Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_93


__ADS_3

#PERNIKAHAN_BEDA_USIA


PART 93


🎈🎈🎈


Mobil Gilang baru saja memasuki pelataran rumahnya, menuju garasi. Sebelum turun dari mobil, Gilang terlebih dahulu menghela nafas panjang kemudian menghembuskan nya secara berulang-ulang. Berharap amarah yang sempat membakar hatinya itu bisa meredup. Gilang tidak ingin sampai Mutiara mengetahui bagaimana suasana hatinya.


Marah...tentu saja Gilang masih sangat marah ketika mendengar ada seseorang yang pernah berniat melecehkan istri dan adik nya. Meski itu hanya masa lalu, tetap saja Gilang tidak bisa menerimanya. Gilang merasa bahwa dirinya sudah gagal menjadi sosok suami dan kakak yang baik, Gilang bahkan tidak pernah tahu bagaimana dan seperti apa masa lalu yang pernah mereka lalui. Hanya ada sebuah keegoisan semata yang ia miliki saat itu.


Gilang berjanji pada dirinya sendiri akan mencari orang itu dan memberikan pelajaran yang setimpal. Baginya hukuman penjara tidak lah cukup, apalagi orang tersebut juga sudah berhasil melarikan diri dari balik besi jeruji dengan mudahnya.


Gilang tidak akan membiarkan siapa pun yang pernah menyakiti keluarganya bisa bebas berkeliaran begitu saja. Ia akan terus mencarinya dan mematahkan kaki orang tersebut karena sudah berani bermain api dengan keluarganya.


Setelah merasa agak tenang, baru lah Gilang memasuki rumahnya untuk menemui istri serta anak-anaknya. Hanya mereka yang mampu membuat hati dan pikiran Gilang kembali jernih dan bersemangat setelah melalui hari-hari yang begitu melelahkan.


"Selamat malam tuan..." sambut para pelayan.


"Malam," jawab Gilang yang sudah mulai terbiasa untuk menjawab salam dari setiap pelayannya.


"Dimana istriku?" tanya nya kemudian.


"Nona Mutiara sedang berada di kamar anak-anak, Tuan." jawab Laras. Gilang manggut-manggut kemudian segera pergi ke lantai atas, dimana kamar anak-anak nya berada.


Gilang menarik kedua sudut bibirnya ke arah samping ketika melihat Mutiara tertidur pulas dengan posisi duduk dan kepala menyandar di pinggir salah satu box bayi milik anak-anaknya. Disana pun juga nampak Azka yang tengah tertidur pula di atas kasur lantai dengan aneka mainan yang masih berserakan disampingnya.


"Sepertinya mereka begitu kelelahan karena sudah menghabiskan waktu seharian untuk jalan-jalan," guman Gilang seraya melangkahkan kaki memasuki kamar si kembar.


Gilang kemudian menggulung kemeja yang ia kenakan hingga ke siku lalu menganggat Azka untuk dipindahkan ke kamarnya terlebih dahulu. Baru setelah itu ia memindahkan istrinya ke kamar mereka yang terletak diantara kamar Azka dan si Kembar. Itu semua atas permintaan Mutiara ketika Gilang hendak menyiapkan kamar anak-anak, sebelum Mutiara melahirkan bayi kembarnya.


"Kamu sudah pulang yank?" tanya Mutiara yang bangun saat Gilang membaringkannya di tepi ranjang.


"Maaf...karena aku sudah mengganggu tidurmu?" Gilang membelai kepala istrinya dengan lembut.


"Harusnya aku yang minta maaf...Gara-gara ketiduran, aku jadi tidak bisa menyambutmu saat pulang dari kantor?" Mutiara merasa sedikit bersalah.


Gilang menggelengkan kepala. "Aku tahu kamu pasti kelelahan setelah seharian menemani anak-anak ke taman safari!" ucapnya kemudian memberikan kecupan hangat di kening istrinya. "Tidur lah lagi, ini sudah malam! Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu, baru nanti akan menyusulmu untuk tidur!" perintah Gilang.


