
PERNIKAHAN BEDA USIA
Part 45
***
Mutiara bertekad akan terus mengacuhkan Gilang, sampai ia mendapatkan izin untuk berangkat ke sekolah. Mutiara sangat yakin jika suaminya tidak akan bisa bertahan lama dengan keputusannya. Baru sehari saja diacuhkan, Gilang sudah kalang kabut. Hampir semua pelayan rumah terkena imbasnya. Termasuk Radit dan Heru. Mereka berdua malah lebih sering menjadi sasaran amukan dari bosnya. Mutiara sebenarnya merasa tidak tega, akan tetapi keinginannya untuk masuk ke sekolah sangat kuat. Ia merindukan teman-temannya.
"Nona muda, mau sampai kapan nona mau mendiamkan tuan seperti ini? Apa nona tidak merasa kasihan kepada para pelayan? Mereka semua juga ikut terkena imbasnya, nona." Radit berusaha membujuk Mutiara.
"Kalau begitu pak Radit harus membantuku bagaimana caranya supaya suamiku yang keras kepala itu memberikan izinnya kepadaku untuk bisa berangkat ke sekolah," Mutiara masih bersikukuh.
Pak Radit tampak menghela nafas, ia mulai kerepotan menghadapi sikap kedua majikannya yang sama-sama keras kepala. Mereka tetap pada pendirian masing-masing. Pak Radit bisa memahami kenapa tuannya yang masih bersikeras untuk tidak membiarkan istrinya pergi ke sekolah. Itu semata-mata dilakukan demi keselamatan Mutiara sendiri. Pak Radit berpikir keras berusaha mencari bagaimana jalan tengahnya. Ia tidak mau sampai para pelayan memilih berhenti bekerja karena tidak sanggup menghadapi sikap tuan mudanya yang terkesan bar-bar saat marah.
"Baiklah nona muda...saya akan berusaha membujuk tuan muda agar mengizinkan nona muda bersekolah kembali," ujar pak Radit.
Mutiara tersenyum. Setidaknya, sekarang ia memiliki seorang pendukung.
"Terima kasih pak Radit," cuit Mutiara.
"Sama-sama nona muda. Kalau begitu saya undur diri," balas pak Radit.
Mutiara mengangguk. Ia merasa kagum terhadap diri pak Radit yang mampu menghadapi sikap suaminya yang terkadang suka tidak menentu. Usia pak Radit memang tidak jauh berbeda dari Gilang. Ia baru berumur sekitar 30 tahun, sama seperti pak Heru. Dan untuk masalah kesetiaan...mereka tidak perlu diragukan lagi. Baik pak Radit ataupun pak Heru, mereka adalah orang-orang yang selalu berpegang teguh pada prinsip kesetiaan.
'Huffhh...semoga pak Radit bisa membujuk mas Gilang.' bathin Mutiara.
Mutiara kembali menikmati kesejukan taman belakang yang ada di rumahnya.
***
Di lain tempat, ada Gilang yang sedang meluapkan semua kekesalannya pada seluruh staff karyawan yang ada di kantor. Ia terus saja memaki karyawannya lantaran merasa pekerjaan mereka tidak ada yang benar. Risma sebagai sekretaris yang paling terkena dampaknya. Hampir dalam setiap hitungan menit atau jam, ia dipanggil oleh Gilang hanya untuk mendapat makian.
Kelvin yang menyaksikan semua itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ia paham jika sudah seperti ini, maka kakaknya pasti sedang ada masalah dengan istrinya. Entah sejak kapan Gilang menjadi bucin karena cinta. Gilang akan banyak tersenyum bahkan bersikap ramah pada sekitarnya, apabila hubungannya dengan sang istri dalam keadaan yang manis. Namun...Gilang akan menjadi seperti orang kesetanan jika ia memiliki masalah dengan istrinya.
Tok...tok...tok...
Kelvin mengetuk pintu ruangan kakaknya.
"Masuk!!"
Kelvin menghela nafas panjang, kemudian masuk ke dalam ruangan Gilang.
"Kak Gilang sedang sibuk?" tanya Kelvin.
__ADS_1
Gilang mendongak, ia hanya tersenyum kecut.
"Sedikit, memangnya ada apa?" Gilang balik bertanya.
"Hmm...mm tidak ada apa-apa sih. Gue hanya mau ngajakin kakak untuk makan siang bareng aja," balas Kelvin.
Gilang nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan menerima ajakan Kelvin. Sepertinya ia membutuhkan seseorang untuk memberikan solusi dari permasalahannya. Dan Kelvin adalah orang yang paling tepat karena adiknya itu tahu apa yang menjadi pokok masalahnya.
Gilang dan Kelvin meninggalkan kantor, mereka akan makan siang bersama di restaurant yang letaknya tidak jauh dari kantor. Semua karyawan langsung menundukan kepala ketika Gilang & Kelvin yang melintasi mereka.
*Hahh... desah para karyawan.
"Hari ini si bos kenapa ya? kok bawaannya marah-marah mulu?" celetuk salah satu dari mereka.
"Mungkin lagi nggak dapat jatah kali dari istrinya," celetuk yang lainnya.
Mereka bisa sedikit bernafas dengan lega, setidaknya sampai satu jam ke depannya.
***
"Kak Gilang ada masalah apa? Gue lihat muka kakak sudah kanyak benang kusut sejak datang ke kantor tadi pagi," tanya Kelvin.
Gilang mendengus, ternyata Kelvin sudah bisa menebak jika ia sedang ada masalah.
