
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 106
💕💕💕
Sepeninggal suaminya, Mutiara menatap nanar kearah wanita yang sudah berniat menggoda suaminya. Mutiara tak banyak bicara. Sejak awal sebenarnya ia sudah memiliki firasat buruk tentang wanita itu. Hanya saja Mutiara ingin menghormati Laras yang sudah setia menemaninya dalam setiap situasi. Itu sebabnya Mutiara mau mempekerjakan wanita itu di dalam rumahnya.
“Nyonya, tolong maafkan atas segala kelancangan yang sudah saya perbuat? Sungguh saya tidak berniat sedikitpun untuk merayu tuan. Saya hanya ingin membantu tuan untuk memijat kepalanya, saya merasa kasihan melihat tuan yang pulang dalam keadaan kelelahan. Sedangkan nyonya sepertinya sudah tertidur di kamar, itu sebabnya saya memberanikan diri untuk membantu memijat kepala tuan!” cicit wanita itu seraya mengatupkan kedua tangannya. Merangkak mendekati Mutiara dengan wajah memelas. Berharap Mutiara akan mau memaafkannya dan tetap membiarkannya untuk bekerja di sana.
“Sebelumnya aku sudah memperingatkan dirimu supaya menjaga sikap dan mengubah cara berpakaian agar lebih sopan! Tapi apa? Kamu justru bersikap lancang terhadap suamiku...” jeda Mutiara. Tangannya terkepal ketika membayangkan tangan wanita lain menyentuh kepala suaminya. Ada sebuah perasaan yang tak mampu ia gambarkan. Marah dan cemburu itu sudah pasti. Beruntungnya Gilang yang sekarang bukan lah Gilang yang dulu. Jadi tidak mudah tergoda oleh wanita tersebut.
“Suamiku sudah tidak ingin melihat wajahmu. Jadi maaf aku tidak bisa memberikan kesempatan lagi kepadamu untuk tetap bekerja disini?!” Mutiara memberikan keputusannya.
“Tolong jangan pecat saya, nyonya? Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini?” Wanita itu bersujud bersujud di kaki Mutiara. Masih berharap Mutiara akan mengubah keputusannya.
Mutiara melangkah mundur, menatap Laras yang masih setia mematung di tempatnya.
“Maafkan aku, mbak Laras? Aku menerimanya disini karena mbak Laras yang meminta. Tapi dengan perilakunya yang seperti ini, sungguh aku tidak bisa mentoleransinya lagi!” ucap Mutiara pada Laras.
“Saya bisa mengerti nyonya muda, dan tolong maafkan saya yang sudah salah membawa teman?” Laras mengatubkan kedua tangannya. Menunduk karena merasa malu dengan perilaku sepupunya itu. Laras memang sudah mengetahui tabiat buruk dari sepupunya itu, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika Sri akan nekad menggoda majikannya sendiri.
Laras melangkah menghampiri sepupunya.
“Sri lebih baik kamu kemasi barang-barangmu sekarang juga! Aku akan mencari angkutan malam yang bisa mengantarkanmu sampai ke kampung!” ucapnya kemudian.
__ADS_1
“Tidak mau! Aku tidak mau kembali ke kampung! Mbak Laras, tolong bantu aku membujuk tuan dan nyonya? Mereka pasti mau mendengarkanmu. Bukankah kamu kepala pelayan disini? Kamu pasti bisa menolongku!” kekeh Sri dengan tak tahu malunya.
“Maaf, aku tidak bisa! Tuan dan Nyonya sudah membuat keputusannya, dan aku disini hanya pelayan sama seperti yang lainnya. Jadi kumohon mengerti lah? Kamu sendiri yang sudah mengacaukan segalanya. Aku bahkan sudah memperingatkan dirimu supaya tidak berbuat macam-macam tapi kamu justru nekad menggoda Tuan!” jawab Laras dengan tegas.
Sri menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua matanya sudah berapi-api. Seakan mau mencakar habis wajah Laras.
“Kau sudah lupa siapa dirimu? Bahkan kalau bukan karena orang tuaku, mungkin saja kau sudah mati kelaparan!” ucap Sri dengan sinis.
Tangan Laras mengepal. Orang tua Sri memang memungutnya setelah ayah ibunya tiada. Tapi bukan untuk diperlakukan seperti selanyaknya anak, melainkan seperti pembantu yang hanya dapat gaji makan sekali dalam sehari. Kerap kali Laras terpaksa menahan lapar atau harus membagi makanannya yang seharusnya sekali makan menjadi dua porsi agar bisa dimakan dua kali.
