
Di saat yang lain lagi sibuk dengan pak De dan si Mbok. Aku memilih pergi ke tepi kebun sana, berdiri menatap luasnya kota ini dengan hembusan angin yang memberikan hawa sejuk di saat mentari masih asyik menampakkan diri.
Ku hisap udara yang membuatku lebih lega. Ku pejamkan mata, dan kembali ku tatap permandangan yang asing bagi diriku ini.
Angin mengajak rambutku bermain, sedang isi kepala asyik membuat netra ku berbinar berlinang air mata.
"An, aku kembali."
Gumam ku terisak.
Tanpa aku tahu, ternyata Radit mengambil gambar diri ku dari belakang dan langsung mendekat ke arah ku.
"Lo ke-"
Belum juga ia membereskan perkataannya, hatinya lebih dulu terenyuh melihat aku yang sedang menangis tanpa suara.
Dengan perlahan, ia meraih pundak ku dan menenangkan hati yang hancur ini.
"Bukankah, ingat-ingat itu salah satu kenangan yang tidak perlu di bunuh. Juga tidak baik untuk di ratapi jika hanya membuatmu semakin terluka."
Tutur Radit lembut.
"Ini terlalu sulit, jika pun aku membawanya hanya untuk kembali ku sesali. Setidaknya semesta tahu bahwa aku masih belum mampu."
__ADS_1
Jawab ku semakin terisak.
Mendengar itu, Radit hanya bisa menghela napas dan mengelus pundak ku dengan lembut. Dengan penuh kasih sayang.
.
16.00
Naya yang saat itu baru keluar dari kelasnya dan hendak pergi tiba-tiba di hadang oleh seorang pria bertubuh kekar, membuatnya kaget bukan kepalang.
"Tenang saja, Naya tidak akan pulang bareng Papah. Dan Naya juga tidak akan membiarkan siapa pun. tahu tentang kita."
Ujar perempuan itu, padahal pria itu masih berdiri dan belum bicara apa-apa.
"Baguslah, segera pergi dan jangan lupakan tesnya."
Naya mematung, mengatur hatinya yang terasa disayat pedang selagi hidup. Menenangkan pikirannya yang kacau balau. Tanpa pikir panjang, Naya lebih memilih pergi dari tempatnya termangu.
Tanpa dia tahu, jika kepala sekolah yang ia panggil papah itu masih berdiri di dekat tembok memperhatikan kepergiannya. Dengan wajah datar dan nanar.
Naya pulang menaiki bis, ia duduk di dekat jendela memandangi jalanan sambil melamun. Membayangkan sesuatu yang begitu membuat hidupnya hancur.
Ya, saat kematian perempuan yang paling dicintainya. Seseorang yang paling mengerti perihal inginnya. Saat ia harus di tinggal begitu saja oleh ayah kandungnya, dan ia harus kehilangan sosok ibu. Satu-satunya harta yang ia miliki. Meski ia telah memiliki seorang ayah tiri dan kakak tiri, namun kasih mereka tetap saja tidak sama seperti yang ibunya beri.
__ADS_1
"Mah, mengapa harus membiarkan Naya sendirian seperti ini?"
Tuturnya, memilih memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya pada jok bus.
.
20.20
Aku dan yang lain sedang berada di kamar masing-masing. Sementara Radit dan Farel, mereka sedang mencari makanan untuk kita makan malam ini.
Tak lama, Radit kembali dengan kantung berwarna hitam yang jinjing. Dengan senang aku menghampirinya.
"Wah, apa nih?"
Tanya ku, Radit tak menjawab ia hanya memberikan kresek itu pada ku dan duduk di sofa.
"Hah, sate."
Senang ku, ikut duduk di sofa. Ku tatap wajah Radit dengan penuh bahagia. Melihat ku seperti itu, Radit ikut tersenyum.
"Emmm, enak."
Puji ku setelah melahap gigitan pertama sate kelinci itu.
__ADS_1
"Nah, kamu juga makan. Aaaa."
Tuturku, menyuapi Radit. Dengan ragu Radit melahapnya, sementara aku sibuk makan dan sesekali menyuapi pria itu lagi.