
#PERNIKAHAN_BEDA_USIA
PART 80
💤💤💤
Gilang mengeram kesal. Amarahnya belum mereda sepenuhnya. Perkataan Gea yang terakhir kali berhasil membuat hatinya kian memanas. Gilang sama sekali tidak bisa menerima penghinaan yang diberikan oleh wanita itu kepada istri kecilnya. Apalagi penghinaan itu seharusnya ditujukan pada orang lain bukan pada istrinya. Gilang sudah tahu kenapa Gea bisa sampai begitu membenci Mutiara. Itu semua karena perbuatan yang dilakukan oleh Clarissa dan ibunya, hingga membuat keluarga Gea hancur berantakan. Gilang mulai memperketat penjagaan untuk Mutiara dan anak-anaknya. Ia tidak mau sampai kecolongan lagi.
Bu Meisya, Elvina dan Arif baru saja tiba di rumah sakit. Mereka merasa heran saat melihat ada banyak bodyguart yang tengah berjaga secara ketat di depan ruangan ICU.
"Mi, kenapa jadi ada banyak bodyguard di sini? Apa terjadi sesuatu saat kita pergi?" bisik Elvina.
"Pastinya ada! Kalau tidak, mana mungkin kakakmu akan berbuat seperti ini!" jawab bu Meisya, melihat sekeliling. Berharap dapat menjumpai Radit, tapi Nihil.
"Apa kalian tahu dimana Radit?" bu Meisya bertanya pada para bodyguard.
"Tuan Radit sedang menjalankan perintah yang diberikan oleh Tuan Gilang, Nyonya." Salah satu bodyguard menjawabnya.
Bu Meisya semakin yakin kalau ada suatu kejadian yang sudah terlewatkan. Dan bu Meisya bisa menebak tugas apa yang tengah di jalankan oleh Radit, yaitu tengah memberikan pelajaran pada orang-orang yang sudah berniat mengusik ketenangan Gilang. "Apa terjadi sesuatu, sampai-sampai anak keras kepala itu harus mengerahkan kalian untuk menjaga ruangan menantuku?" selidik bu Meisya lagi.
"Benar nyonya, barusan hampir saja ada seorang perempuan menyelinap masuk ingin mencelakai nona muda." Bu Meisya, Elvina dan Arif membulatkan kedua mata. Mereka mulai menebak-nebak siapa perempuan itu.
"Sekarang dimana tuan kalian, apa dia sedang ada di dalam?" tanya bu Meisya lagi.
"Iya nyonya, tuan muda sekarang sedang menemani nona Mutiara."
Bu Meisya mendengus. Ini lah yang ia takutkan. Kemarahan putranya akan membuat orang lain semakin memendam rasa benci dan berujung ingin menyakiti orang terdekatnya.
💤💤💤
Dengan telatennya Gilang membantu mengelap badan Mutiara sendiri. Ia tidak mau jika sampai perawat yang melakukannya. Gilang tidak rela apabila ada orang lain yang menjamah tubuh istrinya, walaupun itu seorang perempuan sekalipun. Hanya dirinya saja yang boleh melihat ataupun menyentuh apa pun yang ada pada diri sang istri. Posesif memang, tapi itu lah Gilang. Dia akan terus berusaha melindungi apa yang sudah menjadi miliknya.
"Yank, sampai kapan kamu akan tidur? Apa kamu tidak ingin bangun melihat anak-anak kita? Mereka sangat tampan sepertiku dan cantik sepertimu," celoteh Gilang.
"Bangun lah, yank! Aku sudah sangat merindukan segala ocehanmu saat kamu kesal dan sikap kamu yang selalu ingin dimanja!"
Sudah menjadi kebiasaan Gilang selalu mengajak istrinya berbicara. Ia bercerita tentang anak-anaknya. Gilang berharap istrinya bisa mendengar dan segera bangun.
Gilang segera menyingkirkan baskom yang berisikan air saat merasa sudah cukup dalam membersihkan tubuh istrinya. Ia menarik kursi dan duduk disamping ranjang pesakitan milik Mutiara. Menggenggam tangannya serta menciumnya berkali-kali. Entah apa kesalahan yang dilakukan oleh Mutiara, sehingga harus menanggung kebencian dari orang lain. Padahal jelas-jelas itu bukan kesalahannya.
"Sayang, bangun lah...aku mohon! Aku dan anak-anak kita masih sangat membutuhkanmu!" cicit Gilang yang berusaha untuk tetap kuat dan tegar. Namun apa dayanya, jika air mata tak bisa diajaknya berkompromi. Bisa dibilang Mutiara memang kelemahannya. Itu sebabnya, Gilang selalu berusaha menjaga dan melindunginya. Meski terkadang terlihat sangat berlebihan.
