
Mereka tersenyum senang melihat rumah pohon yang indah itu. Lelah dan penasaran mereka seolah terbayar tuntas. Sementara aku, napasku sesak, netra ku berbinar berlinang air mata. Dada ku sakit, seolah terbentur benda keras.
"Al, kita boleh naik sekarang?"
Tanya Padil, membuat ku tersadar dan mengangguk. Dengan cepat mereka semua naik.
Aku masih tertegun, menunduk menyembunyikan air mata ini.
"Al,"
Ujar Namara menghampiri ku.
"Apa semuanya baik-baik saja?"
Tanyanya, meraih pundak ku. Aku tersenyum menatap wajahnya yang kini juga terlihat kusut.
"Emm,"
Jawab ku terlihat yakin.
"Al, naik. Hujan Al."
Teriak Nara dari atas. Mendengar itu, aku dan Namara segera berlari menaiki rumah pohon itu, dan memang hujan turun begitu lebat.
Namara langsung memasuki rumah pohon itu menyusul yang lain, dan aku masih mengibasi baju ku yang terkena percikan air hujan, tiba-tiba aku melihat Radit yang hendak keluar dan menghampiri ku. Namun, aku segera beranjak menuju sarang burung pojok sana. Dan Radit pria itu berdiri di samping ku.
"Apa ini pemberian Giandra?"
Tanya Radit, membuat ku menelan salipah dengan sangat susah.
__ADS_1
"Emm, indah bukan."
Jawab ku, ia mengangguk. Kemudian aku menjulurkan tangan untuk meraih air hujan dari ujung atap rumah pohon ini.
"Seharusnya, kunjungan kali ini masih ada dia. Tapi, perpisahan saat itu menjadi pamit paling pahit untuk kita berdua."
Gumam ku, kembali menahan tangis.
Radit menatap ku dengan sendu, tiba-tiba dua pasang burung merpati datang dan memasuki sangarnya yang berada di samping ku.
"Hik-hik-hik,"
Tangis ku pecah melihat dua burung ini. Keabadian nyatanya tidak pernah ada diantara aku dan Giandra. Kita selalu di pisahkan sedari dulu, entah itu tidak adil atau memang takdir.
Dengan lembut, Radit meraih ku dan mendekapnya dengan begitu lembut.
Saat Nara hendak keluar melihat aku, tiba-tiba ia tertegun melihat aku dalam pelukan Radit. Dan ketika Boby hendak keluar menghampiri Radit, Nara langsung menahannya. Melihat itu, Boby dan Nara kembali menghampiri Padil, Farel dan Namara yang masih duduk di pojok sana karena kedinginan.
Ujar Nara setelah duduk.
"Nah bener, dia sering melamun dan terlihat sedih."
Sahut Boby.
"Emm, gue kira cuma gue yang merasa begitu. Tapi Radit juga tidak mengatakan apa pun."
Jawab Padil.
"Yaelah, itu urusan pribadi mereka. Jangan terlalu ikut campur,"
__ADS_1
Ujar Farel, membuat ke tiga manusia itu menumpuknya. Sementara Namara, gadis itu jelas hanya bisa diam karena dia tahu semuanya.
.
"Naya, di panggil kepala sekolah."
Teriak Nabil dari pintu. Naya yang saat itu sedang membaca buku langsung bergegas pergi.
"Oh iya, boleh nitip ini untuk pak kepsek?"
Tanya Nabil, ketika mereka berdua bertemu di dekat meja guru.
Melihat sebuah berkas coklat yang di asongkan Nabil Naya terkejut karena membaca tulisan didepan map itu.
'Beasiswa Singapore'
"Na,"
Ujar Nabila menyandarkannya dari lamunan.
"Owh, iya. Boleh kok,"
Jawabnya kikuk, mengambil mam itu.
"Emm, terimakasih."
Tutur Nabila di angguki Naya yang langsung pergi ke luar kelas menuju ruang kepala sekolah.
Sepanjang koridor, Naya di penuhi rasa cemas dan ia merasa begitu kesal kepada sang ayah tiri.
__ADS_1
Map berwarna coklat itu di genggamnya dengan keras menahan semua gemuruh dadanya.