Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Aku masih diam, memperhatikan dia makan.


"Kenapa? Mau?."


Ujar Radit, Karena perut ku terus saja berbunyi. Aku terpaksa menghampiri Radit dan duduk di sebelahnya.


Radit lalu menyodorkan satu bungkus roti rasa abon pada ku.


Namun, aku tidak meraihnya.


Aku memperlihatkan ke dua lengan ku yang begitu kotor.


Radit lalu membuka Tori itu dan menyodorkannya pada ku. Dengan ragu aku melahap roti itu dari tangan Radit.


"Lo kesiangan? Hah?."


Tanya Radit.


"Semua ini juga gara-gara kamu, kenapa harus nyuruh aku turun di tengah jalan."


Rajuk ku padanya, dengan mulut penuh dengan roti. Radit tersenyum dan memalingkan wajahnya.


"Kenapa?."


Tutur ku.


"Tidak ada."


Jawabnya, masih memegang Tori untuk aku makan.


"Radit."


Tiba-tiba seseorang memanggil nama Radit dari arah selatan. membuat aku dan Radit memandangnya dengan datar.


"Naya."


Jawab Radit.


"Kamu sibuk ya?."


Tuturnya setelah tepat berada di depan kita berdua.


Wajahnya terlihat lesu, melihat Radit menyuapi ku roti.

__ADS_1


"Tidak kok. Memangnya kenapa?."


Jawab Radit.


"Aku mau makan, tapi tidak ada teman untuk ke kantin."


Kecewanya. Radit melirik ku, membuat aku yang sedang mengunyah roti mengernyitkan dahi.


"Yasudah, kita pergi sekarang."


Ujar Radit.


"Tapi, bagaimana dengan Alena?."


"Dia bisa makam sendiri."


"Dit."


Panggil ku, ketika pria itu menyimpan roti yang hanya tinggal sepotong itu di atas keresek.


"Makam sendiri, tidak usah manja."


Sinisnya pada ku. Lalu mereka berdua pergi begitu saja.


Terik ku, merasa emosi. Bagaimana bisa dia lebih memilih wanita itu dari pada tunangannya sendiri. Eh, lupa ini semua kan cuma sandiwara penerimaan perjodohan. Hah, merepotkan sekali.


"Al."


Panggil seseorang, aku menoleh hingga kita bertemu tatap.


"Kakak."


Jawab Ku. Ka Dava lalu duduk di samping ku. Netranya melirik roti yang hanya tinggal sepotong itu, lalu netranya beralih pada ke dua lengan ku, dan pandangnya beralih lagi pada wajah ku yang masam.


"Kenapa rotinya tidak di makan?."


Tanya ka Dava membuat ku menghela napas malas.


"Kakak lihat sendiri bukan, ke dua tangan Alena kotor."


Jawab ku ketus membuatnya terkekeh-kekeh.


"Yasudah biar kakak yang suapi."

__ADS_1


Timpalnya menyodorkan roti itu pada mulut ku, dengan ragu-ragu aku melahapnya.


"Ehem."


Suara deheman itu membuat ku berhenti dan tidak melahap roti itu. Aku dan ka Dava lalu melihat siapa seseorang di sana.


"Ka Ell."


Ujar ku melihat pria itu sedang berdiri dengan ke dua lengan di saku celana, dengan wajah coolnya.


"Dimana Radit? Mengapa malah Dava yang berada di sini?."


Tanya ka Ell menghampiri kita berdua.


"Dia pergi dengan Naya."


Jawab ku lesu, sementara ka Dava hanya diam menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Naya?."


Tegasnya pada ku.


"Emm. Naya meminta Radit untuk menemaninya pergi ke kantin."


Jelas ku. Lalu wajah ka Ell berubah menjadi seperti sangat sedih. Padahal yang seharusnya sedih juga aku kali ka. Mana lapar, tangan kotor, tidak ada yang perduli pula. Untung saja ka Dava datang.


.


Kantin


Naya dan Radit memasuki kantin.


Dari arah Selatan, Nara dan yang lainnya melihat ke datangan dua manusia itu.


"Lah, bukannya Radit pergi menemui Alena? mengapa dia malah bersama Naya?."


Heran Nara, memperhatikan Radit dan Naya yang memilih duduk di dekat bibir kantin.


"Wah, para si Radit. Gimana nasib gebetan gue."


Ketus Padil ikut-ikutan.


Boby dan farel ikut memperhatikan Radit di pojok sana.

__ADS_1


Mereka terlihat begitu dekat dan bahagia. Seolah mereka adalah sepasang kekasih di sekolah ini.


__ADS_2