Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Duarr


"Ahhhh."


Aku menjerit, kaget dengan suara Guntur. Tiba-tiba gerimis turun.


"Ka Ell. Kakak dimana?."


Cemas ku mulai merasa takut kembali.


Ku raih gawai untuk menghubungi ka Ell kembali karena hujan sudah semakin deras.


"Ahh. Kenapa harus mati?."


Rengek ku. Handphone ku mati karena kehabisan batrai.


Aku semakin menepi pada bangku terminal. Dingin, takut dan tidak tahu harus bagaimana. Itu yang saat ini aku rasakan.


"Benarkah tidak ada satu pun manusia yang memperdulikan ku? Hik."


Isak ku duduk di bangku dan memeluk diri ku sendiri.


.


Lewat......


Di sepanjang perjalanan KA Ell terus saja teringat dengan perbincangan Radit dan Naya yang tadi di dengarnya.


"Na. Benarkah dulu kamu salah jatuh cinta? Mengapa?."


Lirihnya sambil mengemudi.


Duarr.


Guntur kembali muncul. Ya, hujan baru turun di area jalan yang di Lalui ka Ell. Membuatnya tersadar pada ku.


"Alena."


Cemasnya semakin cepat mengendarai mobilnya.


"Hik-hik-hik. Kakak Alena takut."

__ADS_1


Isak ku tertunduk.


"Hik-hik-hik. Kemana semua orang, mengapa tidak ada yang datang untuk menjemput Alena? Hik."


Tambah ku putus asa.


Tak lama, ka Ell sampai di terminal bis tempat ku berteduh sedari tadi.


Ka Ell turun dari mobilnya menggunakan payung. Namun aku tidak mengetahui kedatangannya, karena aku masih tertunduk sambil menangis.


Aku tidak berani melihat sekeliling karena di sini sangat gelap. Aku takut dengan gelap dan suara Guntur, aku tidak suka hujan. Aku tidak suka ketika bumi menangis. Aku tidak suka.


"Alena."


Panggilnya lembut. Membuat ku mendoakan kepala dan memandangnya.


Dengan sontak aku memeluk pria yang saat ini berdiri di hadapan ku.


"Kakak kemana saja. Alena takut di sini sendiri, kenapa kakak sangat lama hik."


Tangis ku pecah dalam pelukannya.


Ka Ell membalas pelukan ku dengan tangan kirinya. Ia tersenyum.


"Sekarang kakak sudah ada di sini. Kamu jangan takut lagi."


Tuturnya menenangkan.


"Alena."


Panggilnya karena tidak ada jawaban dari ku.


"Sekarang kita harus pulang."


"Alena takut, di sini gelap."


Ujar ku tidak ingin melepaskan pelukanku padanya.


Ka Ell menatap sekeliling, dan memang benar di sini sangat gelap di tambah kabut hujan. Serem juga kalau di lihat-lihat.


"Baju kamu basah Al."

__ADS_1


"Emm."


"Sekarang. Lepaskan dulu pelukannya, tutup saja mata kamu jika takut."


"Kakak mau ngapain?."


"Lakukan saja."


Tuturnya, membuat ku menurut.


Setelah aku melepaskan pelukan. Ka Ell melepaskan jaketnya dan memasangkannya pada ku.


Membuat aku tersipu saja.


"Sekarang kita pulang."


Ujarnya, memapah ku untuk menuju mobil karena mata ku masih dalam keadaan tertutup.


Setelah aku dan ka Ell masuk ke dalam mobil. Aku membuka mata dan ku tatap wajah ka Ell terlihat sedang memperhatikan ku juga.


"Kakak lihat apa?."


Tanya ku grogi. Bagaimana tidak pangeran kodok ku menatap diri ini dengan sangat lekat.


"Kenapa kamu sangat keras kepala?."


Ujarnya, membuat ku mengernyitkan dahi.


"Bukankah kakak sudah bilang untuk pulang di bawah jam sepuluh malam. Kenapa tidak nurut?."


Jelasnya, memasangkan sabuk pengaman pada ku.


Duh ka. Bisa lebih cepat tidak? Alena sesek karena menahan napas, takut jika Alena tidak menahan napas detak jantung yang tak karuan ini di dengar kakak. Merepotkan.


Aku tidak menanggapi perkataannya, aku hanya sibuk memainkan bibir dan memalingkan wajah.


Melihat ku seperti itu, ka Ell hanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh.


Ia lalu memakaikan sabuk pengaman pada dirinya dan mulai mengemudi.


#Jangan lupa tinggalkan jejak membaca

__ADS_1


comment and like and share this work.


Terimakasih sudah mampir 🙂


__ADS_2