Pernikahan Beda Usia

Pernikahan Beda Usia
#PERNIKAHANBEDAUSIA_30 (REVISI)


__ADS_3

#PernikahanBedaUsia


Part 28


Mobil Gilang memasuki pekarangan rumahnya setelah melakukan perjalanan kurang lebih selama enam jam dari Bandung akibat adanya kemacetan tadi. Ia tersenyum ketika menoleh ke arah istrinya yang tengah tertidur dengan nyenyak. Dia pasti sangat lelah, pikir Gilang.


Gilang turun dari mobil dan menekan bel rumah. Tak lama mbak Laras, sang ART pun muncul membukakan pintu. Gilang meminta sang pelayan untuk membawakan barang-barang mereka yang ada di dalam mobil. Sementara dia sendiri...membopong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.


Mbak Laras sebagai asisten rumah tangga semakin kagum dengan tuannya. Meskipun sikapnya sangat dingin apabila berhadapan dengan orang lain, namun dia selalu bersikap lembut pada sang istri.


"Non Mutiara sangat beruntung bisa mendapakan suami seperti tuan muda," ucap mbak Ratna dalam hati.


Ia mulai mengambil barang-barang milik majikannya kemudian diantarkan ke dalam kamar mereka.


"Maaf tuan, apakah malam ini saya harus menyiapkan malam?" tanya mbak Laras.


"Hmmm..." Gilang tampak berpikir sejenak.


"Sepertinya kami akan malam di rumah saja, masaklah!" ucap Gilang kemudian.


"Baik tuan," Mbak Laras keluar meninggalkan kamar majikannya.


Sebenarnya Gilang ingin mengajak Mutiara untuk makan di luar. Tapi setelah melihat bagaimana istrinya yang tertidur dengan sangat nyenyak, Gilang akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tidak tega jika harus melihat Mutiara kelelahan.


Gilang mengusap puncak rambut istrinya, kemudian turut berbaring disampingnya. Ia memiringkan tubuhnya dan memeluk erat istrinya. Jujur saja ia pun merasa sangat lelah akibat jalanan yang macet tadi. Tak lama setelah itu mata Gilang ikut terpejam menyusul Mutiara ke alam mimpinya.


......


Di lain tempat, duduklah seorang gadis dengan dandanan yang sangat modis dan elegant. Ia memakai pakaian yang sangat seksi hingga mempertontonkan bagaimana bentuk lekuk tubuhnya yang sangat indah. Banyak kaum hawa sudah menatap buas ke arahnya, mereka seolah-olah ingin menerkam sang gadis.


"Hallo manis, maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama?" seorang pria yang sudah cukup umur menghampiri gadis itu. Tanpa ada rasa malu pria itu langsung mengecup singkat bibir sang gadis.


"Tidak masalah, sayang. Aku bisa memahami bahwa kau adalah pria yang sangat sibuk," cicit gadis itu sambil memainkan gelas yang ada di tangannya.


Gadis itu tak lain adalah Clarissa. Ia datang ke Indonesia bersama seorang pria yang berasal dari Amerika, Mr. Steve Juliano. Sudah setahun ini Clarissa menjadi kekasih gelap dari Mr. Steve Juliano yang notabandnya seorang pengusaha yang sukses di negaranya. Namun sayangnya pria itu sudah memiliki seorang istri dan dua orang anak yang terbilang masih sangat kecil-kecil.


Mr. Steve sebenarnya sudah mulai mencintai Clarissa, tapi sayangnya dia belum berani untuk mengikat gadis itu. Ia tidak bisa menikahi Clarissa lantaran istrinya pun memegang kendali atas perusahaan yang sedang ia pimpin saat ini. Tuan Steve takut jika istrinya akan mengambil semua saham milik keluarganya saat ia mengetahui dirinya menjalin hubungan dengan wanita lain.


Clarissa sendiri merasa tidak keberatan selama hidupnya bisa tercukupi dengan baik dan apapun yang menjadi keinginannya bisa dipenuhi oleh Mr. Steve.

__ADS_1


Akan tetapi setelah Clarissa ikut bersama dengan Mr. Steve ke Indonesia, Clarissa dibuat kaget oleh sosok Gilang yang ternyata putra sulung dari perusahaan besar PT. Groub Agung Dirgantara yang memiliki cabang dimana-mana, bahkan sampai internasional. Selama ini Gilang tidak pernah mengatakan tentang jati dirinya. Ia selalu berkata bahwa ia hanyalah anak seorang pengusaha dari perusahaan yang baru saja berkembang.


Clarissa yang saat itu mulai terpengaruh dengan sifat ibunya yang matre, berusaha mencari cara untuk memutuskan Gilang melalui adiknya. Clarissa terus menggoda Kelvin sampai akhirnya berhasil memecah hubungan persaudaraan antara kedua kakak-beradik itu. Gilang sangat marah dan langsung memutuskan hubungan mereka.


Tentu saja Clarissa merasa senang karena itu adalah tujuannya. Dengan begitu ia bisa mendapatkan pria yang lebih segala-galanya dari Gilang. Namun saat ini Clarissa menyesal setelah tahu siapakah Gilang yang sebenarnya. Clarissa ingin merajut kembali hubungan yang pernah terpisah. Ia tidak perduli jika Gilang telah menikah, Clarissa akan terus mencoba untuk membuat Gilang kembali kepadanya. Clarissa sangat yakin jika pria itu masih sangat mencintainya.


"Manis, kamu kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Mr. Steve heran melihat kekasihnya lebih banyak melamun. Biasanya Clarissa adalah gadis yang aktif dalam merayu dirinya untuk sekedar meminta sesuatu.


