
Angin berhembus begitu hebat. Ombak berlari kian berseru. Awan berarak mencumbu ufuk barat. Dan pasir hanya terdiam menyaksikan kebisingan.
"Bagaimana, apa kamu suka?"
Tanya Radit pada kekasihnya, ketika mereka sudah sampai di sebuah pantai.
"Sangat."
Jawab Naya, merentangkan lengannya dan menutup ke dua netranya.
Angin mulai bermain dengan rambut gadis itu. Ombak menyambut kedatangannya, pasir bersorak dan sang awan tetap berarak.
"Aaaaaaaaah,"
Teriak Naya. Radit kemudian berjalan dan duduk di samping perempuan yang masih terlihat senang.
"Terimakasih."
Ujar Naya ikut duduk.
"Tidak perlu berterima kasih. Membuat kamu bahagia adalah keinginan ku."
Tutur Radit membuat Naya tersipu.
Radit kemudian menarik Naya untuk bermain air dan menikmati trik menteri.
Dan menjadikan dunia serasa milik mereka berdua.
..............
Setelah merasa kenyang. Aku hendak beranjak untuk pergi ke dapur. Namun tiba-tiba sebuah mobil parkir di halaman rumah si mbok.
Aku terdiam sesaat. Sementara Giandra yang tadi masih duduk segera berdiri dan menghampiri orang yang berada di dalam kendaraan roda empat itu.
Deg.
Ternyata benar. Ka Dava, dia benar-benar ada di sini. Jadi pria itu memang pamannya Giandra?
"Hai Al."
Sapanya, membuat ku tersadar.
"Ha-hai."
Gugup ku berusaha menjawab.
.......
Setelah menjumpai si mbok dan Pak De. Ka Dava mengajak aku dan Giandra pergi ke pasar untuk belanja. Tentu menggunakan mobil yang tadi di bawanya.
"Kenapa hari ini kakak tidak sekolah?"
Tanya ku di perjalanan.
"Sekarang libur Al. Sedang ada rapat guru."
Jawabnya segera ku angguki.
"Oh iya. Kok kakak tidak terkejut melihat aku ada di sini?"
"Giandra sudah memberitahu kakak, jadi hari ini kakak datang supaya nanti kita pulang bersama."
Aku melirik Giandra yang duduk di belakang, sementara aku duduk di samping ka Dava.
"Aku takut kamu kenapa-napa kalau pulang sendirian."
Belanya, tidak ku hiraukan.
Sampailah kita di sebuah pasar, sedikit bau khas yang tidak sedap di hirup. Tapi apalah daya diri ini. Nikmati saja, tidak perlu lebay bukan?.
Segeralah kita membeli beberapa bahan yang diperlukan. Pergi ke tukang daging, bumbu rempah, bumbu tambah, dan sayuran yang di suruh si mbok.
Beberapa canda hadir diantara kita. Tertawa di tengah keramaian. Kibasan lengan karena keringat dan hembusan napas tak tahan bau khas.
"Hah. Akhirnya."
Senang ku, setelah sampai di parkiran.
Ka Dava tersenyum simpul, begitupun Giandra.
"Anak manja,"
__ADS_1
Ledek Giandra, yang langsung ku tatap dengan tajam.
"Hist, manja. Siapa yang kamu sebut manja. Enak saja."
"Ya kalau tidak manja apa dong? Anak mamah hah?"
"Giandraaaaa."
Geram ku.
"Sudah-sudah, kita pulang sekarang. Si mbok pasti sudah menunggu."
Lerai ka Dava memasuki mobil.
"Tahu kamu An. Huu,"
Ledek ku, mendapat bibir monyong Giandra.
..............
"Nah."
Ujar Naya, menyodorkan sesuap nasi dengan daging cincang pada kekasihnya.
Dengan ragu, Radit melahap makanan itu.
Ya. Keduanya sedang makan bersama ditepi pantai. Mereka benar-benar sepasang kekasih yang sangat cocok.
"Apa Alena akan pulang hari ini?"
Tanya Naya kemudian, sambil melahap suapan ke duanya.
"Emm."
Jawab Radit, membuat Naya sedikit tertunduk.
"Na,"
Panggil Radit, berhenti makan.
Naya menoleh dan menatap Radit.
Tambahnya, membuat Naya sedikit bingung namun kemudian ia mengangguk dengan cepat.
"Cepatlah habiskan makanannya,"
"Emm."
Jawab Nara, ke duanya pun kembali makan tanpa ada lagi suara.
