
#PERNIKAHANBEDAUSIA
Part 36
Usai menikmati hidangan makan malam dari ketinggian dari 125 meter. Gilang dan Mutiara langsung menuju ke Parc du Champs de Mars untuk menikmati pemandangan indah di malam hari. Taman ini terletak tepat di depan menara eiffel dengan sinar lampu menyinari taman sehingga menambah kesan keromantisan.
"Apakah istri kecilku bahagia hari ini?" tanya Gilang yang saat ini tengah berbaring dengan paha Mutiara sebagai bantalan.
"Hmm...aku sangat bahagia. Akhirnya mimpiku untuk mendatangi menara eiffel bersama orang yang paling aku cintai bisa terwujud. Dan itu semua berkat suamiku tercinta" cicit Mutiara
Gilang hanya tersenyum. Ia memalingkan muka menghadap ke perut istrinya. Menyingkap kaos Mutiara ke atas sedikit.
"Kira-kira kapan ya akan ada kehidupan baru di dalam sini?" guman Gilang. Ia menciumi perut sang istri. Mutiara menggeliat kecil karena merasa kegelian.
"Yank...geli akh..." protes Mutiara.
Gilang melongok ke atas. Menunjukan sebuah smirk khas dari bibirnya. Ia bangun dari tidurnya. Memilih duduk disamping istrinya. Mutiara tak mengerti, ia hanya menoleh ke arah sang suami. Dengan cepat Gilang menyambar bibir istrinya dan memberikan ******* kecil. Mutiara memukul dada bidang suaminya, ia mulai kehabisan pasokan oksigen.
"Kamu tuh ya...mau bunuh aku biar bisa cari wanita lain?" Mutiara melotot, tapi wajahnya merona karena malu.
Gilang terkekeh saja. Ia mengacak rambut istrinya.
"Mana bisa aku menggantikan istri mungilku ini dengan wanita lain," cuitnya kemudian.
Mutiara melengos, bibirnya sedikit mengerucut.
"Dasar raja gombal!" cicit Mutiara.
"Tapi cintakan?" goda Gilang.
"Tau akh..." Mutiara heran dengan sikap sang suami yang akhir-akhir ini rajin ngegombal.
Gilang tertawa kecil. Ia memeluk erat istrinya. Menikmati keindahan malam yang semakin larut. Suasana pun menjadi lebih romantis. Sesekali Gilang melayangkan kecupan kecil di wajah Mutiara.
****
Sementara di Indonesia, Clarissa merasa geram. Ia sama sekali tidak mampu menemukan keberadaan Gilang. Pria itu tengah pergi melakukan honeymoon bersama istrinya. Clarissa benar-benar dibuat kesal. Orang-orang suruhannya pun juga tidak bisa melacak keberadaan mereka. Gilang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Pria itu sudah memiliki banyak rencana untuk melindungi wanita yang menjadi istrinya. Bahkan untuk mengetahui bagaimana wajahnya saja Clarissa mengalami kesulitan.
"Sayang, kamu kenapa?" Mr. Steve memeluk erat Clarissa yang tengah berdiri di balcon apartement miliknya.
"Aku tidak apa-apa sayang, aku hanya ingin menikmati keindahan senja saja." Clarissa berbohong.
"Aku sangat merindukanmu sayang," bisik Mr. Steve tepat di telinga Clarissa.
Sudah seminggu lebih ia tidak mendapat pelayanan dari Clarissa. Selain ia sibuk, wanitanya pun sedang berhalangan juga.
"Apakah kita sudah bisa melakukannya sekarang?" tanya Mr. Steve.
Clarissa tidak menjawab. Ia tersenyum kemudian langsung menyerang kekasih gelapnya itu dengan ganas. Jujur saja, Clarissa juga sudah merindukan setiap sentuhan dari pria itu.
Tentu saja Mr. Steve merasa senang. Ia segera mengangkat tubuh Clarissa dan membawanya ke tempat tidur. Keduanya saling melu**** pakaian masing-masing. Hingga pada akhirnya melakukan penyatuan secara berulang-ulang.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana bisnismu dengan PT. Groub Agung Dirgantara?" selidik Clarissa di akhir aktivitas mereka.
