
PERNIKAHAN BEDA USIA
PART 62
***
Waktu berjalan dengan begitu cepat. Dua minggu seakan tidak cukup bagi kedua insan manusia yang tengah dimabuk asmara dalam menghabiskan waktu bersama. Mutiara hanya bisa tersenyum simpul melihat Gilang memasukan pakaian ke dalam koper sambil memonyongkan bibirnya. Gilang ingin menambah waktu liburan, akan tetapi Mutiara menolak. Mutiara ingin segera kembali ke Jakarta demi bertemu dengan putra angkatnya. Hal itu menimbulkan rasa kecemburuan di hati Gilang. Meskipun Azka hanya anak kecil namun tetap saja bocah itu mampu mengambil perhatian istrinya.
"Ee..hemmm..." Mutiara berdehem
Gilang menoleh kecil kemudian kembali fokus pada tumpukan pakaian yang sudah tersusun rapi di dalam koper.
"Yank..." panggil Mutiara.
"Apa?" Gilang menutup koper kemudian menaruhnya di tepi ranjang.
"Kamu marah ya?" tanya Mutiara menampilkan wajah sendunya.
Gilang menghela nafas. Ia tidak sanggup kalau harus melihat wajah istrinya berubah menjadi sendu.
"Aku tidak marah yank, aku hanya sedikit kecewa karena tidak bisa menghabiskan waktu berdua lebih banyak lagi bersama dengan dirimu" jujur Gilang.
"Maksudnya? Bukankah selama ini kita selalu menghabiskan waktu bersama?" Mutiara sedikit kebingungan.
Lagi-lagi Gilang hanya bisa menghela nafas panjang. Mutiara ini benar-benar tidak peka dengan keadaan sekitarnya. Semenjak memutuskan untuk mengangkat Azka menjadi anak, perhatian Mutiara sudah terbelah menjadi dua. Ini baru ada Azka, bagaimana jika nanti Mutiara sudah melahirkan anak mereka sendiri. Perhatian Mutiara kepada Gilang pasti akan semakin berkurang. Baru membayangkan-nya saja Gilang sudah kalang kabut, apalagi kalau benar-benar sampai kejadian. Gilang pasti akan semakin tersiksa.
"Kalau di rumah kan ada Azka, yank?" Gilang duduk di samping Mutiara.
Mutiara terkikik, menahan agar tawanya tidak pecah.
"Kami cemburu sama Azka, yank?" ujar Mutiara.
"Bukan cemburu, tapi merasa diabaikan!" sergah Gilang.
"Sama aja yank, itu cemburu!" Mutiara menyandarkan kepalanya di bahu Gilang.
"Yank, Azka itu hanya anak kecil. Dia butuh perhatian yang lebih dari kita. Kamu sendiri juga tahu kan kalau ibu kandungnya dengan sengaja sudah menjualnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Azka jika suatu hari nanti dia mengetahui semua ini? Hatinya pasti hancur. Itu sebabnya aku ingin memberikan kasih sayang yang tulus agar dia tidak merasa kekurangan kasih sayang dari seorang ibu" jelas Mutiara.
Gilang menatap lekat kedua mata Mutiara. Ia semakin dibuat kagum dan merasa jatuh cinta pada istrinya itu. Memang Mutiara wanita idaman bagi setiap lelaki. Bagi Gilang tidak ada seorang pun wanita yang dapat menandingi Mutiara.
"Kamu memang wanita terhebat yang pernah aku temui sayang, aku benar-benar bangga bisa memilikimu sebagai istriku. Aku rela menaruhkan nyawa asal kamu tetap bahagia dan baik-baik saja" bathin Gilang tanpa mengalihkan tatapan matanya.
"Yank..." panggil Mutiara membuyarkan lamunan Gilang.
"Ehh..iya.." Gilang gugup.
"Pasti ngelamun ya?" tebak Mutiara.
"Siapa yang ngalamun? Aku hanya ingin melihat wajah cantik istriku saja" gombal Gilang yang langsung membuat pipi Mutiara merona.
