
Mobil ka Dava menepi di pinggir jalan, hampir sampai di apartemen. Namun, aku meminta padanya agar turun di sini, dimana ka Dava pernah mengantarkan ku pulang dulu.
"Besok kakak jemput kamu sepulang sekolah."
Ujar ka Dava, ketika aku hendak turun. Aku tersenyum dan segera keluar mobil.
"Hati-hati."
Pamitku, melambaikan tangan. Ka Dava tersenyum dan berlalu pergi dengan roda empatnya.
Aku berjalan menuju apartemen. Meski sebenarnya ada rasa takut yang datang karena jalanan lumayan gelap. Hanya lampu kendaraan dan beberapa lampu jalan yang menerangi.
Ketika sampai di depan pintu apartemen. Aku terdiam, mengurungkan niatku untuk membuka pintu. Suara gaduh ka Ell dan Radit begitu jelas terdengar.
"Brengsek. Seharusnya mamah tidak pernah membiarkan Lo hidup."
Teriak Radit yang jelas ku dengar.
Buk
Buk
Buk
Radit memukuli ka Ell begitu napsu, sedang ka Ell hanya pasrah tidak melawan.
"Lo harus dengar penjelasan gue dulu Dit, ini tidak seperti yang Lo duga."
Tutur ka Ell menahan Radit dengan mencekal kerah baju keponakannya.
"Gue tidak perduli."
Jawab Radit. Buk
Clek
Aku segera membuka pintu karena tak tahan mendengar pukulan Radit.
"Stop."
Teriakku. Membuat Radit berhenti. Ke duanya kemudian berdiri dan saling diam dengan wajah yang sulit di jelaskan.
"Ya ampun Radit, kamu gila apa? mukulin ka Ell sampai bibirnya berdarah kayak gini."
Tambah ku, menghampiri ka Ell.
__ADS_1
Namun, Radit malah membuang muka dengan kasar, ia kemudian pergi ke kamarnya.
"Sebaiknya Alena bersihkan darahnya."
Ujarku, membawa ka Ell ke sofa. Setelah membawa kotak obat aku duduk di samping ka Ell. Ia terus saja diam dan sesekali mencekal bagian bibirnya yang terasa sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Tanya ku penasaran.
"Radit tahu kalau Naya berpura-pura mencintainya."
Jawab ka Ell datar. Membuat ku sedikit terkejut.
"Ja-jadi?"
"Emm selama ini dia hanya berpura-pura mencintai Radit dan menjauh dari kakak. Tapi ternyata dia masih mencintai kakak."
"Lalu, kenapa Naya menghilangkan begitu saja?"
"Dia sakit dan di rawat."
Lesu ka Ell, kemudian ia beranjak karena aku telah selesai mengobatinya.
Ujarnya, lalu berjalan keluar dari apartemen. Membuatku tertegun dan entah kenapa aku kasihan pada Radit.
.
Malam telah usang. Pagi datang dan aku kembali melakoni hari. Setelah bersiap untuk segera pergi ke sekolah, aku segera keluar dari kamar.
Namun, ketika hendak menuruni tangga, aku menoleh pada kamar Radit yang masih tertutup rapat.
"Tidak seperti biasanya dia telat."
Ujarku, melanjutkan langkah dan segera menuju dapur.
Aku menyeduh dua gelas susu dan menyiapkan rodi dengan olesan selai.
Berharap, ketika Radit bangun ia tidak lupa meminum susunya dan sarapan.
.
Nara, dia sedang bersiap untuk segera berangkat. Ibunya sudah menunggunya di lantai bawah.
"Nara, cepatlah."
__ADS_1
Teriak sang ibu.
"Nara segera turun."
Jawabnya, membereskan rambutnya dan berlari menuruni tangga.
"Yuk."
Ajak Nara, merangkul tangan sang ibu. Kedunya kemudian pergi menggunakan mobil yang di bawa sang ibu.
"Apa mamah perlu mengantarkan kamu ke sekolah?"
Tanya Bu Vani pada anaknya di tengah jalan.
"Tidak usah. Nara bisa menggunakan bis."
"Baiklah."
Mobil berwarna hitam itu kemudian terparkir tepat di area toko kue miliknya. Nara dan Bu Vani turun. Mereka kemudian memasuki toko dan membukanya.
"Nara, segeralah berangkat. Kamu hampir kesiangan."
Tutur sang ibu yang sedang membuka jendela toko.
"Emm. Nara berangkat."
Pamitnya pergi.
"Hati-hati."
Teriak Bu Vani, yang di angguki Nara yang kini telah berdiri di pinggir jalan menunggu bis datang.
Tak lama, bis datang dan segera Nara naik dan duduk di bangku ke empat dekat jendela. Ia tidak sadar bahwa pria yang duduk dibelakangnya adalah temannya sendiri.
"Pagi."
Sapa seseorang yang langsung duduk di samping Nara, membuatnya sedikit terkejut.
"Ck, ngagetin banget si."
Ketus Nara. membenarkan duduknya.
"Hahah, sorry."
Senang Boby, memandangi wajah kusut Nara sambil tertawa puas.
__ADS_1