
Brak
Aku terjatuh, tiba-tiba saja sesuatu mengenai kepalaku dengan sangat keras.
"Au."
Rengek ku memegangi kepala.
"Al. kamu tidak papa?."
Khawatir Nara, membantuku untuk duduk.
"Alena."
Ujar ka Dava ikut jongkok melihat keadaan ku.
"Radit."
kesal ka Ell pada keponakannya yang sedang cengengesan senang melihat ku kesakitan.
"Kenapa? Tidak suka? Apa urusannya dengan Lo?."
Jawabnya meremehkan.
"Hah."
Dengus ka Ell menghampiri ku, dan Radit ia hanya diam melipat ke dua lengannya. Sementara seorang perempuan dari kelas TKJ yang hanya duduk tadi memilih pergi ke kelas.
"Pusing Na."
Ujar ku, memijat bagian yang terkena bola basket.
"Kita ke UKS Al."
Jawab ka Dava, namun ketika hendak menggendongku. Tiba-tiba ka El dengan cepat meraih ku, tanpa basa-basi.
"El. El."
Seru ka Dava pada ka El yang tengah berlari membawa ku ke UKS.
"Hah, sekhawatir itu ka Ell pada Alena? beruntung banget kamu Al."
Gumamnya yang samar di dengar ka Dava.
Pria itu hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah tak suka. Sementara Nara, dia cengengesan salah tingkah.
Lalu ka Dava meninggalkan Nara di lapangan, entah akan menuju kemana dia.
"Heh Radit? Sengajakan Lo celakai Alena ? Bedebah."
Ketus Nara, menatap Radit yang masih di tempat.
__ADS_1
"Kalau iya kenapa? Haha."
Jawabnya meremehkan dan pergi dengan ke dua temannya yang saat itu sedang minum dan beristirahat, sehingga tidak mengetahui kejadian itu dengan jelas.
"Menyebalkan, awas saja. Alena akan balas perbuatan kamu."
Emosinya, mengambil minuman milik Alena pemberian dari ka Dava dan menuju arah UKS.
"Ka Ell."
Lesu seorang gadis, yang melihat ka Ell sedang berlari menggendong ku di koridor.
"Perempuan itu."
Tambahnya, dengan muka datar. Lalu ia melihat Nara yang juga tengah berlari menyusul ka Ell.
"Apa separah itu Radit melempar bolanya?."
Ketusnya kembali ke dalam kelas dan mengurungkan niatnya untuk ke kantin.
"Kenapa Lo dit, dari tadi kerjaan Lo hanya senyam-senyum?."
Kesal Boby pada temannya yang sedang mengaduk-aduk teh manis sambil menopang dagu.
"Yaelah, lagi kasmaran dia."
Sahut Padil menyandarkan tubuhnya pada kursi kantin.
Malas Boby.
"Sembarang, mana mungkin gue kasmaran."
"Nah terus kenapa?."
Introgasi Padil.
"Tadi gue habis lempar Alena pake bola voli, seneng banget lihat dia pisan haha."
"Parah Lo dit, apa jangan-jangan."
Ujar Padil menggantung, membuat Boby memandangnya penasaran, dan Radit dia hanya menaikkan ke dua alisnya dan menyeruput teh manis.
"Lo psikopat."
Tambah Padil, membuat Radit tersendat.
"Eh, muka segini imutnya Lo bilang psikopat. Sembrono."
"Hahaha. Imut? bulu ketiak Lo imut dit."
Ledek Boby, membuat dia mendelik kesal.
__ADS_1
"Tega Lo. Kalau tidak suka Alena, setidaknya jangan sakiti dia. Mau gue embat."
Datar Padil, membuat ke dua temannya tercengang.
"Lo serius?."
Jawab Radit dan Boby, yang dengan cepat dia angguki Padil.
.
Cafe
"Jadi anak ibu bernama Alena? Cantik juga."
Ujar seorang perempuan paruh baya, yang sedang melihat sebuah foto.
"Iya. Radit juga tampan kelihatan."
Jawab Bu Cinta, mamah ku.
"Iyalah, orang papahnya saja tampan."
Jawab pak Toni sombong, membuat ke tiga orang di sekitarnya terkekeh.
"Jadi, kita sepakat?."
Tanya Pak Yana, iya dia bokap gue.
"Sepakat."
Jawab Bu cinta, Bu meli dan pak Toni.
"Kapan mereka akan tinggal bersama? di satu rumah."
Tanya pak Tono.
"Lusa saja, tapi apakah tidak papa jika hanya tinggal berdua? Saya takut terjadi sesuatu."
Lesu Bu cinta.
"Benar juga."
Jawab pak Yana.
"Ah, saya punya keponakan. Biar saja dia juga ikut tinggal bersama Alena dan Radit. Lagian Ell sudah cukup dewasa untuk mengawasi mereka berdua."
Sahut Bu Melly.
"Mamah benar. Sekarang, kita tanda tangan matrai ini."
Ujar pak Toni mengasingkan sebuah kertas.
__ADS_1