
"An. Seberapa sering kamu mengunjungi rumah pohon ini?"
Tanya ku lagi, Setelah senja indah itu mulai redup dengan malu-malu.
"Hanya ketika aku merindukanmu Al. Atau ketika aku membutuhkan tempat untuk diri ku sendiri."
Jawabnya, dengan wajah datar.
"Oh iya Al. Jika nanti kamu merindukan aku, kamu bisa datang ke tempat ini. Atau ketika kamu benar-benar tidak memiliki tempat lain selain rumah pohon ini."
"Mengapa? Bukankah ketika aku merindukanmu aku bisa datang ke rumah mu dan berkunjung ke tempat ini bersama-sama? Apa...."
Ujar ku menggantung.
Giandra menatap ku keheranan, menunggu lanjutan dari perkataan ku.
"Kamu akan pindah dari Yogyakarta?"
Tambah ku membuatnya tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa tertawa, tidak lucu juga. Orang lagi serius."
Ketus ku, memandang langit yang kini tidak ada lagi warna merah jingga di ufuk barat sana.
Namun, kerlip lampu yang terpasang di setiap atap membuat tempat ini tetap indah.
"Al. Tidak mungkin aku pindah dari kota ini. Aku tidak akan menemukan tempat baru seindah tempat ini. Aku tidak akan memiliki kenangan indah, seindah kenangan di sini. Aku tidak akan kemana-mana."
"Lalu mengapa kamu berbicara seperti itu?"
"Al. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak tahu sekejam apa semesta dimasa mendatang. Kita tidak akan pernah tahu skenario seperti apa yang sedang Tuhan persiapan. Aku hanya tidak ingin, ketika nanti hal-hal tidak terduga terjadi. Kamu akan bersikap egois dan memilih tempat gelap untuk berbagai pedih. Maka, aku ingin kamu datang ke ini. Rumah pohon ini milik kamu Al, aku membuatnya untuk kamu. Datanglah kapan pun kamu menginginkannya."
Entahlah. Perkataan Giandra kali ini membuat dada ku sakit. Sesak sekali rasanya. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, namun tetap disembunyikannya.
"Hik."
"Al. Aku tidak bermaksud..."
Perkataannya terpotong karena aku langsung memeluknya. Tiba-tiba saja aku menangis dalam dekapannya.
Hangat tubuhnya mampu membuat ku sedikit lebih tenang untuk menumpahkan air yang menggenang di pelupuk mata ku.
Giandra membalas pelukan ku. Mengusap kepala ku dengan penuh kelembutan.
"Hik-hik-hik. Berhenti berkata seperti itu. Aku tidak suka An, aku benci ketika kamu mengatakan hal-hal semacam ini."
"Emm. Aku minta maaf. Tidak akan lagi."
Jawab Giandra tersenyum.
.............
Mentari yang tadi pergi. Kini telah datang kembali. Seperti biasa, ia akan tetap seperti itu.
Tingtong-tintong
Tingtong-tintong
Tingtong-tintong
Suara bel apartemen berbunyi. Radit yang saat itu sedang memasak mie ramen segera menghampiri pintu dan membukanya.
"Naya."
Ujarnya terkejut, melihat perempuan yang memakai baju pendek dan rok sedengkul di hadapannya.
"Apa aku boleh masuk?"
Tanya Naya, di angguki Radit.
Ke duanya kemudian masuk.
"Tunggulah di sini. Aku akan kembali."
Ujarnya, di angguki Naya.
__ADS_1
Naya duduk di sofa, sementara Radit pergi ke dapur dan mengangkat mie miliknya yang kini sudah matang.
Setelah itu Radit pergi menghampiri Naya, perempuan yang kini statusnya adalah pacar miliknya.
"Ada apa? Mengapa datang ke sini sepagi ini? Bahkan tidak memberitahuku terlebih dahulu."
Tanya Radit, setelah ia duduk di samping Naya.
"Karena sekarang hari libur. Aku ingin kita pergi ke suatu tempat."
Jawab Naya.
"Keman?"
Tanya Radit, menyeruput mie miliknya.
"Kemana saja, yang penting kita pergi bersama."
"Baiklah-baiklah."
Drap
Drap
Drap
Langkah ka Ell yang lamban pun masih mampu menimbulkan suara. Ia pergi ke bawah untuk mengambil susu dan telinganya tidak sengaja mendengar percakapan ke dua manusia yang sedang duduk berdampingan di sofa sana.
