempat ini.


"Heh Radit, Alena akan muntah-muntah jika menciumnya. Lo mau dia sakit?."


Kesal Nara, membuat Radit menghela napas. Ia lalu membawa obat yang sering di sebut kayu putih itu dan membukanya.

__ADS_1


"Jika terjadi apa-apa, aku tidak ikut bertanggungjawab."


Ketusnya, di abaikan Radit.


"Wle, Oho-oho."


Radit memang keterlaluan, sudah tahu aku tidak suka dengan wanginya, masih saja bersikeras memberiku obat itu.


"Wle."


Aku muntah, tepat di baju Radit, karena ia duduk di ranjang pinggir ku.


"Sudah ku bilang."


Datar Nara, membuat Radit hanya melongo melihat banyak muntah di baju sekolahnya. Dengan cepat ia menutup hidungnya karena bau nya tidak sedap.


"Alena."


Kesal Radit, membuat ku tersadar dan menutup mulut.


"Lo. Ngapain di sini? So-sorry."


Tutur ku terbata. Pria itu hanya memijat keningnya, sementara Nara, dia cengengesan tak tahu aku yang sedang cemas.


"Sial, baju gue."


Ketusnya, pergi meninggalkan UKS. Alena hanya menatapnya dengan geli. Sementara gadis yang sedang berjaga di UKS segera membersihkan muntah ku.


Dan Nara, gadis itu memberiku segelas teh manis hangat.


"Baju Radit kena muntah aku na."


Lesu ku, menatapnya. Nara hanya tersenyum dan menyimpan kembali gelas berisi teh manis itu.


"Tidak papa. Dia sudah ku peringatkan."


Jawabnya, aku mengangguk paham. Tiba-tiba saja aku tersadar bahwa aku membawa baju yang pernah Radit pinjamkan.


"Aku pergi dulu na."

__ADS_1


Ujar ku meninggalkan Nara, yang terlihat keheranan.


__ADS_2