__ADS_1
"Udah ah...ayo kita tidur, besok pagi-pagikan harus ke bandara!" cuit Mutiara mengalihkan pembicaraan. Ia tahu apa yang akan terjadi jika gombalan Gilang dibiarkan terus berlanjut.
"Yank..." Giliran Gilang yang merengek tapi Mutiara pura-pura tidak mengindahkan. Mutiara malah berbaring memunggungi Gilang sambil tersenyum sendiri.
"Tuhkan dicuekin lagi..." sungut Gilang akhirnya ikut berbaring disamping istrinya.
Dan tak lama kemudian keduanya memejamkan mata, berkelana bersama ke alam mimpi demi menyambut hari esok yang lebih indah.
***
Elvina ditemani oleh sang mami dan Azka, mengitari mall demi mencari segala sesuatu untuk menyambut status barunya sebagai mahasiswa. Elvina tidak ingin terlihat seperti anak ABG lagi. Ia ingin menunjukan pada semua orang bagaimana sifat asli dari putri bungsu keluarga Dirgantara. Elvina malas jika harus selalu dikenal sebagai anak manja yang berlindung dibawah ketiak nama keluarga. Elvina ingin seperti kedua kakaknya yang mampu membesarkan namanya sendiri tanpa harus ada embel-embel Dirgantara.
"Vina, lihat ini sepertinya sangat cocok denganmu!" bu Meisya menunjukan sebuah dress warna merah pada Elvina.
"Hmmm...bagus sih Mi, tapi aku kan sudah banyak memiliki dress. Aku tuh mau cari pakain yang pas dan nyaman dipakai pas kuliah nanti." Elvina menolak secara halus.
"Udah nggak apa-apa, kan bisa disimpan dulu! Nanti kalau mau kencan sama si yayank, kamu kan bisa memakainya!" bu Meisya mengedip-ngedipkan mata untuk menggoda putri bungsunya.
"Ihhhh...mami apaan sih" Elvina malu pasalnya pernah kepergok langsung sama maminya ketika sedang asyik berkencan dengan sang kekasih.
"Udah nggak usah malu, mami setuju kok kalau putri mami ini pacaran sama Arif!" tutur bu Meisya membuat Elvina merasa senang.
"Makasih ya Mi..." Elvina memeluk bu Meisya.
"Tapi Mi, bagaimana dengan kak Gilang? Dia kan..."
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang kakakmu itu! Kita masih punya pawang yang bisa mengatasi dia nanti!" bu Meisya menyela.
Elvina tidak perlu harus takut atau menyembunyikan hubungan asmaranya dari sang kakak tertua. Selama Elvina memiliki dukungan dari dua wanita yang disegani oleh Gilang, maka kakaknya itu juga tidak akan bisa menghalangi dirinya untuk tetap berpacaran dengan Arif.
***
"Selamat malam tuan..." sapa para pelayan menyambut pak Bayu dan Kelvin yang baru pulang dari kantor.
"Malam...rumah kok sepi? Dimana Nyonya sama Elvina?" tanya pak Bayu yang tidak melihat istrinya menyambut kepulangannyan.
"Nyonya sama Non Elvina sedang pergi berbelanja tuan" jawab pelayan.
"Belanja? Sejak tadi siang?" pak Bayu terlihat geram.
Para pelayan hanya mengangguk saja, takut kalau majikan besar mereka akan murka.
Bu Meisya memang sudah izin akan berbelanja tadi siang. Akan tetapi pak Bayu tidak menyangka jika mereka akan berbelanja hingga malam.
"Azka dimana bik?" tanya Kelvin kemudian.
"Den Azka dibawa Nyonya sama Non Elvina, Den" jawab pelayan lagi.
Pak Bayu dan Kelvin hanya bisa mendengus kesal. Mereka tidak habis pikir kenapa wanita sangat hobi dalam hal berbelanja. Bahkan sampai berjam-jam lamanya.
