
Sepanjang perjalanan menuju rumah, aku hanya memperhatikan jalanan, karena Radit juga hanya sibuk menyetir.
"Rasanya ini tidak adil."
Gumamku, menghela napas dan menyimpan dagu di tangan yang ku simpan di dekat jendela mobil.
Radit menoleh sesaat, dan tersenyum.
"Kita tidak tahu rencana apa yang tengah di siapkan Tuhan. Jangan mengutuk takdir sebelum kamu sampai pada titik akhir."
Sahut Radit kemudian, membelokkan mobilnya di perempatan jalan menuju rumah ku.
"Kamu benar. Tapi, aku hanya tidak mengerti mengapa Tuhan selalu memisahkan aku dengan Giandra."
Jawabku, menyandarkan tubuh pada jok mobil.
"Ketika kamu kehilangan, maka Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Percaya saja, bukannya tuhan tidak pernah keliru tentang takdir,"
"Aku hanya tidak bisa merelakannya secepat itu,"
"Tidak perlu terburu-buru. Tuhan paham dengan kapasitas mu."
Tuturnya, mengehentikan mobil karena kita telah sampai di depan rumah mamah. Dengan gontai aku menuruni mobil di susul Radit.
Radit mengambil tas milikku di bagasi, dan aku berjalan menuju pintu rumah. Entah kenapa manusia itu menjadi sangat baik pada ku, perkataannya juga selalu berhasil membuatku tenang.
Clek
Aku membuka pintu dan mendapati mamah dan papah sedang duduk di sofa menonton televisi.
"Loh, Alena."
Kaget mamah, melepaskan pelukannya dari papah.
Aku segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
Sementara Radit berjalan dengan santai.
"Mamah hik-hik."
Lirihku, dalam dekapannya.
"Tidak papa sayang, kamu bisa melaluinya."
Jawab mamah mengusap rambutku dengan lembut. Dan Papah kemudian menyuruh Radit untuk duduk di sampingnya.
"Mah,"
"Alena, kamu boleh menangis. Tapi ingat, belajar merelakan agar rencana Tuhan tidak terasa menyakitkan."
Tutur mamah, membuatku kembali memeluknya.
Sementara Radit dan papah hanya diam memperhatikan.
__ADS_1
.
Di pemakaman Giandra, seorang perempuan dengan celana abu dan switer Merah tengah berdiri menatap gundukan tanah di hadapannya.
"An, terimakasih. Terimakasih untuk selalu memberikan apapun yang Namara inginkan. Terimakasih telah berjuang hingga sejauh ini, tolong maafkan aku karena telah mengambil Namara dari hidupmu. Dari kamu dan Alena. Hik."
Isaknya, memegangi papan nisan milik Giandra.
"Kamu benar, aku menyesal An. Aku sangat menyesal telah membiarkan Namara pergi. Kamu benar tentang semua itu. Tentang betapa egoisnya aku, tentang betapa tak pernah perdulinya aku dengan keluarga ku. Aku hanya mementingkan diriku sendiri, aku hanya menjaga kebahagiaan ku sendiri tanpa memperdulikan kesakitan orang lain."
Tuturnya dalam tangis.
"Untuk kali ini, aku akan berusaha keras menjadi seperti yang kamu dan Namara pinta. Aku akan melakukannya An hik-hik-hik."
Sakit yang tak terlihat memang begitu menyiksa. Kita di paksa menerima padahal hati belum rela. Kita dipaksa tegar dengan raga yang pondasinya di robohkan kenyataan. Tapi, untuk rencana Tuhan, kita memang perlu melangkah meski harus memapah dengan lelah.
.
Ka Ell yang baru saja sampai di rumah orang tuanya Radit langsung bergegas menuju kamar.
Ia menyimpan jaketnya di atas kasur dan langsung menuju balkon kamar. Ka Ell meraih gawainya untuk menghubungi seseorang yang membuatnya begitu khawatir.
"Mengapa susah di hubungi, handphonenya juga mati."
Gusarnya, ketika beberapa panggilan darinya tanpa jawaban.
Ia duduk di kursi pojok dan menyimpan handphonenya di atas meja. Menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, sedang pikirannya masih meracau Tan bisa dikompromi untuk tenang.
