
Setelah sampai di rumah sakit. Aku bertemu dengan si Mbok dan Pak De. Keduanya terlihat kurus dan lesu. Aku paham dengan keadaan mereka.
"Alena. Piye kabare wong tuwamu?”
Tanya Pak De, ketika kita sedang duduk di sofa.
"Mereka baik. Maaf belum sempat mengabari mereka persoalan Giandra."
Jawabku.
"Sampeyan ngerti, sampeyan ora manggon karo wong-wong mau, ta?"
Cek, Alena. Bego atau gimana si, bikin pusing diri sendiri saja.
"Emm, mereka sedang tidak ada di rumah pak De."
"Oh Ya wis."
Jawabnya ku angguki.
Tak lama si mbok dan ka Dava kembali setelah membeli beberapa makanan. Memang, kita semua sedang kelaparan hehehe.
.
Ka Ell sedang dalam perjalanan menuju tempat Naya. Membelah jalanan dengan motor kesayangan.
Tak lama, ka Ell sampai di puskesmas. Tempat biasa yang sering ia kunjungi.
Clek.
Ka Ell membuka pintu dan di sambut langsung oleh senyuman manis kekasihnya, tidak. Mereka belum sempat kembali jadian. Tapi saling memiliki perasaan dan saling mengungkapkan. Ya, sama-sama menggantungkan hubungan.
"Apa kamu lapar?"
Tanya ka Ell, menyimpan kresek putih yang dibawanya di atas meja dan duduk di ranjang samping Naya.
"Emm."
Jawab Naya tersenyum.
__ADS_1
"Nah, kakak bawakan martabak coklat kesukaan kamu."
Ujar ka Ell mengasongkan potongan martabak.
Dengan segut, Naya melahapnya.
"Terimakasih."
Tulus perempuan itu, yang hanya di balas senyum oleh ka Ell.
Clek
Ketika sedang nikmat-nikmatnya memakan martabak, tiba-tiba seseorang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Kakak."
Ujar Naya tak percaya, membuat ka Ell melirik ke arah belakang dan ikut terkejut sekaligus kebingungan.
"Seperti ini keadaan yang kamu bilang nyaman? hah? kakak sudah bilang untuk segera kembali ke Bandung bukan?"
Emosi Dika, melihat keadaan adik tirinya yang seperti itu.
Jawab Naya, dengan netra berlinang air mata.
"Malam ini kamu harus ikut kakak ke Bandung."
"Naya tidak akan pernah ikut."
Jawabnya membuang muka. Dika lalu mendekat ke arahnya dan mencekal lengan Naya dengan begitu kasar. Membuat ka Ell semakin bingung harus berbuat apa.
"Au."
Rengek Naya.
"Emm maaf ka, sebaiknya kakak jangan memperlakukan Naya sekasar ini, kondisi kesehatannya masih belum stabil."
Ujar ka Ell mencoba menolong perempuan yang ia kasihi.
Ka Dika melirik kearahnya dengan tatapan mematikan. Dan segera melepaskan cekalannya dengan paksa.
__ADS_1
.
Aku dan ka Dava sedang berada di balkon rumah sakit. Duduk berdua memandangi langit penuh bintang.
"Al, harapan apa yang ingin kamu sampaikan pada bintang?"
Tanya ka Dava, membuat kita bertemu tatap. Aku berpikir sesaat dan kembali memandangi langit.
"Entah. Alena sangat takut melangitkan harapan."
Jawabku, memainkan ke dua kaki. Ka Dava menghela napas dan berdiri di hadapan ku. Membuat diri ini kebingungan.
Lalu, ka Dava menarik lenganku dan membawa tubuh ini ke tembok balkon.
"Lihatlah jalanan itu."
Tuturnya, menunjuk jalan raya yang begitu padat dipenuhi kendaraan roda dua dan tiga bahkan empat ataupun delapan.
"Sangat padat bukan? Mereka pernah takut berada di jalan seramai itu. Namun, untuk sampai tujuan mereka terpaksa melewatinya."
Tambah ka Dava, aku menatap wajahnya yang kini berbinar memancarkan sikap dewasanya.
"Maka untuk berharap, kamu tidak perlu setakut itu,"
"Alena hanya takut jatuh sendirian di satu waktu."
"Maka lihat kembali jalanan ramai itu."
Jawab ka Dava menatap netraku.
"Apa ketika mereka mengalami kecelakaan tidak ada satupun yang membantu? akan selalu ada manusia yang dikirim tuhan untuk masa sulit kita."
Tambahnya, menggenggam tangan ku.
"Bagaimana jika harapan itu tidak terpenuhi?"
Tanya ku lirih.
"Kamu hanya perlu memahami bagaimana semesta mengajakmu bermain dengan fasih."
__ADS_1
Ujar ka Dava, mengusap puncuk kepala ku dengan lembut.