
Radit pergi ke toilet untuk membersihkan baju nya. Dan aku masih berlari mengejarnya dengan menjinjing tas.
"Alena."
Panggil seseorang, membuat ku berhenti berlari, dan sedikit memundurkan langkah ku.
"Kakak."
Jawab ku, melihat ka Dava sedang berdiri di depan pintu kelasnya.
"Untuk hari ini, bisa pulang bareng kakak?."
Tanyanya, duh apa yang harus aku jawab. Pengennya si nolak dan pulang bareng ka Ell. Tapi bagaimana?.
"Emm, Alena usahakan ka."
"Sekarang, Alena sedang buru-buru. Dadah kakak."
Jawab ku kembali berlari.
"Kakak tunggu di parkiran, jangan lupa."
Teriaknya masih ku dengar.
"Baik ka."
Jawab ku, sedikit berteriak sambil melambaikan tangan.
.
Toilet
"Hah-hah-hah."
Akhirnya, aku sampai. Napas ngos-ngosan ku masih ku kendalikan.
Radit yang sedang fokus pada bajunya, kini beralih memandang ku dengan kedua lengan di dalam saku celana.
"Nah."
"Baju kamu."
Tutur ku memberikan baju dari dalam tas ku.
Dengan cepat Radit mengambilnya.
"Et-tetete."
__ADS_1
"Ganti baju di dalam toilet saja, tidak usah di sini."
Kaget ku, ketika Radit hendak membuka kancing bajunya.
Dengan senyum meledek, Radit pergi ke dalam toilet tanpa sepatah kata pun.
Dan aku, masih berdiri di tempat, tepat di depan cermin toilet.
"Cantik juga kamu Alena."
Puji ku sendiri, membenarkan rambut sebahu ku.
"Kenapa Lo masih disini?."
Tanya Radit, berdiri di belakang ku. Aku membalikkan badan dan menatapnya.
"Nunggu kamu lah."
Pria itu menaikkan ke dua alisnya, membuat ku sedikit bingung.
"A-aku cuma mau bilang terimakasih. Dan soal tadi aku minta maaf."
Jelas ku, dan langsung pergi meninggalkan Radit yang masih memperhatikan ku dengan wajah datarnya.
"Polos sekali dia."
.
Kelas
"Dari mana saja?."
Tanya Nara pada ku. Ketika aku baru saja duduk di bangku.
"Tuh."
Jawab ku, menunjuk Radit yang baru saja datang di bibir pintu.
"Pantas saja."
Tuturnya, membuat ku mendelik kesal.
Radit duduk di bangkunya, dan ke dua temannya langsung menghampiri dia.
"Baju Lo kenapa? Masih pagi gini sudah menggunakan pakaian bebas."
Tanya Padil, yang membuat Radit langsung menatap ku dengan malas.
__ADS_1
Membuat Padil dan Boby juga ikut memperhatikan ku.
"Apa?."
Ketua ku, Radit lalu menyimpan tasnya dan membiarkan ku. sementara Padil dan Boby hanya cengar-cengir.
"Tidak papa Alena Hehe."
Jawab Boby, langsung merangkul Radit, di ikuti Padil.
"Jadi, kenapa Alena bisa menjadi dalangnya?."
Ledek Boby, dengan cepat Radit melepaskan ke dua lengan temannya.
"Tanya saja sendiri. Akan gue beri pelajaran cewe polos itu."
"Wis, jangan gitu dong bro. Alena perempuan baik, mana cantik lagi."
Tolak Padil dengan argumen Radit.
"Bener tu, ntar jatuh cinta berabe Lo."
Sangut Boby. Membuat Radit semakin kesal.
"Berisik Lo pada. Mana mungkin gue suka sama perempuan model dia."
Tuturnya dengan jelas aku mendengarnya.
"Wah, emang kamu pikir aku perempuan model apa hah?.'
Emosi ku menatapnya jijik.
"Polos, pembawa sial, munafik, sama satu lagi. Pendek dasar kurcaci."
Jawab Radit melawan.
"Gila memang."
"Al sudah, Radit tidak perlu di dengar."
Ujar Nara pada ku.
"Heh, Awas aja ya. Alena balas semua perkataan kamu."
Tutur ku masih emosi. Hampir saja aku akan melempar Radit dengan buku, namun Padil dan Boby, juga Nara dengan cepat menahannya.
Aku duduk membelakangi mereka, napas ku masih bergemuruh, dada ku sulit di kendalikan. Emosi masih tak kunjung mereda.
__ADS_1
Radit meninggalkan kelas, di ikuti ke dua temannya. Sementara Nara, masih setia menenangkan ku