Gumamnya. Karena ia tidak menemukan perempuan itu di kosan tempat biasanya Naya tinggal. Ibu kos juga bilang bahwa Naya telah pergi sedari pagi dengan seorang pria.
"Apa dia benar-benar di bawa ke Bandung oleh ka Dika?"
Tuturnya lagi, kemudian ka Ell mengingat surat yang di berikan penjaga puskesmas. Ya, surat dari Naya untuknya. Ka Ell kemudian merogoh saku celananya dan membuka amplop itu.
'Kakak, Naya akan kembali ke Bandung dan melanjutkan sekolah di sana. Jangan khawatir, di sini Naya akan baik-baik saja, dan Naya harap kakak juga baik-baik saja di sini. Tolong jaga Radit, jangan sampai pertunangannya dibatalkan. Karena Naya tahu kalau Alena perempuan baik. Dan, kakak tidak perlu mencari Naya untuk waktu ini, tapi kembalilah ketika kita di takdirkan bersama.'
Begitulah isi surat yang di dapatkan ka Ell. Sedikit sesak, tapi ia tahu kalau semua itu ka Dika lakukan untuk kebaikan Naya. Ia bisa apa, selain berharap bahwa ia akan kembali dipertemukan dengan perempuan yang begitu ia cintai, sedari dulu.
.
20.00
Mamah yang baru saja selesai memasak mengajak aku untuk makan. Ketika aku dan mamah turun dari lantai atas, aku melihat Radit yang sudah duduk di kursi makan bersama Papah.
"Loh, kamu belum pulang?"
Tanyaku, menggeserkan kursi dan duduk di hadapan Radit, di susul mamah yang duduk di dekat papah.
"Belum, papah memintanya untuk makan bersama terlebih dahulu."
Jawab papah menatapku, sementara Radit hanya tersenyum menerima piring yang di asongan mamah.
"Nah, makanlah."
__ADS_1
Ujar mamah, membuat suasana mencair dan kita mulai makan.
Ketika sedang sibuk memilih daging kepiting dari cangkangnya, tiba-tiba Radit memberikan mangkuk kecil padaku. Membuat ku menatapnya dengan heran. Sementara papah dan mamah hanya saling pandang dan saling tersenyum.
"Makan saja,"
Ujar Radit, aku menggigit bibir bawah sambil menatapnya dengan tajam.
"Tumben sekali."
Tuturku, meraih mangkuk kecil yang diberikan Radit. Dan langsung melahap daging kepiting itu dengan lahap.
Setelah makan. Aku kembali ke kamar dan berdiri di balkon kamar sambil menatap langit tanpa bintang. Hanya ada rembulan yang dibalut awan hitam.
"Aku akan pulang."
Lagi-lagi Radit mengejutkan ku. Ia berjalan menghampiri ku dan berdiri di samping ku dengan ke dua lengan di dalam saku celana.
"Lalu?"
Tanyaku, tak perduli. Membuat Radit menatap diri ini dengan wajah yang di tekuk.
"Menyebalkan sekali,"
Cibir Radit, memandang ku dengan tajam.
"Katanya mau pulang, kok masih di sini?"
Tanyaku, membuatnya membuang wajah.
"Sangat polos."
Gumam Radit, yang samar ku dengar.
"Hah? kamu bilang apa barusan?"
"Tidak ada, besok gue jemput jam 10.00.”
Jawabnya, pergi meninggalkan balkon kamar.
"Mau kemana? Bukannya besok hari libur?"
Teriakku, menatap kepergiannya.
"Bersiap saja,"
Ujarnya, yang sudah hilang dari kamarku. Memang pria yang sangat menyebalkan, baru saja sore tadi dia berlaku sangat ramah dan baik. Sekarang dia sudah kembali menjadi pria menyebalkan lagi.
Aku tak menghiraukan perkataan Radit. Aku lebih memilih menatap lampu-lampu kota yang menyala dengan indah. Membuat hati dan pikiran ini kembali mengingat Giandra.
"Aku berjanji untuk mengunjungi rumah pohon itu lagi. Seperti yang kamu bilang, aku akan menjadikannya tempat dimana aku bisa menemukanmu."
Gumamku, menghembuskan napas dan menengadah, memejamkan netra agar rasa sakit ini segera sembuh.
__ADS_1