Perjodohan Anak SMK

Perjodohan Anak SMK
.


__ADS_3

Malam semakin pekat. Melihat beberapa lampu rumah di kota ini mulai mati, aku menghela napas dan memejamkan mata.


"Benar, gelang itu."


Ujarku, kembali ke kamar dan membuka laci lemari di dekat meja belajar. Aku tersenyum ketika sebuah gelang ku temukan.


"Untunglah,"


Senangku duduk di kursi belajar. Lalu, aku melihat kameraku tersimpan di meja ini. Ya, tersimpan dengan rapi.


Aku lalu meraihnya dan mulai melihat beberapa foto yang telah ku ambil dengan kamera milikku ini. Setelah ku lihat beberapa gambar di kota Cianjur ini. Aku mendapatkan foto kota Yogyakarta.


Sedikit takut untuk meneruskan, tapi aku juga merindukannya. Di foto ini, wajah tampan Giandra, tubuh kekarnya, dan wajah masamnya mempu membuat netra ku kembali berlinang.


"Terlalu berat An, mengapa harus pergi begitu jauh?"


Ujarku lirih.


"Hik, ini terlalu sulit An, hik-hik-hik"


Tangis ku, tak mampu menahan sesak dalam dada. Bahkan pikiranku yang tak mampu ku ajak berdamai dengan kenyataan.


.


Radit, pria itu sudah sampai di apartemen dan langsung menuju kamar. Ia membaringkan tubuhnya di kasur dan melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan, sepertinya itu memang sesuatu yang penting.


Tak lama ia kemudian beranjak dan membuka lemari bajunya. Radit meraih kotak putih di atas sana lalu kembali ke kasur dan duduk dengan rapi.


Napasnya terdengar berat, ia kemudian membuka kotak itu dengan perlahan. Di dalam sana begitu banyak foto masa kecil dua manusia, seorang anak perempuan dan anak laki-laki. Lalu, beberapa foto lainnya melihatkan kebersamaan tiga anak kecil.


"Siapa perempuan ini?"


Gumam Radit, karena ia tidak mengetahui satu perempuan di dalam foto itu.


"Sepertinya gue pernah lihat dia,"


Ujarnya lagi, mengingat-ingat.


"Namara. Mengapa sangat persis seperti dia?"


Herannya lagi, Radit kemudian mengingat ketika Namara baru saja pindah. Ia melihat wajah ku yang begitu terkejut dan seperti mendapatkan beban yang begitu berat.


"Tapi, kalau mereka berteman sedari kecil, mengapa Alena seperti mendapatkan beban dengan pindahnya Namara ke sekolah?"


"Bahkan Alena terlihat sangat terkejut,"


Ia semakin dibalut kebingungan seorang diri. Merasa tak mendapatkan jawaban, Radit memilih menutup kembali kotak itu dan mulai tidur karena malam sudah sangat larut.


.


09.30


Aku, mamah dan papah sedang makan bersama. Rindu sekali rasanya dengan suasana ini. Tawa renyah kedua orang tuaku yang sudah lama tak ku lihat kini kembali ku nikmati.


"Al, kamu mau pergi kemana bersama Radit?"


Tanya Papah, setelah ia asyik berbincang dengan istri tercintanya.

__ADS_1


Aku sedikit terkejut, mengunyah makanan ku dengan lambat dan memandang mereka secara bergantian.


"Papah tahu?"


Aku balik bertanya.


"Sebelumnya Radit meminta ijin dulu sama Papah dan Mamah. Jadi kita pasti tahulah."


Sahut mamah, membuatku mengangguk dengan wajah di tekuk.


"Jadi, kalian mau pergi kemana?"


Ulang Papah, setelah meneguk air putih di hadapannya.


"Alena tidak tahu. Lagi pula, Alena belum bilang kalau Alena mau ikut pergi dengan Radit,"


Jawabku melahap suapan terakhir sarapan ku.


"Kamu ini gimana si, ini itu moment bagus buat kalian tahu."


Cibir mamah, merasa kesal padaku.


"Apa nya yang bagus si mah? lagian Alena sedang malas keluar rumah."


"Alena, sebaiknya kamu pergi saja. Kalau hanya berdiam diri di kamar, kamu akan sulit melupakan Giandra."