Mutiara mengangguk, membiarkan suaminya berlalu menuju kamar mandi. Setelah Gilang menghilang dari pandangan matanya, tiba-tiba terselip sebuah ide jail yang muncul di kepalanya. Mutiara turun dari tempat tidur kemudian melangkah ke arah lemari lalu membukanya. Mutiara memilah-milah gaun tidur yang sekiranya mampu membuat suaminya tak berkutik ketika melihatnya. Entah sejak kapan Mutiara suka menggoda iman suaminya itu. Bahkan saat dirinya kedatangan tamu bulanan pun Mutiara masih sempat-sempatnya memancing suaminya dan selalu berakhir dengan penyiksaan karena mau tak mau Gilang harus menuntaskan nya sendiri di dalam kamar mandi.


Mutiara mengambil gaun tidur berwarna merah muda dengan tanpa lengan yang panjang hanya sebatas paha saja. Tidak terlalu terbuka, tetapi mampu merobohkan pertahanan suaminya. Karena bahannya yang sangat tipis sampai-sampai menampilkan seperti apa lekuk tubuhnya.


Mutiara segera mengganti pakaiannya dan kembali ke tempat tidur. Berbaring miring membelakangi suaminya jika nanti ia sudah keluar dari kamar mandi. Mutiara tersenyum puas, sangat senang dengan kejailannya itu.


Dan benar nyatanya, tak berapa lama Gilang keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan rutinitas mandinya. Ia terlihat seperti meneguk kembali air liurnya saat melihat penampakan yang ditunjukan oleh sang istri.


"CK...Dia benar-benar ingin menyiksaku lagi!" gumannya lirih, berusaha menahan hasratnya. Tak ingin mengulang kejadian seperti sebelumnya, yang harus berakhir dengan penuntasan diri di dalam kamar mandi.


Gilang melangkah menuju tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuh Mutiara. Gilang sangat tahu jika dirinya tidak bisa bertahan apabila mendapat suguhan semacam itu dari istri kecilnya. Gilang memilih membaringkan diri dan tidur membelakangi Mutiara, berharap dapat meredupkan keinginan nya untuk melahap habis istrinya malam ini.


"Ingat Gilang, istrimu baru kedatangan tamu bulanannya! Kamu harus bertahan kalau tidak kamu akan berakhir dengan penuntasan sendiri!" Gilang membathin berusaha memejamkan kedua matanya. Mau protes tentu tak berani, takut sang istri akan marah. Kalau sudah marah, pasti urusannya akan merambat kemana-mana.


Sabar ya Gilang, itu hormon emak-emak yang baru memiliki anak. Apalagi anaknya ada empat sekaligus.


Mutiara membuka mata, merasa heran kenapa suaminya malah menutup tubuhnya dengan selimut. Namun tak berapa lama ia pun nampak terkikik pelan agar suaminya tidak curiga kalau ia hanya pura-pura tidur saja. Mutiara baru ingat ia sedang ada kedatangan tamu bulanan dan Gilang sudah mengetahuinya di pagi hari saat dia ingin mengajak dirinya untuk melakukan olah raga pagi di atas tempat tidur.


"Aku tahu yank, kamu belum tidur dan kamu sengaja kan mau menyiksaku?" cicit Gilang membalikan tubuhnya menghadap istrinya. Begitu pula dengan Mutiara. Kini mereka tidur saling berhadapan.

__ADS_1


"Hehehe maaf, aku lupa kalau hari ini aku kedatangan tamu? Niat hati ingin menghiburmu tapi malah menyiksamu," jawab Mutiara sedikit merasa bersalah lagi.


"Menghibur?" Gilang menaikan kedua alisnya.


"Aku tahu yank, kamu sedang banyak masalah! Mata kamu itu tidak bisa membohongiku!" ucap Mutiara membelai pipi suaminya.


Gilang mendengus, selalu begitu. Sekuat apa pun ia berusaha tenang ketika menghadapi masalah, tetapi dengan mudahnya pula Mutiara dapat mengetahuinya. Gilang memang tidak bisa membohongi istrinya. Mutiara terlalu pintar dalam memahami keadaan orang-orang yang disayangi nya.


