Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Radit yang baru saja terbangun dari tidurnya mencoba untuk beranjak. Namun, tubuhnya sangat tidak bertenaga dan begitu dipenuhi keringat. Wajahnya pucat dan matanya sembab.


"Sialan."


Kesalnya, membiarkan tubuhnya terbaring.


"Sttt, au."


Rengeknya memegangi kepala bagian kanannya karena pusing.


.


14.00


Sekolah begitu ramai oleh para siswa yang berhamburan pulang.


"Al, mau pulang bareng?"


Tanya Padil berjalan ke arahku.


"Tidak perlu, lagi pula aku akan pulang bersama Namara."


Jawabku, menggendong tas dan langsung beranjak.


"Duluan."


Pamitku, pergi bersama Namara. Sementara Padil hanya melongo di tertawakan kedua temannya.


"Hahah, mampus. Memang kurang nyadar diri si Lo Dil."


Ujar Boby.


"Brengsek, diem lo."


Ketusnya pergi menuju pintu kelas.


"Wis, santai dong bro."


Timpal Farel merangkul Padil, dan Boby masih cengengesan sambil menyusul mereka berdua.


.


Karena Nara pulang lebih dulu, jadi terpaksa aku pergi berdua dengan Namara ke kedai bakso pak Toni.


"Eh, baru keliatan lagi si neng."


Ujar tukang bakso itu pada ku.


"Hehe, biasalah. Mamah suka ngomel pak."


Jawab ku duduk, diikuti Namara.


"Eh, kemarin mamah si neng juga makan disini sama pasangan suami istri."

__ADS_1


"Sama papah juga?"


"Iya neng."


Yakin pak Toni sambil membuat dua mangkuk bakso.


"Ck, pasti orang tua Radit."


Gumamku.


"Keluarga kamu dengan keluarga Radit Deket banget ya?"


Tanya Namara, membuatku terdiam sejenak.


"Tidak juga, mereka hanya sekedar rekan bisnis."


Jawabku menyembunyikan. Dan Namara dia hanya mengangguk.


"Pak, yang satu tidak memakai mie dan cuka."


Ujarku pada pak Toni.


Namara memandangku dengan wajah serius, dan aku baru sadar pada yang baru saja aku katakan.


"Kamu tahu...."


Tutur Namara menggantung.


.


Ka Ell pulang ke rumah Tantenya, Bu Melly. Ia tahu kalau Radit akan sangat marah jika bertemu dengannya.


"Assalamualaikum."


Ujar ka Ell masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, Ell."


Jawab pak Toni dengan wajah keheranan.


"Loh Ell."


Ucap Bu Melly yang baru saja ke ruang tengah dan melihat wajah ka Ell.


"Tumben pulang?"


Tanya tantenya,


"Emm, ada apa?"


Ikut-ikutan pak Toni.


"Ell hanya ingin beristirahat di sini. Lagi pula di apartemen jenuh Tante."

__ADS_1


Jawabnya menyakini ke dua orang tua itu.


"Yasudah, sana mandi terus makan. Tante baru saja selesai masak."


"Kita makan bersama Tante, Om?"


"Iya."


Jawab keduanya, membuat ka Ell riang dan pergi ke kamarnya.


"Hah."


Ka Ell menjatuhkan tubuhnya di kasur sambil terlentang.


Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Seharusnya mamah tidak usah membiarkan Lo hidup."


Kata-kata Radit mengiang lagi di telinganya. Memang sakit, tapi itu memang pantas di ucapkan Radit. Ia tahu kalau keponakannya sedang sangat emosi, jadi ia tidak bisa melawannya dengan emosi lagi.


"Gue minta maaf Dit, Gue tahu ini salah. Tapi, gue juga tidak bisa melepaskan Naya."


Gumamnya mengusap wajahnya dengan kasar.


Setelah berganti pakaian dan mandi. Ka Ell segera menuju lantai bawah dan menuju meja makan. Di sana pak Toni dan Bu Melly sudah menunggunya untuk makan bersama.


"Nah."


Ujar Bu Melly menyodorkan piring berisi nasi pada ka Ell setelah memberi suaminya terlihat dahulu.


"Terimakasih Tante."


"Emm."


Mereka kemudian mulai makan dan saling diam, tidak ada percakapan setelahnya.


"Oh iya Ell, bagaimana dengan Radit? Dia baik-baik saja kan. Om dan Tante belum sempat menjenguknya ke sana."


Tanya pak Anto dengan mulut penuh makanan.


"Owh, dia baik-baik saja Om."


"Baguslah."


"Bagaimana dengan Alena? Apa mereka menjadi sangat dekat?"


Timpal Bu Melly.


"Sudah lumayan dekat Tante."


"Ahhh, syukurlah."


Senangnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2