Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Hari Jumat dan Sabtu telah usang. Ahhh tak sabar sekali aku untuk siang ini. Hari Minggu yang telah lama ku nantikan.


"Tapi Mah, apa Alena tidak papa jika pergi sendiri?"


Tanya Radit pada Mamah.


"Tidak perlu khawatir, di sana Alena juga punya teman. Dia akan menjaganya."


Jawab Papah di angguki istrinya.


"Yuk Mah."


Ajak ku yang baru saja turun dari tangga.


Radit menatap ku dengan tatapan lesu, ka Ell hanya tersenyum tipis, sedang papah dan mamah menyambut ku dengan senang.


"Kita pergi, kalian baik-baik di sini."


Pamit mamah di angguki ka Ell, karena Radit hanya sibuk memperhatikan ku.


"Alena pergi ka."


Pamit ku pada ka Ell, entah. Aku merasa berat untuk jauh darinya. Padahal seharusnya aku pamit pada Radit tapi ya sudahlah.


Aku dan ke dua orang tua ku meninggalkan apartemen ini. Radit dan ka Ell masih berdiri memperhatikan mobil yang semakin menjauh.


Ketika ka Ell hendak masuk, ia melirik Radit yang masih diam dengan ke dua lengannya di dalam saku celana.


Tanpa berpikir panjang, ka Ell segera pergi dan meninggalkan Radit di halaman sendirian.


"Mengapa dia harus pamit pada Ell? bukan pada ku?"


Gumam Radit, yang kemudian memilih masuk ke dalam karena di luar cuaca sangat panas.


..............


"Hati-hati. Jika sudah sampai jangan lupa kabari kita."


Tutur mamah, ketika aku baru saja selesai membeli tiket kereta.


"Emmm."


Jawab ku, di angguki mamah.


Mamah memeluk ku dan mengelus puncuk kepala ku, lalu mencium pipi cabi ini.


"Sini. Peluk papah dulu."


Ujar Papah merentangkan kedua lengannya. Dengan haru aku memeluknya dengan erat.


"Jangan terlalu betah di sana, ingat sebentar lagi kamu ada ujian."

__ADS_1


"Iya-iya Alena tahu."


Jawab ku ketus, melepaskan pelukan Papah.


Aku pergi dengan membawa koper ku. Dengan kaos oblong berwarna coksu, dan celana lepis longgar dengan baju dikedalamkan Serta sebuah kamera yang melingkar di leherku aku segera memasuki kereta. Mamah dan papah melambaikan tangannya. Ah serasa aku akan pergi jauh dan lama saja. Mengharukan.


...........


"Yogyakarta aku datang."


Gumam ku, menatap pemandangan yang sudah lama tak ku saksikan dari jendela kereta yang mengajak ku pergi menuju Yogyakarta.


Dulu, aku dan ke dua orang tua ku sering sekali pergi ke Yogyakarta. Mamah sangat menyukai suasana kota tersebut. Begitupun aku dan Papah, tapi nenek melarang kami untuk tinggal di kota itu, alasannya. Aku pun tidak tahu.


Di sana, aku Mempunyai seorang teman. Dia Giandra, anak laki-laki cengeng dan bandel. Sering sekali anak itu menangis karena hal-hal sepele, dan aku selalu mentertawainya. Ketika aku akan pulang ke Cianjur, Giandra akan menangis tersengguk-sengguk sampai mamahnya kewalahan untuk membujuknya.


Ah sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Saling berbagi kabar pun tidak, karena kita tidak saling memiliki no WhatsApp. Sudah hampir lima tahun kita tidak bertemu, bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apakah dia sudah tumbuh menjadi pria tangguh dan tampan? ku rasa tidak hahaha.


.


16.45


Tak terasa, perjalan ternyata sudah selesai. Mungkin karena aku tertidur selama beberapa jam itu.


Aku ke luar dari kereta dan celingak-celinguk, mencari sebuah kendaraan yang bisa ku naiki. Atau mungkin seseorang akan menjemput ku disini. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Lagi pula Giandra tidak tahu kalau aku datang ke sini.


..............


Aku telah sampai di satu pedesaan yang sangat ku rindukan, di sambut Aroma pesawahan dan kebun teh yang menyejukkan. Aku berjalan menyusuri jalan yang di pinggirnya terdampar sawah-sawah para penduduk di sini.