"Tidak ada masalah yank, aku hanya mencemaskan keadaanmu saja karena sampai saat ini Shinta dan keluarganya belum diketahui dimana keberadaannya. Aku takut mereka telah menyusun rencana untuk mencelakai dirimu." Gilang menarik Mutiara ke dalam dekapannya.


"Tidak hanya itu saja, mungkin saat ini di luaran sana ada juga musuh lama yang sedang mengintai keberadaan mu, yank!" bathin Gilang.


Mutiara mengangguk paham. Kemudian ia kembali teringat dengan kejadian siang tadi. Perasaan yang mengatakan bahwa ada seseorang yang sedang mengawasi nya masih melekat di dalam hatinya.


"Yank, apa kamu sudah menyuruh orang untuk mengawasiku dari jauh?" tanya Mutiara.


"Maksudnya?" Gilang sama sekali tidak mengerti.


"Maksudku apa kamu sudah menyewa bodyguart untuk menjagaku dari jarak jauh?" Mutiara menatap manik mata suaminya yang terlihat seperti kebingungan. Pasalnya Gilang memang tidak pernah menyuruh orang lain untuk menjaga Mutiara dari jauh. Hanya Heru dan Laras yang dimintai agar selalu tetap waspada dalam menjaga istrinya dengan baik.


"Tidak ya, akh...mungkin benar itu hanya perasaanku saja!" cuit Mutiara yang tidak ingin menambah kecemasan suaminya.


Gilang tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


"Tidur lah, ini sudah malam! Kamu harus banyak istirahat, aku tidak ingin kamu sakit karena kecapekan!" ucapnya kemudian


Gilang bukannya menganggap enteng ucapan istrinya. Tapi ia hanya ingin membuat istrinya tetap nyaman tanpa harus memikirkan permasalahan yang tengah melanda keluarganya.


"Sepertinya aku memang harus memperketat penjagaan Mutiara dan Elvina! Aku tidak mau sampai kecolongan seperti yang sudah-sudah!" bathin Gilang seraya mengecup kening istrinya.


"Selamat malam, kamu juga mimpi yang indah ya?" Gilang membalas Mutiara dengan kecupan di seluruh wajahnya.


Keduanya pun tidur saling berpelukan, memberikan kehangatan satu sama lainnya. Entah kenapa tiba-tiba udara menjadi dingin, meminta keduanya untuk saling mencari kehangantan.


🍁


🍁


🍁


"Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, akh tidak...tidak...wanita yang sangat cantik! Meskipun sudah melahirkan anak, tetap saja dia seperti seorang gadis yang masih single hahaha..." tawa seorang pria menggelegar memenuhi seluruh ruangan yang nampak sempit dan gelap.


Di sana nampak pula adanya beberapa foto dua orang perempuan yang terlihat sangat cantik dengan aneka pose. Pria itu sepertinya sudah mengambil foto-foto tersebut secara diam-diam. Buktinya saja pria itu berhasil mengabadikan foto mereka dikala sedang menangis dan bersedih. Pria itu terus saja memandangi foto-foto tersebut dengan penuh arti. Seakan memiliki obsesi yang kuat untuk memiliki kedua wanita itu. Bayangan sorot mata kedua anak kecil melintas di benak nya. Sangat teduh dan membuat nya jatuh cinta saat pandangan pertama.


"Aku pastikan kalian akan segera menjadi milikku, itu pasti! Cepat atau lambat kalian akan segera mewarnai hari-hariku, hahaha..." Pria itu mengambil dua lembar foto dengan wajah yang berbeda. Mengusapnya lalu menciumi nya berkali-kali.


"Dasar tua bangka! Apa kau tak malu berbuat macam itu pada anak di bawah umur hah...? Apa kau mau jadi seorang pedofil...?" tiba-tiba sebuah suara dari masa lalunya menghatam kepalanya. Suara seorang pria yang sangat dikenali nya.


"Kalian mengatakan aku sudah tua? Hahaha...aku bahkan masih mampu memberikan kepuasan kepada banyak wanita muda sekaligus dalam sehari!" ujarnya menyombongkan diri.


