
Karena Radit pergi dan menolak untuk latihan, jadi aku hanya diam memperhatikan teman-teman ku berlatih.
"Hah."
Hembusan napas Padil terdengar. Ia duduk di sebelah ku setelah selesai berlatih.
"Emm, aku boleh minta tolong tidak?."
Ujar ku, pada Padil. Ia yang sedang minum langsung menoleh ke arah ku.
"Emmm."
"Bujuk Radit supaya dia mau latihan."
Membuat Padil hanya diam.
"Please Dil."
Mohon ku padanya.
"Iya-iya, nanti gue coba ngomong."
Ujarnya seperti terpaksa m Tapi aku tidak perduli uang jelas aku hanya tersenyum senang.
"Terimakasih."
"Emmm."
"Al."
Panggil Nara kemudian.
"Yuk pulang."
"Ajaknya sambil meraih ranselnya di samping ku.
"Emm. Aku duluan Dil."
"Yah. Hati-hati."
Jawabnya tersenyum, aku hanya menjawabnya dengan senyum simpul dan pergi meninggalkan mereka yang berlatih.
__ADS_1
"Na. Beli Boba dulu boleh?."
Tanya ku di gerbang sekolah.
"Boleh dong."
Jawab Nara antusias.
Kita lalu berjalan ke arah kanan karena toko Boba tidak terlalu jauh dari sini.
Sampailah kita di toko Boba yang kita tuju. Saat sedang memperhatikan sekeliling, netra ku lalu menangkap sosok pria yang tidak asing bagi ku.
"Na, kita duduk di sebelah sana boleh?."
Tanya ku pada Nara. Bangku yang sangat dekat dengan Diding atau rak yang di penuhi bunga-bunga di pot.
Aku lalu berjalan lebih dulu, dan Nara dia hanya mengekor.
Dari sela-sela bunga di rak ini. Aku memperhatikan dua manusia yang sedang berbincang, tepat di samping ku. Namun karena terhalang jadi mereka tidak mengetahui keberadaan ku.
Aku dan Nara menikmati Boba yang telah kita beli. Nara memilih menonton Drakor dengan mengenakan headset. Dan aku lebih tertarik dengan perbincangan dua manusia itu.
"Apa kita tidak bisa memulainya lagi?."
"Sepertinya tidak. Aku sudah menemukan seseorang yang ku cintai."
Jawab perempuan itu tertunduk.
"Apa pria itu Radit?."
Tanya pria itu lagi. Perempuan di hadapannya hanya menatapnya sesaat dan mengangguk.
"Hah."
Senyumnya meremehkan.
"Kenapa? Kenapa harus dia? Bukankah dulu kamu yang meminta saya untuk mencoba mencintai kamu. Dan sekarang. Ketika permintaan itu saya berikan kepada kamu, kamu tidak memberikannya. Kenapa?."
Desaknya dengan nada lebih tinggi.
"Ka. Naya tahu, itu kesalahan Naya. Tapi untuk kali ini Naya benar-benar mencintai Radit. Dan dia juga mencintai Naya. Tolong, Naya tidak ingin kehilangan dia."
__ADS_1
Jawabnya berlinang air mata.
"Na, dia sudah bertunangan. Kamu tahu itu bukan?."
"Ya Naya tahu, tapi Naya tidak bisa menerima itu. Dan Radit, dia juga akan membatalkan pertunangan itu. Hanya perihal waktu saja ka."
"Maka kamu lebih pantas di sebut pelacur."
Tegas ka Ell penuh emosi.
"Ka."
"Itu kebenarannya."
Tutur ka Ell, meninggalkan Naya yang sedang terisak karena perkataannya.
Sakit, tentu aku merasa sakit mendengar itu.
Radit akan membatalkan pertunangan ini? tapi kenapa?
Dan aku tidak mengerti, mengapa aku harus merasakan sakit ini? Bukankah aku tidak menginginkannya? Bukan kah itu kabar baik. Ada apa ini?
"Al."
"Al."
"Alena."
Panggil Nara sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah ku.
"Hah."
"Kamu kenapa si? Dari tadi aku panggil juga."
"Hehe maaf na. Aku lagi memikirkan nilai bahasa Indonesia ku."
Lesu ku berpura-pura.
"Tenang saja. Radit pasti akan berlatih."
"Kamu yakin."
__ADS_1
"Emm. Yuk pulang, sudah mendung."
Ajaknya beranjak. Kita pun segera pergi menuju halte.