Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
Cinta yang Sedang Bertumbuh


__ADS_3

Sampailah kita pada tempat ke-lima yang di beri tanda pada peta.


Di sana, terdapat sebuah kotak yang tergembok. Banyak kelompok lain yang sepertinya sedang mengerjakan sesuatu.


"Di sini ada yang masih hapal mengenai materi sigma?."


Tanya ka Dafa, membuat kami hanya saling pandang.


"Biar gue coba." Ujar Radit, sedikit sombong.


"Bagus, cobalah." Senang ka Rere pembimbing kami juga.


Dengan teliti aku memperhatikan cara kerja otak Radit dalam menghitung soal Sigma untuk membuka gembok yang terkunci.


"Angka 1, 3, 9, dan 11." Ujarnya kemudian.


"Tidak, angka yang benar adalah 1, 5, 9, dan 13." Sanggah ku, membuat yang lain seperti kebingungan.


Dengan sedikit gugup aku hanya cengengesan dan pergi ke barisan belakang.


"Benar. Jawaban Alena yang benar." Tutur ka Dafa sumringah.


Membuat ku malu setengah pingsan hehe engga deh.


"Sialan." Bisik Radit di telinga ku ketika kami hendak menuju tempat selanjutnya.


"Kenapa dengan dia?." Heran ku sedikit manyun dan tidak menghiraukannya.


"Hebat Al, gue saja sudah lupa materi itu." Ujar Nara, membuat pipi ku kembali memerah.


.


17.45


"Ini kotak terakhir, jika kita bisa membukanya, otomatis kita menjadi juara pertama." Jelas ka Rere pada kami.


"Hai El." Sapa ka Dafa pada ka El yang sedang menjaga anak-anak yang di bimbingannya.


"Hai Dav." Jawab ka El menghampiri kami.


"Bagaimana? Soal ini terlalu rumit untuk mereka."

__ADS_1


Lesu ka El, sedikit bimbang.


"Gue si tenang saja, soalnya kelompok gue punya Alena, iya gak?."


Godanya pada ku, membuat yang lain bersorak.


Sementara Radit hanya diam menyandarkan tubuhnya pada pohon di dekat sana.


ka Ell lalu menatap ku dan tersenyum.


Sungguh teduh diri ini menyaksikan manisnya wajah pria itu berseri.


"Integral. Buset." Teriak ka Rere membuat aku dan yang lain terkaget.


"Alena, apa kamu bisa?." Gusarnya pada ku.


"Biar Alena lihat." Ujarku meraih lembar kertas berisi soal.


Sedikit, terkejut karena soalnya sedikit mengecoh ku. Tapi untunglah otak ku masih berfungsi dengan baik.


"Tujuh belas." Ujar ku membuat ka Dafa senang begitupun yang lain, terkecuali Radit.


"Yeeeee. Lo lihat kan Ell, Alena memang hebat." Seru ka Dafa.


"Yaelah, itukan yang Lo mau. Munafik." Ketus Radit beranjak pergi.


Mendengar itu, aku hanya diam tak berdecak.


"Jangan hiraukan perkataannya, dia memang seperti itu."


Tutur ka Ell yang langsung ku angguki.


.


18.00


Akhirnya, kegitan Pramuka blok telah selesai di laksanakan.


Dan betapa berantakannya aku, wajahku dan pakaian ku. Huh, menjengkelkan.


"Alena. Apa kamu tidak membawa baju ganti?."

__ADS_1


Tanya Nara ketika kita sedang berjalan menuju kelas.


"Tidak Na, lupa Aku." Jawabku lesu.


"Yaampun. Terus masa iya kamu pulang pake baju kotor gitu."


"Ya, gimana lagi. Tidak papa deh."


"Hah. Ceroboh." Ujarnya, membuatku membulatkan mata.


Lalu, Nara masuk ke dalam kelas untuk membawa baju gantinya. Sedang aku, hanya berdiri di depan kelas menunggu Nara untuk pergi ke WC.


"Dit, kelas sebelas teknik ngajak aduk voli."


Ujar seorang laki-laki dari arah barat yang samar-samar ku dengar.


"Kita terima." Jawabnya santai.


"Yes. Besok sepulang sekolah." Senangnya merangkul Radit.


Dengan tatapannya yang angkuh, Radit melepaskan rangkulan Farel dan berjalan lebih dulu.


"Hai Al." Sapa farel, ketika mereka sudah di hadapanku.


Radit terdiam dan menatap ku dengan sinis.


"Hai." Jawab ku tersenyum.


Kemudian Nara keluar, dan berdiri di samping ku.


"Kalian mau mandi?." Tanya Farel yang baru saja datang.


"Emm." Jawab Nara sementara aku hanya mengangguk.


"Lah, baju kamu mana Al?." Seru Boby.


"Dia tidak membawa baju ganti."


Timpal Nara membuat ku hanya terkekeh.


Kemudian Radit pergi ke dalam kelas, membuat ke dua temannya itu buru-buru menyusul.

__ADS_1


Aku dan Nara juga bergegas untuk pergi ke WC.


__ADS_2