Kilatan api kemarahan terpancar dari sorot mata nya. Bayangan demi bayangan dari masa lalu kembali hadir memenuhi isi kepalanya.


Persahabatan yang dulunya sempat terjalin dengan indah harus terkonyak lantaran hadirnya seorang wanita. Dua sahabat yang saling menyanyangi harus bersaing secara sehat demi memperebut hati gadis itu. Namun pria itu kalah, gadis itu memilih sahabatnya. Pria itu berusaha menerima dengan lapang dada dan tetap menjalin persahabatan mereka dengan baik.


Tapi ketika sahabatnya itu sudah menikah dan memiliki anak, tetap saja pria itu tidak bisa melupakan perasaan cintanya kepada gadis itu. Diam-diam pria itu berniat ingin merebut hati istri dari sahabatnya dengan uang yang dimilikinya, dan usahanya tak sia-sia. Meskipun secara sembunyi-sembunyi, pria itu berhasil menjalin hubungan dengan istri sahabatnya. Ia bahkan tak perduli jika uang nya akan habis terkuras demi memenuhi semua keinganan orang yang ia cintai.


Hingga suatu hari datang seorang pria yang lebih dari segalanya. Wanita itu kemudian berpaling lagi dan memilih pria kaya raya tersebut. Wanita itu bahkan sampai nekad melarikan diri bersama pria kaya raya itu dan meninggalkan anak beserta suaminya.

__ADS_1


Sebagai seorang pria tentu saja pria itu sangat marah, ia berniat membalas wanita itu melalui anaknya. Pria itu dengan sengaja ingin menculik anak perempuan dari sahabatnya dengan wanita yang sudah berani mengkhianati cintanya. Namun ketika hendak memaksa anak perempuan tersebut untuk ikut bersamanya, ternyata datang anak perempuan lain yang ingin menolongnya. Mau tak mau pria itu harus menculiknya juga.


Pria itu membawa kedua anak perempuan tersebut ke sebuah gudang tua dengan harapan ayah mereka mau memberikan sejumlah uang yang pernah ia habiskan untuk ibu dari salah satu anak perempuan tersebut.


Tapi entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja ada sebuah hasutan dari iblis yang memintanya untuk melakukan hal lebih pada kedua anak itu. Apalagi setelah melihat tatapan polos mereka, hatinya seakan bergetar hebat. Sebuah keinginan untuk memiliki keduanya tiba-tiba menggebu memenuhi ruang hatinya.


Pria itu memaksa kedua anak itu untuk melucuti pakaian mereka satu per satu. Tentu saja hal tersebut membuat kedua anak itu menangis histeris karena ketakutan. Apalagi saat pria yang sudah berumur seperti orang tua mereka itu mulai menjamah tubuh mereka. Keduanya pun menjadi semakin histeris saja.


"Bangβ€’β€’β€’!!" seseorang datang untuk menolong kedua anak perempuan tersebut..


"Apa yang kau lakukan hah...?" ucap orang itu seraya memberikan bogeman mentah di wajah pria tersebut.


"Pak...pak Bayu..." lirih pria tersebut sambil mengulas senyum tak berdosa.


"Sebenarnya aku tak memiliki niatan untuk menculik putrimu sama sekali tapi dia malah datang sendiri untuk menolong temannya. Jadi mau tak mau aku terpaksa membawanya ikut serta!" ucap pria itu sambil terkekeh pelan.


"Tapi kalau boleh jujur sebenarnya aku juga tidak menyesal karena sudah menculik putri anda juga. Dia sangat cantik. Apa kecantikan yang dimiliki oleh putri anda itu diwarisi dari ibunya? Hahaha...pantas saja anda sangat mencintai istri anda, sampai-sampai anda rela meninggalkan keluarga anda yang kaya raya itu!"


Pak Bayu semakin dibuat nya geram, ia bahkan sudah melayangkan kembali beberapa bogeman mentah pada wajah dan perut pria tersebut. Sampai pada akhirnya asisten pak Bayu pun datang, menatap nanar pada sahabatnya itu.


