Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
Banyak hal yang harus direlakan


__ADS_3

Setelah drama selesai, kelas TMM 1 diperbolehkan untuk beristirahat karena masih ada jam pelajaran Indonesia yang tersisa. Jadi aku dan Nara memutuskan untuk pergi ke kanti, beberapa temanku juga pergi ke kantin, namun ada juga yang berdiam di kelas merumpi.


"Boleh gabung?"


Tanya seseorang ketika aku dan Nara sedang menikmati pop ice.


"Emm, boleh kok Ra."


Jawab Nara cepat, sementara aku hanya diam memperhatikan.


"Al, sepertinya kamu cocok untuk menjadi artis. Akting kamu tadi bagus banget."


Ujar Nara,


"Benar, aku saja sampai ingin ikut menangis."


Sahut Namara, membuatku kikuk.


"Tidak sebagus itu."


Jawabku, mencoba menenangkan diri.


"Al."


Tiba-tiba seseorang memanggilku dengan tergesa-gesa. Ku lirik arah suara itu, dan ku lihat wajah kusut ka Dava.


"Kakak."


Jawabku,


"Kita harus pergi sekarang."


Ujarnya, menarik lenganku. Membawa tubuh ini pergi dari kantin. Nara dan Namara hanya terdiam terkejut dan tidak tahu apa yang akan ka Dava lakukan pada ku. Sementara Radit, Oris itu sedang sibuk bermain basket dengan teman-temannya.


Ka Dava, terus menarik lenganku. Menyusuri koridor dengan cemas.


"Kakak ada apa?"


Tanyaku, mencoba mencari penjelasan.


"Kak, apa semuanya baik-baik saja?"


Tanya ku lagi, namun ka Dava tetap tak berdecak ia hanya fokus pada pihaknya dengan pikiran yang sangat kacau. Dari lapang basket, Radit melihat aku yang di seret ka Dava. Ia begitu penasaran dengan hubungan aku dan ka Dava, apalagi dengan sekarang ini.


"Mau kemana mereka?"


Gumamnya.


Buk


Bola basket mengenai wajah bagian depannya, membuat Radit terjatuh dan pingsan. Darah segar keluar dari kedua hidungnya membuat ke tiga temannya mendekat dengan syok.


"Dit."

__ADS_1


Panggil Padil menggunjing tubuh pria itu, berharap ia kan sadar dan kembali bermain.


"Radit."


Ujarnya lagi, farel dan Boby segera membopong Radit dan membawanya ke rumah sakit. Dan Padil dia meminta surat izin kepada guru piket.


.


"Pak De, bagaimana dengan Giandra?"


Tanya ka Dava sesampainya di rumah sakit. Namun seseorang yang ditanya itu hanya bisa tertunduk dengan mata sembab.


"Mbok,"


Parau ka Dava, sementara aku segera mendekat ke arah pintu untuk memastikan keadaan Giandra.


"Tidak mungkin."


Lirihku tak percaya, melihat tubuhnya di tutup kain berwarna putih polos.


"Pak De, mbok. Ada apa? Apa yang terjadi dengan Giandra?"


Tanyaku, menghampiri keduanya. Dan ka Dava membuang wajahnya yang kini air mata telah jatuh dari pelupuk matanya.


"Pak De?"


Teriakku menggunjingnya, aku kesal karena mereka hanya diam.


"Alena, Al. Tenanglah."


"Kakak, Giandra baik-baik saja kan? Dia baik-baik saja kan kak?"


Tanya ku, dengan penuh harap dan sesak di dada. Ka Dava menatapku dengan mata berkaca-kaca, bibirnya tertutup rapat tak mengeluarkan satu kata pun ketika ku tanya.


"Kak jawab, hik."


Pintaku tersungkur. Ka Dava lalu memeluk tubuh rapuh ini. Sementara si mbok dan pak de hanya bisa terisak di bangku tunggu itu.


Giandra, ada apa? Mengapa kamu begitu senang membuatku mencemaskan mu? Mengapa kamu seperti ini? Menyembunyikan semuanya dariku. Mengapa Giandra? mengapa?


.


Radit telah siuman dari pingsannya setelah dokter memeriksanya dan memberikannya obat. Darah dari hidungnya pun telah berhenti keluar.


Namun, ia merasa kebingungan, tentang mengapa sekarang ia bisa terbaring di ranjang dengan ruangan serba putih ini.


"Kenapa gue ada disini?"