"Ya...begitulah. Tidak mudah untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan PT. GAD. Mereka sangat teliti dalam memilah dengan perusahaan mana harus bekerja sama," terang Mr. Steve.
"Apa tidak ada cara lain untuk membujuk mereka?" Clarissa semakin penasaran.
"Tidak ada! PT. GAD adalah perusahaan yang terkenal sangat bersih, mereka tidak pernah melakukan kecurangan apapun dalam berbisnis. Jadi akan sangat sulit untuk bisa membujuk perusahaan itu." Mr. Steve menatap heran pada Clarissa. Tak biasanya wanita itu tertarik tentang bisnis.
"Tumben kamu tertarik tentang bisnis, apakah ada sesuatu yang sedang kamu rahasiakan dariku?" selidik Mr. Steve.
"Tidak ada sayang, aku hanya penasaran seperti apa perusahaan itu? Bukankah selama ini kamu selalu bisa menggaet rekan bisnis dengan mudah? Tapi kenapa kali ini sangat butuh waktu yang lama?" bohong Clarissa.
Mr. Steve tersenyum. Ia mengangkat dagu Clarissa kemudian menyambar bibir wanita itu dengan rakus. Mereka akhirnya melakukan percintaan panas lagi.
Clarissa sangat tahu jika seorang Steve bukanlah pria yang cukup melakukan percintaan hanya satu atau dua kali saja. Pria itu bahkan sanggup menggarap seorang gadis sampai di pagi hari. Itu sebabnya ia selalu menyiapkan stamina yang cukup untuk menghadapi Steve.
****
PARIS
Gilang tersenyum mendapati istrinya masih terlelap dalam dekapannya. Wajahnya yang polos seakan menampilkan senyuman manis yang terpancar dari bibirnya yang indah. Gilang menunduk, mengecup singkat bibir itu.
*Ughh.
Terdengar suara lenguhan kecil dari gadisnya.
"Yank, kamu udah bangun?" cuit Mutiara masih enggan membuka matanya. Ia menyeruak masuk ke dalam dekapan dan semakin menenggelamkan kepalanya ke dada bidang sang suami.
Gilang mengusap puncak rambut sang istri. Membiarkan dia tetap berada dalam posisinya. Mutiara pasti masih mengantuk, mengingat bahwa mereka baru tertidur dari 3 jam yang lalu.
Gilang mengeratkan pelukannya, ia ikut memejamkan kedua matanya kembali. Bukan untuk tidur melainkan memikirkan bagaimana caranya agar bisa menjauhkan sang istri dari ancaman saudara kembarmya. Mungkin sampai saat ini baik Mutiara maupun Clarissa sama-sama belum tahu tentang keberadaan masing-masing. Namun Gilang pun tidak bisa menjamin jika keduanya pasti akan berjumpa suatu saat nanti.
Gilang hanya takut jika Clarissa akan memanfaatkan kebaikan hati istrinya untuk mencapai tujuan gilanya.
"Mereka serupa, bahkan akan terasa sulit untuk dibedakan. Hanya hati mereka yang tidak sama. Clarissa adalah wanita licik dan gila harta seperti ibunya sedangkan Mutiara...Dia hanya gadis lugu yang berhati lembut. Aku yakin jika Clarissa bertemu dengan Mutiara, wanita itu akan dengan mudahnya memanipulasi keadaan yang ada. Aku harus berbuat sesuatu untuk melindungi istri kecilku ini" bathin Gilang.
Ia menciumi puncak rambut sang istri, seakan takut kehilangan gadis kecil yang ada dalam dekapannya saat ini.
-------------
Gilang dan Mutiara kini berada di restorant La Rotonde St. Honore. Mereka memesan menu breakfast. Sebenarnya sih bisa dibilang bukan breakfast lagi karena sudah mendekati jam makan siang.
Gilang masih terdiam asyik menyantap makanannya, sambil sesekali melirik ke arah istrinya yang masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah lantaran malu. Ada yang aneh dengan sikap istrinya pagi ini?