Sesaat ketika ka Ell melewati ke duanya. Naya meliriknya, membuat ia dan ka Ell bertemu tatap. Namun dengan cepat Radit menatap Naya dan membuat ka Ell memalingkan wajahnya.
................
"Al. Segeralah pulang. Jangan terlalu lama di sana."
Tutur ka Ell di telpon.
"Emm. Alena akan segera pulang,"
Jawab ku melahap ubi yang baru saja di hidangkan Giandra di bangku halaman rumah.
"Biar Alena hubungi lagi kakak besok."
"Baiklah. Kakak tutup telponnya."
"Emm"
Tut
"Orang yang sama?"
Tanya Giandra, setelah handphone itu ku simpan di samping ku.
"Emm. Dia ka Ell, senior paling berprestasi di sekolah."
"Tapi aku tidak bertanya, dan tidak ingin tahu juga."
Jawab Giandra malas, membuat ku sedikit naik darah.
"Yasudah tidak jadi bercerita,"
Rajuk ku padanya.
"Yasudah, lanjutkan ceritanya."
Masih dengan wajah malas.
"Pertama bertemu, aku langsung menyukai ka Ell. Dia benar-benar seperti pangeran yang dikirim tuhan untuk ku."
Lanjut ku. Membuat Giandra menatap ku dengan serius.
'Lalu bagaimana dengan ku Al?'
Batinnya.
"Di sangat lembut, pengertian, dan baik. Semakin hari, aku semakin jatuh cinta pada sosoknya. Tapi, dia mencintai perempuan lain."
__ADS_1
"Apa kamu masih mengharapkan dia?"
"Tidak tahu. Aku mencintai ka Ell, tapi mamah menjodohkan aku dengan Radit, sepupunya ka Ell."
Lesu ku. Membuat Giandra terkekeh.
"Kok malah senyum. Kamu tidak terkejut dengan kabar itu? Hah?"
"Hahaha. Tidakkah. Lagi pula Orang tua kamu sudah memberitahu kami soalna itu."
Ujar Giandra. Yang tiba-tiba teringat kembali masa itu.
.
"Tapi mbok, pak De. Kita ingin menjodohkan Alena dengan Giandra."
Tutur mamah, di angguki papah.
"Cocokake Alena karo wong sing luwih apik tinimbang Giandra. Dudu kita ora pengin, nanging sing bisa kelakon."
Jawab pak De.
"ya wis. Si mbok setuju, Giandra uga ora setuju. Dheweke mesthi pengin sing paling apik kanggo Alena."
Tambah Si mbok.
Sementara Giandra hanya diam menunduk.
"Giandra."
Panggil Mamah menatap dirinya dengan lekat.
"Giandra tidak mungkin bisa menjaga Alena. Yang dikatakan pak De dan si mbok benar."
Tuturnya Menahan tangis.
Hati mana yang masih bisa tetap utuh. Ketika seseorang yang di inginkannya harus ia relakan bersama orang lain. Raga mana yang masih bisa tetap tegar, ketika pondasinya di robohkan paksa oleh kenyataan.
Mungkin benar. Salah satu cara mencintai paling baik, adalah merelakan.
.
"Oh iya. Siapa nama tunangan kamu?"
Tanya Giandra pada ku.
"Radit. Pria menyebalkan, pembuat onar, meski pintar dia tetap menjengkelkan."
"Haha. Al, dia tunangan kamu. Tidak seharusnya kamu menjelekkan dia seperti itu."
"Tapi An, dia memang benar seperti itu."
"Iya-iya."
"Oh iya. Bagaimana kabar Namara?"
Tanya ku, mulai mengingatnya.
Namun tiba-tiba saja wajah Giandra menjadi muram.
"Dia sudah pergi Al, ke tempat yang sangat jauh."
Jawabnya serak.
"Dia tidak akan bisa kembali. Meski beberapa kali aku meminta dan menangis sangat lama."
Tambahnya menghembuskan napas dengan beras.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku? Kapan dia pergi? Kenapa bisa seperti itu?"
"Dua tahun yang lalu, dia sakit kanker. Aku pernah menghubungi orang tua kamu, tapi tidak ada respon"
Membuat ku hanya bisa terdiam.
............
__ADS_1