"Kenapa harus seperti ini? Bukan kah dulu kita sudah membuat kesepakatan apa pun yang terjadi, persahabatan kita tidak akan pernah rusak? Kenapa kamu malah menculik anak-anak yang tak berdosa? Dan berniat menjadi seorang..." asisten pak Bayu tak melanjutkan ucapannya, ia malah luruh ke lantai. Bukan nya lemah tapi merasa sedih karena melihat sahabatnya hancur akibat perbuatan istrinya.


Sejujurnya bukan hanya sahabatnya saja yang hancur, tapi hatinya juga perih karena pengorbanan nya untuk sang istri berakhir sia-sia saja. Apalagi kini salah satu anaknya pun ikut dibawa serta oleh istrinya. Asisten pak Bayu merasa takut jika nasib anak yang dibawa oleh sang istri itu akan memiliki nasib seperti ibu nya kelak.


"Aku sudah berusaha melupakan perasaan itu tapi pesona istrimu tak bisa menghilang dari pandangan mataku. Apalagi dia mulai menggodaku saat kau tak ada, cinta itu semakin tumbuh. Tapi setelah aku melakukan apapun demi membuatnya merasa senang, dia malah pergi dengan pria lain yang lebih segalanya dariku..bukan kah kita sama-sama menjadi pria yang paling bodoh karena sudah jatuh cinta sama wanita yang gila harta, hahaha...?" ucap pria itu.


"Tapi kamu tenang saja Surya Atmaja, sekarang luka itu sudah sembuh. Aku sudah menemukan pengganti istrimu itu! Dia juga sangat cantik dan lugu, seperti ibunya saat awal kita berjumpa dulu!"


Asisten pak Bayu yang tak lain bernama Surya Atmaja paham akan maksud dari perkataan sahabatnya. Pandangannya mengarah pada dua anak perempuan yang sedang ketakutan tanpa busana. Hanya celama dalam saja yang masih melekat menutup tubuhnya.


"Dasar tua bangka! Apa kau tak malu berbuat macam itu pada anak di bawah umur hah...? Apa kau mau jadi seorang pedofil...?" Surya Atmaja nampak sangat marah. Kecewa atas perbuatan yang sudah dilakukan oleh sahabatnya. Surya Atmaja pada akhirnya melangkah dengan pasti, berjalan menghampiri sahabatnya. Melayangkan tinju secara berulang kali hingga membuat pria itu terkapar tak berdaya. Mungkin kalau polisi tidak segera datang, pria itu sudah mati di tangan sahabatnya sendiri.




"Hahaha...mereka pikir setelah berhasil memasukan aku ke dalam penjara, mereka bisa hidup dengan tenang...tentu saja tidak!! Sekarang aku sudah kembali dan aku akan melakukan apa pun untuk bisa mendapatkan wanitaku lagi, hahaha...!!" ucap pria itu setelah mengingat masa lalunya yang penuh dengan drama.



"Aku Rehan Saputra...bersumpah demi apapun akan terus melakukan segala cara demi mendapatkan dua wanita yang sudah berhasil membuatku jatuh hati saat pertama kali berjumpa! Tidak seorang pun yang bisa memiliki mereka termasuk kedua pria yang masih bau kencur itu...hahaha...!!" tawanya kembali memenuhi ruangan itu. Tanpa ia sadari ada seorang wanita yang tengah menguping. Tangannya mengepal erat.



"Kau tidak akan pernah bisa menyentuh kedua wanita itu, karena aku akan menggagalkan segala usahamu itu Rehan Saputra!! Aku akan pastikan kau akan mati karena sudah menjadikan putriku seorang yatim, kau yang sudah melenyapkan suamiku melalui musuh-musuhnya!!" lirih wanita paruh baya itu. Matanya berkaca-kaca, mengingat hidup suami serta anak-anaknya yang berantakan setelah ia dijebloskan ke dalam penjara karena kesalahan yang dilakukan oleh orang lain. Dan ia yang harus membayarnya.



\#\#\#



Ini merupakan episode yang terpanjang dalam penulisan novel ini



Happy reading untuk semuanya😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2