__ADS_1
"Lihat lah kelakuan mami-mu Kelvin! Sering lupa waktu kalau sudah berbelanja" gerutu pak Bayu pada putra keduanya.
"Tapi papi cinta kan?" ledek Kelvin.
Pak Bayu melotot. Semakin bertambah kesal karena Kelvin terus meledeknya.
"Berhenti meledek Papi, Kelvin! Nanti kalau kau sudah bertemu dengan seorang gadis yang bisa menakhlukan hatimu, barulah kamu bisa memahami papi-mu ini" protes pak Bayu.
Kelvin berhenti tertawa. Mungkin benar laki-laki dari keluarga Dirgantara tidak pernah tunduk pada siapa pun dan untuk dalam hal apa pun. Tapi mereka akan bersikap lembut serta mengalah pada wanita yang akan menjadi pasangannya.
"Maaf Pi..." cuit Kelvin.
"Sudahlah sebaiknya kita membersihkan diri dulu, baru makan malam! Rasa-rasanya Papi sudah sangat kelaparan" ujar pak Bayu yang langsung mendapat anggukan dari Kelvin.
***
BUGGHHH
"Aww...sakit...ehh kalau jalan bisa hati-hati nggak sih? Main nabrak aja!" gerutu seorang gadis.
"Maaf ya mba, saya jalannya sudah benar tapi mbaknya aja yang meleng! Jalan kok sambil maen handphone!" balas seorang gadis lainnya.
"Vina, kamu kenapa sayang?" tanya bu Meisya menghampiri kedua wanita itu.
"Ini Mi, biasa ada seorang wanita yang tidak tahu diri nabrak Vina tapi malahan ngomel nggak jelas! Padahal kan dia yang salah, jalan kok sambil maen handphone!" jawab Elvina melirik kesal kearah wanita tersebut.
Wanita itu melongok ke atas. Ia kaget ketika tahu siapa yang ditabraknya.
"Akh...kenapa gue bisa be** sih! Dia kan adiknya Gilang!" ujar wanita itu dalam hati sambil menepuk dahinya sendiri.
"Ekh...elo Vin, sorry gue nggak tahu?" ucap wanita itu berusaha berdiri. Mengusap bokongnya yang terasa ngilu secara berkali-kali dan menampilkan senyuman yang dirasa cukup manis.
"Renata...kamu Renata kan?" tanya bu Meisya tampak ragu-ragu.
"Iya tante, bagaimana kabar tante dan keluarga?" Renata meraih tangan bu Meisya agar bisa menyalaminya, akan tetapi langsung ditepis oleh bu Meisya.
"Sangat baik sejak anak sulungku mengambil keputusan untuk menikahi seorang gadis baik-baik!" jawab bu Meisya dengan ketus. Ia merasa jijik dengan Renata yang bermuka dua.
Renata mengepalkan tangan. Ia berusaha sekuat tenaga agar emosinya tidak memuncah.
"Tante yakin dia gadis baik-baik?" sindir Renata.
"Sangat yakin bahkan seribu persen aku percaya bahwa menantuku adalah gadis baik-baik! Apalagi saat ini Gilang bahkan sudah berubah menjadi lebih baik karena menikah dengan menantuku itu!" ucap bu Meisya panjang lebar.
Elvina tersenyum tipis tatkala melihat kekesalan pada wajah Renata. Wanita itu seakan sudah siap akan mengeluarkan tanduknya.
"Sudahlah Mi, untuk apa ngeladeni orang yang nggak penting macam dia! Lebih baik kita pulang, Papi dan kak Kelvin pasti sudah pulang dari kantor!" ajak Elvina.
Bu Meisya mengangguk. Mendorong kembali stroller yang ditumpangi oleh Azka dan pergi meninggalkan Renata dalam kekesalan.
__ADS_1
"Akh...dasar wanita tak guna semua! Awas saja setelah gue berhasil nakhlukin hati Gilang, hal pertama yang akan gue lakukan adalah membuat mereka bertekuk lutut untuk mencium kaki gue!!" gumam Renata dengan rasa kebencian yang begitu besar.