
Karena besok kita harus langsung berangkat ke tempat yang sudah di tentukan pihak sekolah. Jadi, sekarang kita semua sedang sibuk mempersiapkan barang bawaannya.
"Mah,"
Ujar ku menuruni tangga, mamah yang sedang membuat roti bakar menoleh dan tersenyum.
"Apa semuanya sudah siap?"
Tanya mamah, ketika aku sudah berada tepat di sampingnya.
"Emmm,"
Jawabku memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kenapa? tumben sekali meluk mamah?"
"Tidak papa,"
Jawabku melepaskan pelukan dan duduk di meja makan.
"Yasudah, lebih baik kita makan rotinya."
Ujar mamah menghampiri ku. Ku raih roti panggang itu dan melahapnya dengan perlahan.
.
Radit, pria itu juga pulang ke rumahnya untuk membereskan barang bawaannya. Setelah selesai ia membawa tasnya dan turun kelantai bawah.
" Radit Kamu tidak akan menginap disini?"
Tanya Bu Melly yang sedang menonton televisi, melihat anaknya menuruni tangga.
"Tidak mah, lagi pula besok Radit berangkat bersama Alena diantar Ell."
Jawabnya ikut duduk di samping sang ibu.
"Yasudah, hati-hati kamu disana. Awas jaga calon mantu mamah, jangan sampai dia kenapa-kenapa."
Godanya, mengelus rambut bagian belakang Radit.
"Pasti Radit jaga, asal dia tidak menyebalkan saja."
"Kamu ini, jangan main-main ya,"
"Iya-iya Radit hanya bercanda kok."
Malasnya beranjak.
__ADS_1
"Tidak mau nunggu papah pulang dulu?"
"Engga deh, terlalu malam. Belum lagi Radit harus menjemput Alena ke rumahnya."
"Yasudah,"
"Titip salam buat Papah,"
"Emmm, hati-hati sayang."
Ujar Bu Melly, mengantarkan Radit hingga teras depan rumah. Setelah mobil anaknya pergi, segera ia kembali masuk karena memang hari sudah semakin gelap.
.
Tok tok tok
Ketika aku, mamah dan papah sedang mengobrol di ruang tengah. Suara ketukan itu membuat kita semuanya saling pandang karena keheranan.
"Siapa?"
Tanya mamah, aku hanya mengangkat ke dua bahu. Sementara Papah hanya menatap mamah dengan dalam.
"Pah, sana lihat,"
Titah mamah.
Tolaknya.
"Dih, kok mamah. Papah dong, sebagai kepala keluarga yang berani dan bertanggung jawab."
Ketus Mamah.
"Mamah saja, mamah kan perempuan pemberani,"
"Mamah sama papah ini ya, ist."
Kesal ku mendengar perdebatan keduanya. Aku segera beranjak untuk melihat siapa yang mengetuk pintu di malam hari seperti ini.
"Loh, Radit."
Ujar ku, melihat wajahnya yang tertata rapi memandangku.
"Radit,"
Sahut mamah yang sudah ada di belakang ku.
"Kamu ini, bikin kita takut saja,"
__ADS_1
Ikut-ikutan papah yang masih mengumpat di belakang mamah.
"Om, Tante. Maaf mengganggu selarut ini."
Jawab Radit menyalimi keduanya.
"Tidak papa sayang, sini masuk."
Ucap mamah, memapah Radit untuk segera masuk kedalam. Kemudian mereka pergi ke sofa meninggalkan aku yang masih menutup pintu rumah.
"Minum sayang,"
Titah mamah, menyodorkan segelas air hangat pada Radit yang sedang duduk berdua dengan papah. Aku dan mamah kemudian ikut duduk.
"Emm, terimakasih tente."
"Mamah dong, kok Tante si,"
"Heheh, iya ta-mamah."
Gugup Radit, membuat aku terkekeh.
"Ada apa semalam ini ke rumah?"
Tanya papah mulai penasaran dengan kedatangan pria yang kini berada di sampingnya.
"Jemput Alena Om, eh pah."
Jawabnya, papah menoleh ke arah aku membuat mata ku membulat.
"Loh kok Alena si?"
"Besok kita berangkat jam enam pagi, jadi aku jemput kamu ke rumah untuk menginap di apartemen. Biar lebih dekat juga dengan stasiun."
Jawab Radit, menjelaskan.
"Ohhh, kalian pergi dengan kereta. Terus besok kalian diantara siapa?"
Tanya Mamah, yang duduk sambil memegangi bantal sofa.
"Ell mah, sekalian besok dia berangkat sekolah."
"Yasudah, sana bawa barang-barang kamu. Jangan terlalu malam."
Sahut Papah membuat aku menyandarkan tubuh karena malas.
"Alena,"
__ADS_1
Teriak mamah, membuat aku buru-buru beranjak sambil mendengus kesal. Membuat Radit tersenyum melihat tingkah ku.