"Oh...Aku baik-baik saja, sanyang. Aku hanya merasa bosan karena kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu," Clarissa berkilah.


"Maafkan aku manis, aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Tapi Client kali ini bukanlah Client sembarangan. Jadi tidak mudah bagiku untuk membujuk mereka agar bersedia bekerja sama dengan perusahaanku, " jelas Mr. Steve


"Apakah aku perlu membantumu, sayang?" cuit Clarissa menawarkan diri.


"Mungkin sebelum dia memiliki istri, kamu bisa menolongku. Tapi tidak untuk saat ini! Setelah menikah, Tn. Gilang sangatlah setia pada istrinya. Dia tidak pernah bermain-main dengan wanita manapun, " ucap Mr. Steve. Ia tahu bentuk bantuan yang akan diberikan oleh kekasihnya.


Clarissa memang sering menolong MR. Steve dalam menaklukan hati para Clientnya.


"Gilang? Maksudmu adalah Alvian Gilang Dirgantara?" selidik Clarissa.


"Iya, kamu mengenalnya?"


Clarissa tidak menjawab. Ia tersenyum bahagia karena memiliki jalan untuk mendekati mantan kekasihnya lagi.


Β 


Mutiara tahu kalau saat ini ia telah berada di dalam kamar, dan suaminya lah yang sudah memindahkan dirinya dari mobil hingga ke kamar. Gilang selalu seperti ini, ia tidak pernah tega jika harus mengganggu tidurnya yang lelap.


'Terima kasih suamiku karena kamu sudah rela menggendongku sampai kamar,' lirih Mutiara, ia mengecup kening Gilang.


Dengan sangat hati-hati Mutiara mulai memindahkan tangan suaminya. Ia pun tidak ingin mengganggu tidur Gilang yang terasa nyaman dan nyeyak.


"Mau kemana yank?" tanya Gilang dengan suara puraunya. Ia kembali memeluk erat tubuh mungil dari istrinya


"Maaf yank, apa aku sudah mengusik tidurmu? Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri saja," jelas Mutiara.


Gilang menggeleng, matanya masih terpejam seakan enggan untuk membukanya. Ia melepaskan pelukannya. Membiarkan Mutiara untuk pergi ke kamar mandi.


Mutiara tersenyum dan segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Pukul 19.30 WIB


Mutiara melirik jam dinding yang menempel di atas pintu kamar mandi.


Pantas saja jika perutnya sudah keroncongan. Jam makan malam pun hampir terlewatkan karena keasyikan tidur.


Mutiara mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Ia memutuskan mandi menggunakan shower saja agar lebih cepat. Ia ingin tahu apakah mbak Laras sudah memasak untuk makan malam atau belum?


Usai mandi Mutiara segera keluar, ia hanya mengenakan kimono handuk lantaran lupa membawa pakaian ganti. Terlihat kamar sudah terang, dan Gilang pun tengah menyandarkan diri di headboard tempat tidur. Pria itu menoleh dan memperhatikan istrinya dari atas hingga ke bawah. Mutiara hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


"Yank, apakah kamu sedang ingin menggodaku?" cuit Gilang menaik-turunkan kedua alisnya.


"Emm...tadikan kamar dalam keadaan gelap, jadi aku lupa ambil pakaian ganti. Maaf ya yank...?" jujur Mutiara. Ia buru-buru menuju lemari pakaiannya.


Gilang tersenyum licik, ia beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri sang istri.


"Yank...tubuhmu sangat harum," cuit Gilang memeluk Mutiara dari belakang kemudian menenggelamkan wajahnya ke dalam curuk leher istrinya.


"Aku kan baru selesai mandi yank," tukas Mutiara. Ia memilih setelan piyama.


Gilang membalikan badan istrinya hingga berhadapan dengan dirinya. Ia langsung menyambar bibir manis Mutiara hingga piyamanya terjatuh ke lantai. Mereka kembali ber******.


Gilang yang awalnya lembut kini berubah menjadi lebih menuntut. Ia membawa istrinya ke tempat tidur dan mereka melakukan hubungan yang panas hingga mencapai keindahan surga dunia.


Gilang hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya ketika melihat bibir istrinya mengerucut dengan sempurna. Ia merasa gemas seakan ingin menyambarnya untuk ke sekian kalinya. Namun semua itu terpaksa ia tahan karena saat ini Mutiara tengah marah kepadanya. Gara-gara ulahnya yang tidak mampu menahan diri, kini mereka harus makan dijam sepuluh malam. Untung saja mbak Ratna tadi sudah memasak, walaupun sudah dingin dan harus dipanaskan lagi. Tapi setidaknya mereka tidak harus menunggu lama untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.


"Yank, udah donk ngambeknya! Tadi kan bukan murni kesalahanku. Kamu sendiri yang mulai menggodaku," cuit Gilang.


Mutiara melirik ke arah suaminya. Ia semakin kesal saja kepada Gilang yang tidak mau mengakui kesalahannya. Kalau cuma sekali mah tak masalah, tapi ini sampai berkali-kali.


"Yank...."


Mutiara masih terdiam tidak mau menanggapi rengekan dari suaminya. Tidak ada salahnya sesekali memberinya sedikit pelajaran. Toh selama ini Gilang selalu bersikap seenaknya sendiri. Mutiara tertawa dalam hati, ia tak kuasa melihat wajah suaminya yang terkesan sangat lucu ketika sedang merengek lanyaknya anak kecil.


**Author udah up lagi ya,


jangan lupa untuk like, kasih saran dan kritiknta di kolom kementar dan kasih votenya ya


terima kasih

__ADS_1


salam dari AuthorπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜**


Β 


__ADS_2