Ujar Papah,


"Tapi tidak dengan Radit juga."


Ting tong


Ting tong


Tak lama, suara bel rumah terdengar. Mamah segera beranjak untuk melihat seseorang di depan sana. Sementara papah masih memandangiku dengan raut wajah yang entah apa.


"Sini masuk, kebetulan kita sedang makan."


Tutur mamah, sambil berjalan menuju meja makan. Dan di belakang ibuku, Radit menyusul dengan wajah tampannya yang berseri.


"Tidak usah mah. Radit sudah sarapan, jadi mau langsung berangkat saja."


Jawabnya, berdiri tepat di samping ku, setelah menyalimi papah Aku menoleh, menatapnya dengan sinis.


"Oh gitu ya, yasudah hati-hati,"


Jawab Mamah,


"Jangan pulang terlalu malam,"


Sahut papah,


"Iya mah, pah."


Jawab Radit sopan. Dan aku masih memainkan sendok malas untuk beranjak dan berkata.


"Alena. Sana pergi. Hehe,"

__ADS_1


Kikuk mamah, memarahiku.


"Hist,"


Aku mendengus beranjak. Lalu Radit kembali berpamitan pada ke dua orang tuaku dan segera menyusul aku yang sudah pergi meninggalkan dia ke luar rumah.


Sepanjang perjalanan, aku tidak menjawab pertanyaan yang Radit tanyakan pada ku. Tentang bagaimana dengan kondisi ku, apa sudah lebih membaik atau belum? tentang apakah aku sudah mempersiapkan uzian untuk hari Senin atau belum? dan banyak. Radit menjadi begitu banyak bicara. Dan aku, hanya diam dengan wajah kusut memandangi jalanan tanpa menghiraukannya.


.


Tak lama, kita berdua sampai di satu pantai. Aku tidak mengira kalau Radit akan membawaku ke pantai, tadinya ku pikir dia hanya akan membawa ku makan bakso pak Toni.


Aku turun dengan senyum merekah, sudah lama sekali aku tidak ke pantai. Mamah dan papah sudah tidak pernah lagi mengajak ku berlibur.


Aku berlari meninggalkan Radit, merentangkan tangan dan memejamkan mata. Ku nikmati hembusan angin yang menyapa ku bersama deru ombak yang mengantarkan air agar menyentuh kaki ku.


Aku duduk dan menatap luasnya laut di hadapanku. Air dengan gelombang obat, perahu-perahu nelayan dan para pengunjung yang sedang berenang.


"Bagaimana, apa Lo suka?"


Tanya Radit, yang berdiri tepat di samping ku. Ia kemudian duduk dan memandangiku yang masih saja belum berdecak.


"Kalau tidak suka, kita bisa pergi ke tempat lain."


Tambahnya dengan nada kecewa. Ya, dia merasa diacuhkan oleh ku, dan itu membuatnya merasa sia-sia telah mengajak ku pergi ke pantai tanpa membuat aku bahagia.


"Aku suka."


Jawabku menatap wajahnya, dan kita bertemu tatap.


"Terimakasih,"


Tulus ku, membuat Radit tersenyum dan mengusap puncuk kepalaku.


"Asal kamu bahagia,"


Tambahnya,


Aku lalu, menghempaskan tangan Radit agar menjauh dari rambut dan kepalaku. Membuatnya kembali kecewa dengan sikap ku yang masih dingin terhadapnya.


.


11.31


Ka Ell kembali ke apartemen, dan mendapati ruangan itu begitu sepi. Ia berkali-kali menyebut nama Radit dan nama ku berselingan, namun tak ada jawaban.


"Kemana mereka? kenapa begitu sepi?"


Herannya, mencari-cari aku dan Radit ke lantai atas. Namun tak kunjung menemukan. Kamar kita berdua juga tidak di kunci dan sama saja tanpa penghuni.


"Pergi kemana mereka?"


Gumamnya lagi, kembali menuruni tangga dengan beribu kebingungan, jelas terlihat pada raut wajahnya.


Ka Ell lalu memutuskan untuk mengambil minuman di kulkas dan duduk di sofa.


Ia menikmati minuman kaleng itu sambil melamun, memandangi televisi yang sama sekali tidak menyala.

__ADS_1


__ADS_2