Herannya, memegangi kepalanya yang merasa pusing. Ia memperhatikan sekeliling ruangan ini dan melihat ada sebuah kertas diatas meja di sampingnya. Karena merasa penasaran, ia merai dan melihat tulisan di lipatan kertas itu.


'Radit, Lo bisa pulang sendirikan? Sorry gue gak sengaja melempar bola pada Lo, jangan marah hahaha. Gue, Boby dan Farel pulang duluan, kita tahu kalau Lo tidak akan mengampuni kita. Jadi, sebaiknya Lo segera pulang sebelum bayaran di rumah sakit menguras dompet Lo.'


"Sialan, mana belum di bayar lagi. Bedebah memang Lo semua."

__ADS_1


Ujarnya, beranjak. Radit keluar dari ruangannya, dan celingak-celinguk mencari arah keluar dari rumah sakit ini.


"mungkin Lewat sini."


Ujarnya, mengambil arah kanan, padahal itu jelas bukan jalan yang harus ia ambil. Sepertinya dia amnesia, sampai lupa seperti itu. Haha, engga deh canda.


Saat ia sedang kebingungan mencari-cari jalan keluar. Tiba-tiba ia mendengar suara tangis seseorang, suara yang tak asing baginya.


"Tidak mungkin, Giandra tidak mungkin pergi."


Ujarku dalam Isak.


"Al, kamu harus sabar."


Tutur ka Ell, merangkul ku. Namun dengan cepat ku dorong tubuh gagahnya itu.


"Tidak, Alena benci kakak. Alena benci pak De dan Mbok. Kalian semua jahat, menyembunyikan semuanya dari Alena. Hik-hik."


Isakku, tak mampu menahan emosi.


"Maafkan pak De Alena."


Ujar pak De mendekat ke arahku. Namun, aku tetap tak ingin mendengar perkataan mereka.


"Pergi, Alena tidak ingin melihat kalian hik."


"Alena."


Panggil si Mbok.


"Alena bilang pergi Hik-hik-hik."


Jawabku, semakin tersungkur.


Tanpa kendali, Radit melangkah menuju ke arahku. Ka Dava, pak De dan si Mbok melihat kedatang Radit dan mereka hanya bisa diam.


"Al."


Panggil Radit, mengusap pundaknya dengan lembut. Ia tahu, betapa kecewanya aku pada ke tiga manusia di hadapanku. Ia tahu bahwa aku sedang sangat terluka karena sebuah kepergian. Giandra, teman sedari kecilku kini telah pergi.


Mendengar suara Radit, aku mendoak dan menatapnya dengan sendu. Netraku semakin berkaca-kaca, air mata ini semakin deras keluar. Seolah Aku sedang mengadu tentang kesakitan ku pada Radit.


"Tidak papa,"


Tambahnya, aku langsung memeluk tubuhnya. Dan ia, mendekapku dengan erat. Tak ada ketenangan selain sebuah pelukan. Tak ada kata menenangkan selain hanya diam.


.


Setelah jenazah Giandra di mandikan. Ia kemudian di kuburkan di sebuah pemakaman umum di Cianjur. Tadinya ia akan dibawa pulang ke Yogyakarta, namun mengingat perjalanan yang begitu jauh, jadi mamah dan papah meminta agar pak De dan si mbok membiarkan Giandra di makamkan di sini.


Orang tua ka Dava membawa pak De dan si mbok pergi dari kuburan, begitupun orang tua ku yang ikut pergi bersama mereka. Dan aku, masih termangu di sini. Di temani ka Dava dan Radit.


"An, mengapa secepat ini? Kamu bilang, kita akan kembali menikmati senja di rumah pohon itu, bukankah kamu akan kembali mengajak ku untuk pergi ke kebun ilalang? lalu mengapa kamu meninggalkan aku? mengapa An? hik."

__ADS_1


Tuturku, kembali terisak. Ka Dava tak mampu lagi menahan tangisnya melihat keadaan ku yang seperti sekarang. Ia kemudian menepuk pundak Radit dan menatapnya dengan dalam. Seolah mengatakan 'Tolong jaga Alena.' Lalu, ka Dava pergi meninggalkan area pemakan ini.


Radit, pria itu mendekat dan berdiri tepat disampingku. Ia kemudian merangkulku untuk segera bangun. Aku menurut, dibawa pulang dalam dekapan yang mampu sedikit membuatku tenang.


__ADS_2