Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Lima menit sudah aku dan ka Dava menikmati makanan kita. Tapi, masih juga belum selesai.


"Dav. Hah-hah-hah."


Panggil seseorang menghampiri kita dengan napas ngos-ngosan.


"Ada apa?."


Tanya ka Dava terlihat bimbang.


"Renal cedera, Lo bisa gantikan dia main sekarang?."


Tanyanya, setelah merasa lebih baik.


"Lo tidak lihat gue lagi makan?."


"Ya lihat si. Tapi gimana lagi."


Membuat ka Dava menarik napasnya dengan panjang, membuat ku memainkan bibir.


"Dav, cepet."


"Iya-iya."


"Nah gitu dong."


Senang pria itu. Dia teman ka Dava, aku tidak tahu namanya si, tapi mereka sering berbarengan. Apalagi ketika ada pertandingan basket.


"Kakak duluan ya, habiskan nasi gorengnya."


Pamit ka Dava pada ku. Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Yaelah, so manis banget si Lo Dav."


Ketus pria itu, membuat netra ka Dava menatapnya dengan sinis.


"Terserah gue dong."


"Yayaya."


Malas pria itu menyimpan ke dua lengannya di pinggang dan pergi lebih dulu.


Ketika hendak pergi, tangan kanan ka Dava tiba-tiba menyentuh puncuk kepala ku. Ya dia mengelus kepala ini. Emmm.


"Dah."


Pamitnya lagi, meninggalkan ku sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Aku hanya diam melongo, tak percaya dengan apa yang di lakukan ka Dava pada ku.


Harus ku akui. Ka Dava memang tampan, perhatian, lembut, baik, dan pintar juga. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik padanya.


Di hatiku, hanya ada pangeran kodok tercinta. Ya meski ia tidak bisa membalas perasaan ini. Sudahlah aku tidak mau memikirkan hal itu.


"Alena."


Panggil seseorang membuat ku tersadar dari lamunan.


"Wah. Gaya rambut baru ya? cocok benget, kamu jadi terlihat lebih cantik Al."


Tambahnya duduk di hadapan ku. Sambil menopang dagu oleh ke dua lengannya dan memandangi ku sambil senyam-senyum.


"Nara, tidak usah lihatin aku seperti itu. Risih tahu."


Ketus ku kembali makan.


"Hehe, cantik banget kamu Al. Jadi iri."


"Yey, modus kok sama cewe lagi tidak waras kamu Na."


Ledek ku.


"Ih orang aku serius juga."


Ujar ku, meraih tas dan meninggalkan Nara di sana sendirian.


"Al. Kok pergi?."


Teriknya memperhatikan ku.


"Al. Temenin aku makan."


"Al. Aaaaaaaaal."


Teriak Nara tak ku hiraukan.


Jam pelajar telah berlangsungnya sedari lima jam jam yang lalu, istirahat pun sudah usang tadi. Dan sebentar lagi jam pulang tiba.


Kring-kring-kring. Nah, bel pulang akhirnya bernyanyi. Para siswa berhamburan meninggalkan kelas.


"Woy jangan pulang. Kita latihan dulu."


Teriak ketua kelas kami.


Membuat kami menanggapinya dengan malas.

__ADS_1


"Kita latihan di tempat pemotretan."


Tambahnya pergi lebih dulu. Lalu kami pun bergegas untuk segera menyusulnya.


.........


"Baiklah, di mulai dari kami Al."


Ujar Dika, setelah kami sampai di ruangan tempat kami praktek.


Aku mengambil kertas drama ku.


"Radit woy, Lo mau latihan apa tidak?."


Teriak Dika, membuatnya berjalan malas dan berdiri di hadapan ku. Ya kita berdua berdiri di sekeliling teman-teman sekelas kita.


Malu tentu aku malu, tapi demi nilai bahasa Indonesia ku aku siap.


"Oke. Mulai."


Ujar Wina.


"Bram. Berapa kali aku bilang, kamu terlambat. Aku sudah tidak lagi mencintai kamu. Jadi, pergilah."


Ujar ku tertunda.


"Ah. Ah.."


Tutur Radit gelagapan.


Dika menghela napasnya dengan kasar.


"Dit. Lo tidak menghapal teksnya apa?."


"Ya."


"Hah."


"Heh datar. Itu tugas kamu kenapa tidak di kerjakan? pemalas."


Ujar ku menatapnya dengan tajam.


"Gue gak perduli."


Jawab Radit melipat ke dua lengannya di depan dada.


"Gue sudah bilang, gue tidak mau jadi pemeran utamanya."

__ADS_1


Tambah dia, meninggalkan ruangan ini.


__ADS_2