Gilang menundukan kepalanya, membiarkan air matanya berjatuhan. Toh tidak ada orang lain di ruangan itu. Hanya ada Mutiara dan ia sendiri. Gilang mencium tangan istrinya lagi dan lagi. Tiba-tiba ia merasakan adanya sebuah pergerakan kecil dari jemari Mutiara.
Seketika Gilang mendongak. "A-a-air..." ucap Mutiara dengan suara pelan dan mata masih terpejam.
Gilang segera beranjak bangun. Meraih gelas kemudian membantu Mutiara untuk minum. "Syukur lah kamu sudah sadar sayang, aku akan memanggil dokter supaya memeriksamu!" ucapnya dengan bahagia. Langsung saja Gilang menekan saklar yang dikhususkan untuk memanggil dokter tanpa harus mencarinya ke ruangan.
Dan benar, tak lama kemudian seorang dokter yang di damping oleh dua orang perawat segera datang.
"Dokter tolong cek keadaan istri saya, barusan dia sadarkan diri dan meminta air minum!" oceh Gilang tak sabaran.
__ADS_1
Dokter dan dua orang perawat tersenyum tipis. Merasa haru dengan perhatian Gilang yang diberikan kepada keluarga kecilnya. Sangat jauh berbeda dengan sikapnya yang terkesan arogant apabila ada di muka umum. "Maaf tuan, tolong keluar lah sebentar! Kami akan memeriksa keadaan istri anda!" ucap salah satu perawat tersebut.
Gilang mengerti, ia pun keluar membiarkan dokter dan perawat itu melakukan pekerjaannya.
Setibanya di luar ruangan ICU, Gilang disambut oleh bu Meisya, Elvina dan Arif. "Apa yang terjadi? Kenapa dokter masuk ke dalam ruangan Mutiara?" cercah bu Meisya yang diangguki oleh Elvina. Wajah mereka menunjukan adanya sebuah kecemasan.
"Mutiara bangun, Mi...Mutiaraku sudah bangun..." jawab Gilang seraya memeluk bu Meisya.
"Alhamdulillah..." ucap bu Meisya, Elvina dan Arif secara bersamaan.
Mereka merasa sangat bahagia.
*Ceklek...
Dokter pun keluar dari ruangan ICU. Gilang menoleh dan menghampirinya. "Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanyanya.
"Syukur lah nona Mutiara sudah melewati masa kritisnya," jawab Dokter.
"Benar kah, dok? Alhamdulillah, terima kasih banyak dok?" ucap Gilang sangat bahagia. Tanpa sadar ia menarik tangan sang dokter kemudian menciuminya.
Dokter itu hanya diam mematung. Merasa syok atas perlakuan dari Gilang.
"Eheemmm..." bu Meisya menyadarkan Gilang.
"Maaf...?" Gilang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bodoh dengan kelakuannya. Sedangkan Elvina dan Arif tekikik berusaha menahan tawanya.
"Kami akan segera memindahkan nona Mutiara ke ruang perawatan, setelah itu kalian bisa melihatnya." Dokter itu merasa gugup sekaligus senang, karena sangat mustahil bisa mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang Alvian Gilang Dirgantara.
"Terima kasih dok," ucap bu Meisya seraya menggelengkan kepalanya.
💤💤💤
*Ceklek...
Mutiara menoleh ke arah pintu. Tampak Gilang masuk dengan senyum yang merekah dari bibirnya. Ada seikat bunga di tangannya. Gilang melangkahkan kakinya, mendekati Mutiara yang masih terbaring di ranjang pesakitan. Tak lama kemudian muncul bu Meisya bersama Elvina dan Arif.
"Syukur lah kamu sudah bangun sayang, aku benar-benar khawatir melihatmu tak kunjung membuka mata?" ucap Gilang. Ia mencium sekilas bibir istrinya.
*Blush...
Wajah Mutiara merona, malu dengan kelakuan suaminya yang tidak tahu tempat.
*PUK
"Aww...mami..." ringis Gilang ketika mendapat pukulan dari bu Meisya.
"Makanya jadi anak harus tau tempat, jangan main serobot bibir orang!" oceh bu Meisya merasa kesal dengan kelakuan anak sulungnya.
"Siapa yang main serobot bibir orang, aku hanya nyium bibir istriku saja? Emang ada yang salah?" sewot Gilang.
PLAAKK...
__ADS_1
Seketika bu Meisya melayangkan tangan ke lengan putranya. Merasa gemas dengan sifatnya yang tidak tahu malu. "Tidak ada yang salah, tapi tidak tahu tempat! Kamu tidak lihat Mutiara saja merasa malu dengan kelakuanmu yang tidak tahu malu seperti itu?"