Entah, ketika Radit mendengar nama Alena di telinganya. Ia selalu merasa ingin menemui perempuan itu dan meminta maaf. Ia tidak bisa melepaskan Alena secepat itu, dan ia juga tidak ingin kehilangan Naya untuk yang ke dua kalinya. Memang egois, tapi biarlah kita menyaksikan kelanjutan cerita hidupnya. Tentang siapa yang akan ia pilih, dan perempuan mana yang akan ia lepaskan.
"Radit. Minggu depan kita ada uzian."
"Ya. Kenapa?"
"Aku tidak mengerti dengan materi matematika yang terakhir di sampaikan, bisa kamu membantu aku."
Ujar Naya, mengaduk makanannya sambil menatap Radit.
"Emm. Sekarang makanlah."
"Terimakasih."
Tulus Naya di angguki Radit.
....................
10.00
Ketika aku sedang membereskan baju ke dalam koper, tiba-tiba Giandra datang dan duduk di kasur.
"Kapan kamu akan berkunjung lagi ke Yogyakarta?"
Tuturnya.
Aku menoleh sesaat, dan menutup rasleting koper.
"Tidak tahu,"
Jawab ku, duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Apa kamu yakin, kunjungan selanjutnya kita masih bisa bertemu?"
Tanyanya lagi, membuat ku sedikit terkejut.
"Kenapa tidak? Bukankah kamu bilang kamu tidak akan pergi dari Yogyakarta?"
Tutur ku, berusaha tenang.
"Emmm. Dan simpanlah semua foto yang kamu ambil di sini."
Jawab Giandra tersenyum. Membuat ku mengangguk cepat.
"Nah, buat kamu."
Ucap Giandra, memberikan ku sebuah gelang.
Dengan senang hati, aku mengambilnya dan memperhatikan gelang berwarna putih itu.
"Kamu suka?"
"Sangat, Ini terlihat bagus."
"Syukurlah kalau kamu suka."
"Terimakasih, tapi aku tidak membawa apa-apa untuk kamu An."
"Tidak perlu."
"Emmm,"
"Tapi. Apa boleh aku meminta satu hal?"
"Apa?"
"Pelukan."
Tuturnya, membuat ku sedikit terkejut. Ada apa dengan dia? Mengapa seperti ini? tidak biasanya seorang Giandra terlihat lembut dan manja seperti ini.
"Haha. Hanya bercanda,"
Lanjutkan tertawa lepas.
"Segeralah bersiap, Dava sudah menunggu di depan."
Tambah Giandra beranjak. Dengan cepat aku menyusulnya, dan memeluk tubuh kekar dan tinggi itu dari belakang.
Aku tidak perduli, jika kemudian Giandra marah, atau melepas pelukan ini dengan paksa.
Kita mematung, dengan peluk yang masih erat. Dengan sunyi yang menyelinap pada sela-sela jemari pria yang masih tertegun. Angin berbaur, memaksa tubuh Giandra untuk secepatnya mengambil langkah.
Kemudian Giandra memegang lengan ku, dan melepaskan pelukan ini dengan perlahan. Ia menatap ku dengan dalam, masih dengan tangan yang saling bergenggaman.
"Terimakasih."
Ujarnya lirih. Seperti sangat sulit dan berat.
Hingga kini, Giandra lah yang memeluk ku dengan begitu erat dan hangat. Ragu, tentu aku ragu membalas pelukan ini.
Tapi, aku percaya bahwa pelukan ini hanya untuk stok obat rindu di antara kita. Bukan pertanda apa pun.
Tanpa kita sadari, seseorang sedang berdiri di dekat pintu dan menyaksikan apa yang terjadi antara aku dan Giandra.
.
"Pak De, mbok. Alena pamit."
Ujar ku, menyalimi ke duanya di halaman rumah.
"Ati-ati. Aja lali bali kanggo ngunjungi."
Jawab si mbok, mengelus rambut ku.
"Iya mbok, Alena pasti berkunjung lagi ke sini."
Tutur ku, membuat pak De tersenyum dan ikut mengelus puncuk kepala ku.
Ka Dava segera masuk ke dalam mobil setelah menyalimi ke duanya. Namun, ketika aku hendak masuk ke mobil. Mata ini terus saja menatap pintu, berharap seseorang segera ke luar dan melambaikan tangan.
'Giandraaaa'
Teriak ku, dalam hati. Namun tiba-tiba saja, pria itu muncul dari balik jendela kamar. Terlihat nanar dan sendu. Namun, Tangannya melambai dengan kuat. Membuat ku ikut sendu dan membalas lambaian itu.
__ADS_1