Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

"Bukan Lo Ell. Tapi si badut."


Jelasnya, yang sontak membuat ku melongo.


"Maksud kamu apa suruh aku turun di sini?."


"Gue tidak mau ada yang tahu kalau Lo berangkat bareng sama gue."


Jawabnya, membuat ku memicingkan mata.


"Dit. Lo tidak seharusnya.."


"Gue mau dia turun sekarang."


Potong Radit, membuat ka Ell menghela napas.


Dengan kesal, aku pun memutuskan untuk segera turun. Takut perdebatan di dalam mobil tak kunjung selesai dan aku malah kesiangan, mana harus jalan kaki dulu lagi.


Setelah turun, mobil berwarna hitam dengan balutan gold itu melesat dengan cepat.


"Awas saja kamu Radit. Bakalan aku balas perbuatan kamu hari ini."


Gumam ku, sembari menyusuri trotoar seorang diri.


"Hah-hah-hah."


Napas ku ngos-ngosan karena berlari ke sekolah.


"Untunglah."


Tenang ku.


"Alena."


Tiba-tiba seseorang berteriak dari arah belakang ku, ketika hendak melanjutkan langkah ku. Tiba-tiba seseorang itu mencekal kerah baju ku.


"Tahu kesiangan juga, masih mau mau kabur hah?."


Tutur pak Munajat, kesiswaan kami.


"Hehe. Tidak kok pak."


Jawab ku cengengesan.

__ADS_1


"Ikut bapak."


Titahnya, setelah melepaskan kerah baju kh dari lengan kasarnya.


Sepanjang koridor aku terus menggerutu, kenapa juga harus bertemu satu guru ini. Padahal kelas ku dari gerbang kan tidak terlalu jauh.


Ya gini deh sekarang, aku di bawa ke halaman belakang.


"Nah. Hukuman kamu, menanam semua bunga itu di sana."


Ujarnya menjelaskan sambil menunjuk setumpuk Bunya yang belum di tanam dan lahan kosong yang telah di gali.


"Semuanya pak?."


Tanya ku, melihat betapa banyaknya bunga di sana.


"Satu Alena. Ya semuanya dong."


Geramnya pada ku sambil mendelik.


"Hehe, siap pak."


"Yasudah sana kerjakan hukuman kamu."


"Iya pak."


Guru yang terbilang cukup tua itu, masih memperhatikan ku, padahal tidak mungkin juga aku kabur jika ia tinggalkan.


"Setelah selesai, kamu baru bisa pergi ke kelas."


Ujarnya sedikit berteriak. Aku menolehnya, dan ia pergi meninggalkan halaman ini.


"Aaaa."


Rengek ku, dengan muka melas.


"Sial banget si kamu Al. Masih pagi juga."


Ketus ku pada diri sendiri.


.


Kelas

__ADS_1


Radit sedang duduk bersama teman-temannya di bangku belakang. Berbincang masalah perkelahian dan adu basket antar kelas maupun sekolah, maklum lah anak laki-laki.


"Kalau kelas sebelas teknik kalah. Otomatis akan ada yang di ambil dari tim kita untuk main dengan sekolah sebelah."


Tutur Farel.


"Nah, bener dit. Pokonya kita harus menang. Gue mau Lo mewakili kelas kita untuk tanding bersama kelas dua belas."


Sahut Padil.


"Kapan kita tanding?."


Tanya Radit dengan wajah datarnya.


"Besok, sepulang sekolah."


Jawab Boby. Di angguki yang lainnya.


Brak-brak-brak.


Tiba-tiba Pak Wid datang, dan memukuli bor dengan penggaris kayu. Membuat anak kelas TMM 1 terkejut dan duduk di bangku mereka masing-masing.


Semua murid sudah ada di sana.


Kemudian pak Wid mulai mengabsen satu persatu murid di kelas ku.


Namun saat ia menyebut nama ku, kelas hening dan semua orang hanya celingak-celinguk mencari-cari keberadaan ku.


"Alena."


Ulangnya.


"Tidak ada pak."


Jawab Farel


"Lah, gebetan gue kemana?."


Sahut Padil.


"Kemana dia?."


Tanya pak Wid.

__ADS_1


"Tidak tahu pak."


Jawab mereka serempak. Membuat Nara kebingungan, begitu pun Radit, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia sedang khawatir.


__ADS_2