"Kakak ipar elo lagi ngambek. Kemaren seharian gue didiemin sama dia," terang Gilang. Kelvin tertawa kecil.
Kelvin terdiam. Ia berusaha menahan tawanya.
"Memangnya kakak ngelakuin kesalahan apa, sampai-sampai membuat kakak ipar marah?" selidik Kelvin.
Kini giliran Gilang yang diam. Ia tidak masalah jika Mutiara berangkat ke sekolah. Gilang yakin bahwa istrinya mampu menjaga dirinya sendiri dan calon anaknya. Akan tetapi saat ini sutuasinya sedang tidak baik. Gilang tidak mau kalau Clarissa nekad menemui Mutiara di sekolahnya nantinya.
"Mutiara ingin berangkat ke sekolah tapi gue melarangnya. Gue hanya tidak mau kalau wanita ular itu sampai menemui Mutiara di sekolahnya," jelas Gilang.
Kelvin mulai paham dengan pokok permasalahannya saat ini. Ia mengerti akan kekhawatiran kakaknya pada sang istri. Clarissa memang nekad orangnya. Dia bahkan sanggup melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Namun Kelvin juga sangat yakin, Mutiara bukan-lah seorang wanita yang lemah. Ia bisa menjadi sosok yang tegar dan tangguh jika ada terjangan badai dalam hidupnya. Apalagi sekarang ada sebuah kehidupan baru di dalam rahimnya. Kelvin merasa bahwa Mutiara tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaan keluarganya, termasuk saudara kembarnya sendiri.
"Biarkan saja Mutiara pergi ke sekolah, aku yakin dia bisa jaga diri dengan baik! Kakak harus percaya akan kekuatan seorang perempuan yang akan menjadi seorang ibu!" Kelvin memberikan sarannya.
"Lagi pula-kan kakak bisa menyuruh para pengawal kakak untuk menjaga kakak ipar dari jauh," lanjut Kelvin.
Gilang membisu. Ia berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Kelvin benar adanya. Ia tidak perlu takut dengan Clarissa. Toh selama ini, wanita itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dan semua rencana licik dari Clarissa bisa diketahui dengan mudah oleh anak buahnya.
Gilang berterima kasih pada Kelvin. Berkat saran dari adiknya, sekarang Gilang tahu apa yang harus ia perbuat.
__ADS_1
***
Gilang memutuskan pulang lebih awal setelah mendapatkan kabar dari Radit bahwa Mutiara sedang melakukan mogok makan. Ia merasa khawatir jika itu akan mempengaruhi kesehatan Mutiara dan calon anaknya.
Setibanya di rumah Gilang langsung pergi ke kamar. Disana tampak Mutiara tengah meringkuk di atas tempat tidur. Gilang menghela nafas dengan kasar kemudian menghampiri Mutiara.
"Yank..." Gilang mengusap puncak kepala istrinya.
Mutiara bergeming. Ia masih pada posisinya. Gilang naik ke atas tempat tidur. Ia pun ikut berbaring seraya memeluk Mutiara dari belakang.
"Kamu boleh marah sama aku, yank. Tapi aku mohon jangan menyiksa diri seperti ini! Apa kamu tidak kasihan sama calon anak kita?" ujar Gilang berusaha mencairkan hati istrinya.
Mutiara masih diam. Ia tidak memberikan respon apapun pada Gilang.
"Baik-lah...kamu yang menang kali ini, aku tidak akan melarangmu lagi untuk pergi ke sekolah." Gilang akhirnya mengalah juga.
Mutiara tersenyum. Ia langsung membalikan badannya.
"Kamu serius-kan, yank?" tanya Mutiara ingin memastikan.
"Hmmm...aku serius, tapi dengan tiga syarat...."
"Syarat..." sela Mutiara.
Gilang mengangguk. Ia menoel hidung istrinya kemudian merengkuh Mutiara ke dalam pelukannya.
"Syarat yang pertama adalah kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri dan calon anak kita dengan baik," Gilang mulai menyebutkan syaratnya.
"Tanpa kamu minta pun aku pasti akan melakukannya, yank..." jawab Mutiara.
"Syarat yang kedua; jangan pernah melakukan komunikasi dengan orang yang baru kamu kenal. Apalagi bersikap terlalu baik padanya...."
"Emangnya kenapa, bukannya bersikap baik merupakan perbuatan yang terpuji?" Mutiara menyela.
"Yank...."
"Ok...Ok...aku juga setuju dengan syarat ini!" tukas Mutiara dengan cepat. Ia takut jika Gilang akan berubah pikiran.
"Syarat terakhir dan ini yang paling penting," Gilang menatap kedua mata istrinya dalam-dalam.
"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus berjanji akan terus memperjuangkan keutuhan rumah tangga kita. Dan tidak akan pernah melepas cinta kita untuk siapapun. Meskipun itu kepada saudaramu sendiri," imbuhnya kemudian.
"Itu sudah pasti yank. Aku akan selalu berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangga kita dan menjaga kesucian cinta kita," balas Mutiara.
__ADS_1
Mutiara sebenarnya merasa heran dengan syarat-syarat yang diajukan oleh suaminya. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Baginya yang terpenting saat ini adalah izin dari Gilang agar ia bisa kembali bersekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
Gilang merasa senang karena bisa melihat lagi senyuman manis yang mengembang di bibir Mutiara. Baru sehari ia tidak melihatnya tapi berasa seperti sudah bertahun-tahun lamanya. Gilang mengecup singkat kening istrinya, ia benar-benar merindukan Mutiara.