
Saat malam datang. Dan sunyi menjadi seorang dalang. Maka rindu akan meratu merayu waktu agar Sudi memberi tahu. Mengapa hatinya mencemaskan seseorang? mengapa ia selalu ingin mendapatkan kabar? atau, mengapa ia bisa sesibuk itu menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak tentu.
Melamun, mengutak-atik handphone. Dan sesekali berdiri dan berjalan ke arah pagar balkon. Radit melakukan hal-hal itu Berung kali.
Merasa percuma. Radit memilih ke lantai bawah, namun ketika ia baru saja menuruni satu anak tangga, Radit melihat ka Ell yang baru saja pulang.
ke duanya bertemu tatap, ka Ell segera pergi menuju kamarnya.
"Dimana Naya?"
Tanya Radit, membuat ka Ell tak jadi membuka pintu.
"Dia menghilang beberapa waktu ini? Lo bawa dia kemana?"
Tambahnya sedikit emosi.
"Bukannya Lo pacar dia? kenapa ketika masalah datang Lo malah tanya gue? apa hubungannya gue dengan semua ini?"
Jawab ka Ell tanpa membalikkan badan. Menyimpan lengannya di samping tubuhnya.
"Beberapa waktu ini Lo juga tidak pulang ke sini bukan? Jelas itu ada hubungannya."
__ADS_1
Yakin Radit. Membuat ka Ell menarik napas.
"Jika Lo benar-benar mencintai dia. Ini semua tidak akan pernah terjadi bukan?"
Jawab ka Ell tegas, membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Radit yang masih mematung di tangga.
"Brengse*"
Kesalnya, memukul pagar tangga.
"Aaaaaaah."
Teriaknya, memalingkan wajahnya dengan kasar.
21.05
Aku sedang berdiri di balkon. Memandang suasana malam ini dengan tatapan kosong.
'Namara, mengapa kamu menyembunyikannya?'
Batin ku, memegang pagar balkon dengan semakin erat, meluapkan emosi yang tak mungkin ku lampiaskan.
__ADS_1
Tiba-tiba aku mengingat sesuatu dan segera pergi mengambil sebuah kotak di bawah ranjang dan membawanya ke atas kasur.
Dengan cepat, aku membuka semua isi di dalam kotak itu. Aku terdiam sejenak ketika kembali melihat beberapa kiriman pesan dari Namara yang belum ku baca.
Satu persatu surat itu mulai ku baca. Namun, tidak ada sesuatu yang menarik selain bertanya kabar, dan mengatakan kerinduan. Hingga, aku di kejutkan dengan satu syarat yang di tulis Namara.
'Alena. Ada apa? mengapa sampai saat ini aku tidak mendapatkan satu surat pun darimu? Apa kamu sesibuk itu? Aku mengerti, tapi. kumohon luangkan waktumu lima menit saja untuk menulis sesuatu yang bisa membuat ku lega.
Aku merindukan mu Al. Aku rindu kebersamaan kita, meski aku tahu, kamu sering sakit hati karena sikap Ku. Maaf, aku selalu merampas banyak waktu Giandra untuk hanya pergi berdua dengan ku. Menghabiskan eskrim, dan menikmati senja hingga perjalanan malam. Tapi Al, aku melakukan itu hanya karena aku ingin bisa lebih lama bersama orang yang ku sayang. Ya, bahkan sampai saat ini, aku masih mencintai Giandra. Meski aku tahu dia hanya mencintai kamu Al. Dia hanya akan mencintai dan menunggu kamu kembali.
Aku egois untuk semua itu. Tapi, sungguh. Aku hanya ingin menghabiskan waktu yang lama ini bersamanya. Meski aku tahu itu melukai mu Al.
Kamu tahu? Saat itu, ketika kamu pergi, Giandra mogok segalanya. Dia berubah menjadi sangat pendiam. Ia bahkan sering bolos dalam pelajaran tambahan ketika akan diadakan ujian. Padahal, dia berkata ingin melanjutkan sekolah menengah atasnya ke Cianjur. Agar bisa bersama kamu Al. Hahah, iya. Dia seberubah itu karena kamu Al.
Jika nanti aku pergi, jauh dan mungkin tidak lagi akan kembali. Aku mohon, jaga Giandra untuk pertemanan kita, kalaupun kamu sudah lagi tidak menginginkan cintanya, tolong jangan sakiti dia lebih dalam lagi.
karena mungkin, aku akan pergi lebih cepat, bahkan sebelum kelulusan ini datang.
Dan tunggulah surat selanjutnya kami dapatkan. Mungkin, itu sebuah pengakuan yang selama ini selalu ke sembunyikan.
Namara. '
__ADS_1
Begitulah, pesan yang di tulisnya.
Sesak sekali rasanya. Ternyata, dia begitu setia menunggu jawaban surat dari ku, tapi anehnya aku malah menuruti ego ku yang egois itu. Tunggu, dia bilang, dia. Mengirim ku untuk sebuah pengakuan? Apa itu tentang kematiannya? Atau?