Aku berdiri di kebun ilalang. Merentangkan ke dua lengan dan memejamkan mata.


Ku hirup udara di sini, sangat membuat ku lega dan segar.


Mentari semakin cepat pamit. Ia kini sudah berada di belakang gunung besar yang masih ku tatap dengan lekat. Indah, senja benar-benar menakjubkan. Dan aku, mengabadikan keindahan itu dalam kamera ku.


Hanya di sini aku dapat menyaksikan suasana seperti ini, karena di Cianjur aku selalu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna, sampai-sampai aku lupa untuk menikmati hidup ku.


"Indahkan?"


Tiba-tiba saja, aku mendengar suara seseorang. Suara yang tidak asing bagi ku, suara yang sudah lama tak menyapa telinga ini.


Ku lirik seorang pria yang tengah berdiri di samping ku. Kulit putih, hidung mancung, badan yang tinggi, dengan rambut yang terbelah dua dengan panjang bagian depan sama dengan alis.


Ku tatap wajahnya yang kini rambutnya telah di buat berantakan oleh angin, tapi membuatnya terlihat semakin tampan.


"Kenapa? Apa aku tampan?"


Ujarnya lagi, membuyarkan lamunanku.


"Giandraaaaa"

__ADS_1


Teriak ku, memeluknya. Dengan senyum merekah, pria itu membalas pelukan ku dengan erat. Mungkin, karena kita memang saling merindukan.


Senja menjadi saksi pertemuan kita lagi. Entah untuk yang ke berapa kalinya.


Lalu, Giandra mengajak ku untuk segera pergi. Ia berjalan lebih dulu dengan membawa koper milikku, sementara sepedanya sudah ia simpan lebih dulu sebelum ia menysulku ke tempat ini.


Dengan cepat, aku buru-buru mengambil fotonya sebelum ia sadar dan mengetahuinya.


...............


"Alena. Ayo mangan bareng."


Ujar si mbok, mengetuk pintu kamar yang ku singgahi.


Ya, aku tinggal di rumah Giandra. Ternyata papah dan mamah sudah memberi tahukan soal aku kepada mereka. Dan menyuruh Giandra untuk menjemput ku di Stasiun. Namun, ketika Giandra sampai di sana, aku telah lebih dulu naik angkot. Dan untungnya Giandra melihat dan cepat menyusul dengan sepedanya. Karena jarak dari stasiun ke desa ini tidak terlalu jauh, hanya tiga sampai empat menit juga sampai.


"Mangga mangan, "


Ujar pak De, ketika aku sudah duduk diantara mereka.


"Dimana Giandra?"


Tanya ku, mendapati anak pria itu belum duduk di meja makan.


"Dikongkon Pak De tuku obat nyamuk."


Jawabnya yang langsung ku angguki. Mulailah kami makan tanpa menunggu Giandra dulu.


Dengan lauk pauk seadanya tak membuat selera makan ku turun. Justru ketika melihat begitu banyak lalapan, sambal dan ikan asin, napsu makan ku malah semakin menjadi.


Setelah makan, dan membereskannya kembali. Si mbok dan pak De pergi ke ruang tengah untuk melanjutkan menjahit. Ya, mereka tukang jahit yang handal di sini.


Dan aku, memilih menunggu Giandra pulang di teras rumah panggung ini.


"Tempatnya jauh ya?"


Tanya ku, ketika Giandra sudah sampai di depan rumah. Ia hanya tersenyum dan duduk di bangku halaman.


Ia menoleh ke arah ku, dan menyuruh ku untuk duduk di sampingnya. Tanpa berpikir lagi, aku langsung menghampirinya.


"Rasanya baru kemarin kita masih bermain kembang api di setiap malam."


Tutur Giandra menatap langit dengan senyum yang membuat wajahnya terlihat menakjubkan.


"Ya, sampai membuatmu menangis karena kembang apinya habis."


Lanjut ku.


"Hahaha."


Kita pun tertawa berbarengan, membayangkan masa-masa itu. Sungguh menyenangkan, dan membuat ku ingin kembali lagi ke masa itu.

__ADS_1


Aku dan Ganindra kini hanya saling diam. Menatap langit yang di penuhi bintang. Angin malam mampu menyusup ke dalam tubuh ku, meski kini aku mengenakan switer.


Padahal Giandra yang hanya menggunakan kaos polos dan celana pendek saja terlihat tidak kedinginan sama sekali.


__ADS_2