
21.00
Aku, Radit dan ka Ell baru saja selesai makan. Karena di rasa tidak ada yang membuat ku harus tinggal di sini. Jadi, aku memutuskan untuk pergi ke kemar.
"Al."
Panggil ka Ell, ketika aku beranjak.
Aku menghentikan langkah dan terdiam tanpa membalikkan tubuh. Radit menatap aku dan ka Ell dengan tatapan Keheranan.
"Kamu belum minum."
Tambahnya, membuat Radit menghela napas dengan malas, aku menoleh dengan wajah tak sedap di pandang.
"Alena bisa minum di kamar."
Ketus ku langsung pergi meninggalkan dua pria itu. Ka Ell hanya menatap ku dengan senyum simpul, sementara Radit hanya celingak-celinguk tidak jelas.
"Ahhhh."
Teriak ku merasa frustasi dengan isi kepala.
"Sebaiknya aku belajar saja."
Tambah ku, menuju meja belajar.
Baru saja aku membuka buku halaman pertama, tiba-tiba handphone ku berdering. Dengan malas aku meraih gawai yang berada di samping buku.
"Mamah."
Gumam ku, segera mengangkat telpon.
"Alena."
Panggilnya di sebrang sana.
"Tumben telpon Alena?."
Jawab ku sedikit keheranan.
"Memangnya tidak boleh apa. Lagian mamah kangen sama kamu."
"Kangen apa kangen."
Goda ku merasa tak percaya dengan ucapan Mamah.
"Hehehe. Sebenarnya ada yang mau mamah bicarakan."
"Sudah Alena duga."
__ADS_1
"Anak pintar. Tapi beneran loh mamah kangen kamu."
"Iya-iya terserah mamah saja. Jadi, mamah kenapa nelpon? Ganggu Alena saja."
"His, gak baik kamu bilang gitu sama mamah."
"Iya-iya Alena minta maaf. Jadi apa tujuan mamah telpon Alena?."
"Emmmmm."
Jawab mamah seperti enggan atau takut mengutarakannya.
"Emmmmm."
"Mah."
Ketus ku.
"Hah, iya-iya sabar dong."
"Emmmmmmmmmmmmmmm."
"Emmmmmmmmm."
"Emmmmmm."
"Emmmmmmmmmmm."
"Mah, Alena sedang belajar."
"Mamah sama papah mau ke rumah nenek kamu."
"Hah."
Jawab ku tak percaya.
"Iya."
"Kapan?."
"Besok."
"Alena ikut."
"Tidak-tidak. Kamu harus sekolah, lagian mamah sama papah hanya pergi satu Minggu kok."
"Alena juga mau ikut mah. Alena kangen sama Nenek."
"Tidak. Libur nanti baru kamu bisa pergi."
__ADS_1
"Mah."
Rengek ku berharap belas kasihnya.
"Mamah bilang tidak ya tidak. Sana belajar."
Tut.
Telpon dimatikan.
"Aaaaaah."
Rengek ku, menidurkan kepala ku di atas meja belajar.
"Tega banget punya orang tua."
Ketus ku, dengan wajah melas.
.
Ka Ell
Ia sedang duduk di kasur sambil menyandarkan tubuhnya pada kasur.
Tatapannya kosong, sedari tadi hanya memperhatikan langit-langit kamar yang gemerlap lampu tidur.
Kaki yang tertutup selimut dan baju hangat yang ia kenakan, memberikan kesan tampan meski dalam gelap sekalipun.
Ke dua lengannya di satukan, dan tak henti bergerak. Sesekali ia menghela napas dengan kasar.
"Apa itu keterlaluan?."
Ujarnya, tertunduk.
"Kakak tidak bisa meminta kamu untuk membuang perasaan itu. Tapi ada yang harus kamu tahu."
"Kakak mencintai perempuan lain."
"Lagian kakak tahu, sebenarnya kamu tidak pernah mencintai kakak. Rasa yang timbul di hati kamu hanya obsesi semata. Bukan cinta."
"Kak."
"Untuk saat ini kamu masih belum bisa membedakan mana cinta mana obsesi semata. Suatu saat nanti kamu akan paham."
Hanya kejadian ini yang terus saja melintas di pikirannya.
Ia merasa bersalah telah mengatakan hal itu pada ku.
"Kakak minta maaf."
__ADS_1
"Tapi Al. Kakak harus melakukannya."
Ujarnya menghela napas dengan berat. Lalu, ka Ell memutuskan untuk segera tidur dan mengistirahatkan perdebatan dalam kepalanya.