Mutiara terkesan lebih agresiff dari sebelumnya. Ia yang biasanya hanya bisa mengimbangi setiap permainannya. Tapi pagi ini...Gadis itu seolah yang memulai semuanya, meskipun pada akhirnya Gilang yang tetap memimpin permainan yang sudah mereka lakukan.
"Kok diam aja, kenapa nggak makan? Katanya tadi lapar?" Gilang memecah keheningan.
"Apa makanannya kurang enak?" tanya Gipang.
Mutiara menggeleng, ia masih saja menunduk tidak berani menatap muka suaminya. Ia meratuki setiap kebodohan yang sudah dilakukannya pagi ini. Suaminya pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
__ADS_1
Gilang mengangkat dagu Mutiara, tampak gadis itu memalingkan wajahnya.
"Kamu kenapa? Apa aku ada salah?" lirih Gilang pura-pura tidak tahu.
"Kamu tidak salah apa-apa yank, aku hanya merasa malu sama diriku sendiri atas apa yang sudah aku lakukan pag...." Mutiara tidak melanjutkan perkataannya. Wajahnya semakin merona saja.
Gilang terkekeh, ia semakin dibuat gemas dengan kelakuan istri kecilnya.
"Kenapa harus malu? Aku kan suamimu. Jadi sudah sewajarnya jika seandainya tiba-tiba kamu tergoda untuk melakukannya," ucap Gilang kemudian.
"Aku malah menyukai itu" bisik Gilang semakin membuat Mutiara merasa malu.
"Yank...." rengek Mutiara, ia memukul pelan lengan suaminya.
Gilang tertawa kecil. Ia menarik hidung istrinya.
"Sudahlah, sekarang dihabiskan makananmu! Habis itu kita akan berkeliling di kota impianmi ini," intruksi Gilang.
Mutiara mengangguk saja. Ia mulai memakan makanannya dengan lahap.
Usai dari restorant La Rotonde St. Honore, mereka berlanjut pergi ke Museum Louvre yang terkenal dengan lukisan Monalisa yang tersohor dan ikonik.
Ada beberapa beberapa jalur untuk memasuki museum tersebut. Namun yang lebih terkenal adalah melalui jalur piramida kaca. Walaupun harus melalui resiko mengantri panjang.
Gilang sedikit cemas, merasa takut istrinya kegencet karena berdesak-desakan. Ia akhirnya merangkul erat pinggang istrinya dan menatap sinis pada orang-orang yang berusaha mendahului mereka. Entah karena wajahnya yang terkesan dingin dan menakutkan atau memang mereka memuja ketampanannya, akhirnya orang-orang tersebut memilih mundur. Membiarkan Gilang dan Mutiara masuk terlebih dahulu.
Mutiara dan Gilang saat ini sudah berada di dekat lukisan Monalisa. Mutiara meminta suaminya agar mengambil beberapa gambarnya bersama lukisan tersebut sebagai kenang-kenangan bahwa ia pernah ke sini.
"Cantik ya, yank?" cuit Mutiara mengagumi keindahkan lukisan monalisa.
"Hm...Tapi lebih cantikan istriku," bantah Gilang.
"Kamu ya...paling bisa ngegombalnya," ledek Mutiara menarik hidung sang suami.
"Tapi kan ngegombalnya cuma sama istri," tukas Gilang lagi tak mau mengalah.
"Iya deh...terserah sama kamu, yank! Yang terpenting suamiku yang tampan ini bahagia." Mutiara berjalan mendahului suaminya.
Gilang terkekeh, ia pun langsung mengejar istrinya. Mereka berkeliling memutari museum untuk melihat karya seni lainnya. Dan tentunya Gilang masih merangkul pinggang istrinya dengan erat, untuk menunjukan bahwa gadis yang ada disampingnya adalah miliknya.
Apalagi ada beberapa pria yang ada di museum tersebut diam-diam telah menikmati kecantikan dari istri kecilnya. Sorotan tajam langsung ia berikan pada mereka. Gilang tidak suka jika ada pria memandang terlalu lama pada wanitanya.
π
π
π
Author up lagi ya
Maaf jika ada nama-nama tempat yang salah soalnya author ambil dari mbah gogle sama sosmed lainnyaπππ
__ADS_1