Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Naya langsung di bawa supir ayahnya menuju tempat majikannya menunggu.


Sesampainya di sana, Pak Yuda sedang duduk tertunduk dengan ke dua lengan menutupi wajahnya. Sementara beberapa orang yang tidak di kenal juga duduk di samping ayahnya.


Melihat itu, Naya merasa sedikit aneh. Namun, derap langkahnya mampu di dengar sang Ayah dan para manusia itu. Membuat mereka semua mendoak dan menatap dua manusia yang menghampirinya.


"Na,"


Lirih sang Ayah, berlinang air mata.


"Kakak kamu,"


Tambahnya pasrah, yang semakin membuat Naya kebingungan. Namun, melihat beberapa orang di sampaing ayahnya mengenakan baju yang sama dengan yang kakaknya pakai ketika hendak berangkat mendaki untuk panjat tebing, Naya langsung tersadar dan menuju pintu kamar pasien di hadapan ayahnya dan mengintip seseorang di dalam sana dari kaca pintu.


"Gak, gak mungkin."


Isaknya, melihat seluruh tubuh kakaknya di tutup kain berwarna putih oleh suster.


"Pah,"


Lirihnya, menatap sang Ayah dengan penuh tanya dan pedih.


Dengan tubuhnya yang lunglai, pak Yuda berdiri bersamaan dengan para dokter dan beberapa suster keluar.

__ADS_1


Pak Yuda berjalan mendekat ke arah Naya, memandang wajah sang dokter dengan penuh harap. Beberapa orang yang tidak dikenal itu juga ikut berdiri dan menanti informasi yang akan diberikan sang dokter.


"Mohon maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan anak bapak. Pendarahan di kepalanya cukup serius."


Tutur dokter itu, seperti sebuah petir di siang bolong. Membuat luka yang teramat dalam di hati Naya dan pak Yudi. Sementara ketiga orang itu hanya bisa tertunduk lesu.


"Mayatnya akan segera diurus dan dimakamkan, kami permisi."


Pamit dokter itu pergi bersama para suster. Membiarkan mereka di baluti kesakitan yang teramat pedih.


"Pah, kenapa? Kenapa papah membiarkan ini terjadi? kenapa pah, kenapa? Hik-hik-hik."


Isak Naya ambruk, tak lagi tubuhnya bertenaga dan hatinya sekekar baja. Kini, ke dua kalinya ia kehilangan orang yang paling dicintainya, membuatnya terpukul berkali-kali lipat.


"Maaf na, Papah minta maaf."


.


Sementara di Yogyakarta, aku dan yang lain sedang makan malam di tepi pantai. Tempat yang indah untuk dinikmati bersama orang-orang tercinta. Ya seperti keluarga dan sejenisnya hahaha.


"Nah, kamu harus banyak makan kentang."


Ujar Radit memberikan ku sepotong kentang rebus yang telah ia kupas ke piring ku yang masih kosong.

__ADS_1


Aku menatapnya, membuat ia kembali menatap ku dengan datar. Membuat yang lain juga ikut memandangiku dan Radit bergantian.


"Biar cepat tinggi saja,"


Tambah Radit, membuat darah ku naik. Dan itu mampu membuat yang lain tertawa terbahak-bahak.


Aku yang sedang memegang sumpit menancapkannya pada kentang itu dengan keras, membuat yang lain langsung terdiam. Termasuk Radit, dia langsung tersenyum manis pada ku.


"Maksud aku, itu bagus untuk pertumbuhan hehehe."


Kikuk Radit, masih ku tatap dengan tajam.


"Nyari mati Lo emang,"


Cibir Nara pada Radit, membuat Boby menyikunya agar tidak ikut-ikutan urusan aku dan Radit.


"Sayang, udah dong liatin akunya. Sekarang makan dulu ya, yaaah."


Lembut Radit mengusapi pundak ku, membuat yang lain terkekeh-kekeh melihat preman sekolah sekarang menjadi manis dan lembut seperti itu.


"Emm,"


Jawab ku masih ketus.

__ADS_1


"Kenapa?"


Tanya Radit ganas pada teman-temannya yang masih terkekeh memperhatikan kita. Membuat mereka buru-buru menghentikan tawanya dan mulai makan.


__ADS_2