Gilang menghela nafasnya. Memang susah jika harus berdebat dengan kaum emak-emak yang mulai uzur. Gilang melihat bu Meisya dari bawah sampai atas. Maminya masih terlihat muda, tidak cocok kalau disebut emak-emak yang mulai uzur. Walaupun usianya sudah mencapai mencapai empat puluh tujuh tahun.
"Ngapain kamu lihatin mami seperti itu?" selidik bu Meisya. Gilang langsung menggelengkan kepala. Bisa berabe kalau maminya sampai tahu apa yang sedang ada dipikirannya saat ini.
Elvina dan Arif tertawa, merasa lucu dengan kelakuan Gilang semenjak istrinya bangun dari koma. Gilang mendelik ke arah mereka.
"Yank..." Gilang duduk di ranjang pesakitan tepatnya di samping istrinya.
Mutiara membuang muka, menampilkan wajah cemberutnya. Gilang mengerutkan alisnya, berpikir sejenak apa dia punya salah sampai-sampai istrinya membuang muka.
"Yank, wajahnya kok cemberut gitu sih? Emangnya nggak kangen apa sama suamimu yang tampan ini?" tanya Gilang sedikit narsis.
"Dasar kepedean!" cicit Elvina yang langsung dibalas Gilang dengan mata mendelik.
"Aku emang tampan, tidak seperti tunanganmu itu! Si pangeran katak yang buruk rupa!" oceh Gilang dengan asal.
Arif menghela nafas. "Kenapa jadi gue yang kena sih? Dasar kakak ipar, si tukang bucin kalau sama istrinya!" gerutunya dalam hati.
"Sayang, bagaimana keadaanmu, apa kamu merasa jauh lebih baik? Selamat ya akhirnya kamu benar-benar menjadi seorang ibu," bu Meisya mengusap tangan Mutiara.
"Terima kasih banyak Mi..?" jawab Mutiara menatap ibu Mertuanya kemudian tersenyum manis.
"Mami yang seharusnya terima kasih karena kamu sudah memberikan empat orang cucu sekaligus," ucap bu Meisya.
"Apaa, empat cucu?" Mutiara menatap semua orang secara bergantian. Dan terakhir pada suaminya.
"Apa Mutiara juga tidak tahu kalau dia mengandung empat bayi kembar?" celetuk bu Meisya.
Gilang meringis saja, menggaruk lagi tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Maaf bukan maksudku merahasiakannya dari semua orang? Aku hanya tidak ingin Mutiara jadi panik atau pun stress" jawabnya kemudian.
"Itu sebabnya kamu dan dokter tidak pernah memperlihatkan hasil USG kehamilanku?" tanya Mutiara. Gilang hanya bisa menganggukan kepalanya. Apalagi setelah mendapatkan tatapan horor dari istrinya itu.
"Yank, jangan begitu donk lihatnya! Kan bikin aku pengen makan kamu jadinya," ujar Gilang asal.
Mutiara semakin mendelikan mata. Tak habis pikir dengan sifat mesum suaminya yang tidak tahu tempat.
"Ingat baru brocol empat bocah, jangan langsung dihajar saja!" timpal bu Meisya yang semakin kesal dengan anaknya.
Wajah Mutiara merona lagi. Entah mau ditaruh mana mukanya. Kata-kata ibu mertuanya sangat frontal, dan ia yakin kalau kedua sahabatnya itu bisa mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.
"Sayang, mending kita keluar cari angin yuk! Di sini kita hanya jadi nyamuk saja!" sela Elvina menarik tangan Arif.
"Baguslah kalau kalian tahu diri. Kalian itu masih bocah, jadi nggak bakal ngerti pembicaraan orang dewasa!" sindir Gilang asal.
Elvina dan Arif menghela nafas panjang. Gilang memang suka seenaknya sendiri kalau ngomong. Meskipun belum menikah, tapi mereka juga paham kali omongan orang dewasa. Elvina dan Arif benar-benar harus pergi dari ruang rawat sahabatnya, sebelum kakaknya semakin memberi racun yang kotor di otaknya.
Begitu pula dengan bu Meisya. Ia juga memilih pergi karena tahu anak dan menantunya masih butuh waktu untuk privasi.
"Yank, aku salah apa? Kenapa kamu tiba-tiba marah sama aku?" tanya Gilang setelah mereka pergi.
__ADS_1
Mutiara menghela nafas, lalu menatap serius pada suaminya. "Lepaskan mereka!" ucapnya kemudian.
Gilang tersenyum kecut. Ia tahu siapa mereka yang dimaksud oleh istrinya. Ini lah Mutiara, dia bisa tahu seperti apa dan bagaimana suaminya. Mutiara pasti bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh suaminya jika ada orang yang berani menyakitinya.