
Setelah sarapan. Aku ka Ell dan Radit segera berangkat. Dengan menambah sedikit kecepatan, ka Ell mengemudi dengan sangat hati-hati. Setelah sampai di stasiun, aku segera turun di susul Radit. Ka Ell pun ikut turun dan membantu kita mengeluarkan barang-barang yang kita berdua bawa.
Dari arah lain, Nara dan yang lainnya sudah sampai dan melihat aku bersama dua pria ini datang bersamaan. Membuat mereka saling berbisik.
"Sedari dulu aku memang curiga dengan kedekatan mereka,"
Ujar Nara, bergumam.
"Memangnya kenapa dengan mereka?"
Sahut Namara penasaran.
"Justru itu, aku juga tidak tahu. Tapi benar-benar mencurigakan."
"Hist, ngapain si Lo gibahin calon pacar gue? gada kerjaan banget si, inget ya. Alena itu hanya akan menjadi milik gue,"
Celetuk Padil yang mendengar percakapan keduanya.
"Sewot banget si jadi orang. Udah di tolak juga masih aja ngejar-ngejar. Gak tahu diri banget si Lo."
Cibir Nara, tak terima mendapatkan semburan dari Padil. Membuat Boby dan Farel hanya saling pandang dan menghampiri mereka.
"Santai woy, kita disini satu tim untuk sebuah tugas. Jadi tolong, jaga ketertiban oke."
Ujar Boby menenangkan Nara.
"Nah, yang nyari masalah jugakan temen Lo,"
"Kok nyalahin gue?"
"Hey, sudahlah. Kenapa jadi pada marah-marah si, nah tu mereka sudah mau ke sini."
Lerai Namara, membuat mereka terdiam.
__ADS_1
"Kenapa dengan kalian?"
Tanya ku, mendapati wajah mereka yang sepertinya sedang kesal. Hanya wajah Namara saja yang terlihat masih sedap di pandang.
"Tahu ni anak, bikin BT aja. Masih pagi juga."
Jawab Nara, memicingkan matanya pada Padil. Dan pria itu hanya mendelik.
"Mana tiket untuk kita berdua?"
Tanya Radit, keluar dari topik. Nara dan Padil saling pandang.
"Kenapa kalian sering berbarengan? Ada hubungan apa kalian berdua?"
Tanya balik Nara dan Padil secara bersamaan. Yang sontak kita semua melongo pada keduanya.
"Heheheh,"
"Lagian gue heran aja, kenapa kalian sering terlihat bersama. Lo kak temen gue Dit, dan kamu Al, calon pacar aku. Jadi gak usah menyembunyikan apa pun dari kita."
Tutur Padil terlihat lebih serius dan tenang. Nara mengangguk, dan mereka semua memandang aku dan Radit secara bersamaan.
.
Ke lima Manusia itu hanya saling diam dan memasang wajah jutek pada aku dan Radit.
"Ayolah, lagi pula ini tidak penting kan,"
Tutur ku yang duduk di samping Radit.
"Gak, Itu keterlaluan."
Jawab mereka serentak, kecuali Namara.
__ADS_1
Boby duduk bersama Nara, Padil dengan Namara dan farel bersama barang-barang kita semua.
"Hist, merepotkan."
Gumam ku membuang wajah ke arah jendela kereta.
"Tidak perlu dipikirkan, nanti juga mereka kembali baik dengan sendirinya."
Ujar Radit memasangkan earphone pada telinganya. Dan aku lebih memilih mengambil gambar dengan kamera yang ku kalungkan di leherku dari pada harus menanggapi perkataan Radit.
.
Naya, perempuan masuk sekolah seperti biasanya. Namun, kali ini ia memasuki kelasnya dengan wajah yang lesu dan mata sembab.
"Na, mau sarapan bareng?"
Tanya Nabila yang langsung menghampiri Naya. Perempuan itu duduk dan menatap wajah Nabila.
"Apa kamu baik-baik saja,"
Tanya Nabila melihat wajah kusut teman barunya.
"Emm, kamu bisa pergi lebih dulu."
Jawab Naya, mencoba seramah mungkin.
"Baiklah, kalau ada apa-apa kamu bisa katakan pada aku."
Ujar Nabila ketika hendak pergi.
"Emm,"
Sahut Naya, tersenyum. Dan Nabila segera pergi karena perutnya yang sudah tak mampu lagi menahan rasa lapar.
__ADS_1