
Malam telah usang, kita kembali bersiap untuk melanjutkan perjalanan demi memenuhi tugas kita. Perjalanan yang terasa dingin di pagi seperti ini membuat mereka menggidik menggosok-gosokkan tangan mereka.
"Keren, rapi banget kebun teh ini."
Puji Farel, diangguki yang lain.
"Tapi sumpah, ini dingin banget."
Sahut Nara, meniupi lengannya yang hampir beku.
"Nah,"
Boby menggenggam tangan Nara. Membuat yang lain bersorak termasuk aku.
"Boby,"
Malu Nara.
"Na, kamu juga kedinginan?"
Tanya Padil menghampiri perempuan yang memeluk tubuhnya.
"Lo bisa pake jaket gue."
Tambahnya, memakaikannya pada Namara yang tidak berkutik sekalipun.
"Wih, Alena gak bisa Lo dapetin sekarang nyari mangsa lain."
Ledek Boby ditertawakan yang lain. Namun, Padil tak menghiraukan perkataan itu dan lebih memilih kembali melanjutkan perjalanan.
.
Ini masih sekitar jam 5.30 Pagi. Sengaja kita berangkat sepagi ini, untuk mengambil gambar sunset di bukit sana.
"Hah, akhirnya."
Lega ku, karena akhirnya kita sampai. Dan saat itu mentari baru muncul ke permukaan. Buru-buru kita mengabadikan moment ini. Sebisa mungkin kita mengambil gambar yang bagus.
Namun lagi-lagi, ketika aku mengambil gambar Namara, Radit kembali mengambil gambar ku tanpa ku tahu.
__ADS_1
"Begitu persis,"
Gumam ku, melihat foto Namara yang sedang tertawa lepas bersama yang lain.
.
Ka Ell baru saja keluar dari kamarnya langsung menuju meja makan. Tak lama Bu Melly datang dengan semangkuk sup, lalu di susul oleh pamannya.
"Ell, coba kamu hubungi Radit atau Alena. Mereka sangat sulit Tante hubungi."
Ujar Bu Melly, sambil menyodok nasi untuk suaminya.
"Iya Tante, nanti Ell coba."
Jawabnya, mengambil piring yang asongkan tantenya.
"Owh iya, setelah uzian selesai jangan lupa untuk mempersiapkan tes perguruan tinggi. Untuk jaga-jaga jika kamu gagal di jalur rapot."
Sahut pamannya, sambil melahap nasi. Sementara Bu Melly masih mengambil jatah sarapan untuknya.
"Emm, iya om."
.
13.00
Aku dan yang lain tengah makan roti yang telah di beli Radit malam tadi. Di bawah pohon rindang yang menyejukkan.
"Al, Deket bibir Lo."
Tutur Padil, melihat keju yang belepotan di dekat bibir ku.
"Hah, ini?"
Jawab ku, sambil membersihkannya. Namun, itu tak kunjung bersih.
"Disini."
Ujar Radit, membersihkannya. Membuat aku terkejut dan hanya mematung. Sementara yang lain hanya melongo ikut terkejut.
__ADS_1
"Wah-wah, sekarang udah berani umbar kemesraan ya,"
Ledek Nara, membuat aku dan Radit saling menjauh dan kikuk.
"Sut, gak usah ganggu kemesraan orang lain tahu."
Ujar Boby, menoyor kepala Nara. Mereka lalu adu mulut dan saling melempar pukulan.
.
Menjelang sore, langit yang tadinya cerah kini berubah mendung berwarna abu. Angin semakin bersorak, dan hawa dingin kembali menyapa.
"Sebaiknya, kita langsung ke rumah pohon saja,"
Ujar ku sambil membereskan barang-barang, begitupun yang lain. Sementara Namara, gadis itu langsung terlihat kaget sambil memandangi ku.
"Rumah pohon? Lo punya rumah pohon di sini Al?"
Tanya Boby, membuat ku terdiam sejenak.
"Emm, pemberian dari seseorang."
Jawabku, beranjak.
"Yuk, keburu hujan."
Tambah ku mulai berjalan.
Sepanjang perjalanan, aku tidak berdecak sedikitpun. Meski beberapa kali mereka bertanya seberapa jauh lagi? apa rumah pohonnya besar? apa tempatnya indah? dan banyak lagi. Pikiranku kini di penuhi wajah indah Giandra yang sedang tertawa pada ku.
Ya. Wajah itu, wajah tampannya saat tersenyum, menahan lelah, menahan sakit, dan menangis. Semua tingkah lakunya, canda tawanya kini semua itu melintas lagi di benak ku.
"Nah,"
"Kita sampai,"
Tutur ku, membuat mereka saling menatap. Maklumlah, jalan masuknya terhalang ilalang yang kini sudah tumbuh tinggi.
"Lewat sini,"
__ADS_1
Ajak ku, membelah ilalang itu di ikuti yang lain.