“Cukup, hentikan! Disini aku lah yang membuat keputusan, jadi tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya! Apalagi mbak Laras, yang hanya seorang kepala pelayan!” tegas Mutiara dengan tangan yang kembali mengepal. Tak bermaksud mengatakan bahwa Laras hanyalah seorang kepala pelayan saja. Bagi Mutiara Laras sudah seperti kakaknya.
“Mbak Laras kau tidak perlu mencari angkutan umum! Minta saja salah satu sopir pribadi rumah ini untuk mengantar sepupumu yang tidak tahu malu ini!” perintah Mutiara.
Laras menganggukan kepalanya. Tidak ada sedikitpun rasa sakit ataupun kecewa di hatinya atas perkataan nyonya mudanya. Laras paham betul jika Mutiara bukan tipe orang yang suka melihat status orang. Tapi karena sikap Sri yang kekanakan, membuat nyonyanya terpaksa melontarkan perkataan tersebut.
“Dasar anak sopir bermuka dua!! Kau bahkan tidak ada bedanya denganku! Kau hanya beruntung saja karena berhasil merayu tuan dan membuatnya menikahimu sehingga kau menjadi nyonya sekarang!” Sri mencibir Mutiara. Ia hanya mendengar sepenggal cerita dari pelayan-pelayan yang memang suka bergunjing dibelakang majikannya.
“Lihat lah umurmu? Teman seusiamu saja pasti masih menikmati masa kuliahnya, dan kau sendiri? Kau bahkan sudah menjadi seorang ibu dari lima orang anak!” Sri terkekeh seakan mengejek Mutiara.
Semua orang yang ada disana kembali tercengang. Tidak percaya akan kenekatan Sri yang berani menghina nyonya mereka.
*Plaakkk
Mutiara menampar wajah Sri dengan keras. Menurutnya wanita itu sudah melewati batasannya.
__ADS_1
“Aku memang anak seorang sopir! Tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, aku bukan dirimu yang suka menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisi yang mungkin akan menjatuhkanmu ke dasar jurang yang paling dalam!” ucap Mutiara dengan wajah yang setengah menahan amarahnya.
Sri hanya bisa terdiam. Ia tak menyangka jika wanita yang selama ini dianggapnya lemah ternyata bisa menunjukan sisi kemarahannya juga.
“Mbak Laras, tolong segera bawa dia pergi dari sini sebelum kesabaranku habis karena melihat wajahnya yang congkak itu!” titah Mutiara kemudian pergi berlalu meninggalkan ruangan yang membuatnya sesak itu.
“Kamu benar-benar sudah keterlaluan, Sri!” ucap Laras menarik tangan sepupunya. Tapi lagi-lagi dihempas begitu saja oleh Sri.
“Rupanya sekarang kamu sudah berani melawanku, Laras?” Sri masih bertindak angkuh.
“Apa kamu tidak takut kalau sampai aku adukan semua ini sama bapak dan ibu di kampung?” ancam Sri.
“Adukan saja kalau kau mau, aku sudah tidak takut dengan keluargamu itu!” Laras menjadi geram dengan tingkah laku sepupunya yang bisanya hanya mengancam dan mengancam.
Sri mendelik. Merasa takjub dengan perubahan sikap sepupunya yang tadinya begitu penurut sekarang berani membangkang padanya. Mungkin benar jika di rumah majikannya, Laras telah mendapat perlakuan yang istimewa dari Mutiara. Makanya dia betah bekerja di rumah itu dan sekarang berbalik membangkang kepadanya.
“Rini...” panggil Laras pada salah satu pelayan.
Wanita yang dipanggil Rini pun mendekat.
“Kamu bantu dia berkemas lalu minta pak ujang untuk mengantarnya ke kampung!” ujar Laras kemudian ikut berlalu meninggalkan tempat tersebut.
“Dasar wanita tidak tahu diri! Kalau bukan karena keluargaku, kau pasti sudah mati karena kelaparan!” maki Sri.
Laras tidak perduli. Ia sudah terlalu muak dengan segala tindakan yang dilakukan oleh Sri dan kedua orang tuanya. Ini saatnya bagi Laras melawan semua ketidak-adilan yang ia rasakan selama ini.
__ADS_1
‹•.⌐╦╦═─
Maaf untuk part ini sepertinya tidak nyambung. Ini hanya selingan konflik ringan sebelum membuka lembaran lembaran terkuaknya rahasia tentang ibu Mutiara.